Cerpen Bertema Kejujuran

"Permisi.. Selamat siang," terdengar ketukan dan suara seorang lelaki dari pintu depan.
Lisa, lalu datang untuk membukakan pintu, "Ya.. Cari siapa ya pak?"
"Apa benar ini rumah bapak Rudi Santoso?" tanya lelaki yang tampak cukup berumur itu.
"Benar. Ada apa ya pak? Mari silahkan duduk," seru Lisa mempersilahkannya untuk duduk di kursi teras.

Lelaki itu duduk, lalu menjelaskan maksud kedatangannya, "Pagi tadi saya menemukan mobil saya dalam keadaan terbaret, dibagian pintu depan. Saya bermaksud ingin menemui anak ibu, untuk sedikit memberinya pelajaran."

"Maaf pak, bagaimana bapak bisa tahu kalau anak saya pelakunya?" tanya Lisa memastikan atau setidaknya lelaki itu memiliki bukti.

"Saya temukan ini, mungkin anak ibu memang sengaja meninggalkannya, makanya saya langsung datang ke sini," ungkap lelaki tersebut.

Lisa menghela napas panjang, "Maaf pak, bisa saya lihat goresan di mobilnya?"

Lalu lelaki paruh baya itu mengajak Lisa menuju luar gerbang dan di saat yang sama, Rudi, suami Lisa pun datang, dan menghampiri mereka.

"Ada apa sayang?" tanyanya sedikit panik.

"Ini mas, Alvin.." belum sempat Lisa menjelaskan, namun lelaki itu terkejut setelah melihat kedatangan Rudi.

"Rudi?" serunya.
Rudi pun tampak terkejut, "Pak Siswanto? MasyaAllah, pak Sis, apa kabarnya pak?" Rudi lalu menyalami dan memeluk lelaki itu.
"Rudi Santoso itu ternyata kamu toh. Wajah kamu tidak banyak berubah ya, Rud. Hebat ya kamu sekarang. Punya istri cantik, dan rumah mewah ini. Bapak bangga sama kamu Rud," ungkap pak Sis bahagia.

"Alhamdulillah pak. Mari masuk pak, sebaiknya kita ngobrol di dalam," ajak Rudi.

Lisa tampak bingung, dan belum ingin menjelaskan kejadian itu pada suaminya.

Pak Siswanto adalah guru Rudi semasa ia duduk dibangku SMA. Rudi memang terkenal aktif saat sekolah dulu. Ia juga merupakan ketua OSIS dan pernah menjadi anggota paskibra. Pak Siswanto sendiri adalah guru kesenian, seni musik dan seni lukis. Beliau sudah mengajar lebih dari 20 tahun, dan dikenal sangat tegas serta peduli pada siswanya jika sedang dalam kesulitan.

Pertemuan itu merupakan pertemuan pertama mereka setelah satu dekade, sejak Rudi memutuskan untuk merantau ke negara tetangga saat lulus SMA dan melanjutkan study-nya di sana. Sampai akhirnya ia kembali lagi ke Indonesia untuk membangun bisnis digital bersama beberapa rekannya.


"Bapak masih mengajar?"
"Masih, tapi hanya sampai bulan depan, karena saya mau pindah ke Kalimantan, beserta dengan keluarga besar," cerita pak Sis.
"Wah, ibu kota belum pindah, tapi bapak sudah pindah ke sana duluan ya, haha.."
"Hahaha.. Iya betul, setidaknya cari tempat dululah di sana, sebelum penuh dengan warga rantauan lain nantinya."

Tawa pun memecah suasana hangat siang itu.

Obrolan demi obrolan terus berlanjut. Sampai pak Sis mengingat mengapa ia bisa datang ke rumah muridnya itu.

"Oh ya, sebelumnya saya mau minta maaf sama istri kamu, karena tadi saya datang dengan marah-marah. Harusnya saya tidak melakukan hal itu. Lupakan saja ya, saya tidak akan mempermasalahkannya lagi. Sudah beres. Case closed!" tegas pak Sis.

"Nggak apa-apa kok pak," ucap Lisa, dan lalu melirik Rudi.

"Memangnya kenapa pak?"

Lisa lalu memberikan secarik kertas tadi kepada Rudi, "Karena ini mas," dan Rudi pun membacanya.

"Saya menyesal karena sudah bersikap emosi. Harusnya saya apresiasi niat baik dan kejujuran putra kalian. Kalian berhasil menjadi orangtua yang hebat," ungkap jujur pak Sis.

"Ini semua karena didikan bapak juga waktu sekolah dulu," lanjut Rudi.

"Sebagai permintaan maaf kami juga, saya harap bapak bersedia untuk tinggal sejenak dan makan malam bersama kami, ya mas," Rudi mengangguk, sangat menyetujui penawaran sang istri.

Tanpa pikir panjang, Pak Sis pun sepakat dengan ajakan keluarga kecil itu.

***

"Yah, bu, Alvin pergi dulu, assalamu'alaikum," pamit Alvin.

Seperti biasa di jam 7 pagi, Alvin dan Niko, berangkat bersama menuju sekolah. Mereka adalah sahabat baik, bertetangga pula, namun, berbeda kelas. Alvin yang berada di kelas 6A, dan Niko yang menempati kelas 6C. Untuk lebih cepat sampai ke sekolah, mereka biasanya melewati jalan pintas. Sebelum sampai di sekolah, Niko mengajak Alvin untuk melakukan balapan sepeda. Sekitar kurang lebih 20 meter lagi untuk sampai ke gerbang sekolah.

"1, 2, 3!" hitung Niko.

Melajulah mereka hingga ujung gang. Namun, sebelum sampai di gerbang sekolah, sebuah insiden terjadi. Alvin merasa terkejut saat ada sepeda motor yang melaju kencang dari arah belakangnya, bahkan hampir saja menyerempetnya. Beruntung, Alvin mengerem sepedanya dengan cepat. Walau akhirnya ia terjatuh juga. Namun, saat ia jatuh, stang sepedanya menggores pintu mobil yang terparkir dalam gang tersebut.

"Kamu nggak apa-apa Vin?" Niko lalu menghampiri Alvin, padahal ia sudah sampai di gerbang sekolah.

"Wah, bahaya nih," ucap Alvin.

"Kenapa Vin?" Niko lalu melihat ke arah yang Alvin lihat, "Wah, bencana. Ayo, kabur aja Vin, mumpung nggak ada yang lihat, ayo cepaatt.." Niko lalu bergegas menaiki sepedanya dan menuju gerbang sekolah.

Alvin masih terpaku pada goresan di mobil merah itu. "Apa yang harus aku lakuin sekarang?" batinnya bergumam.

Akhirnya, ia mengambil sebuah pulpen dan merobek kertas kosong dalam buku tulisnya. Ia lalu menulis dengan cepat.

"Bapak/Ibu pemilik mobil merah ini. Maafkan saya karena telah menyebabkan goresan di mobil ini saat saya terjatuh dari sepeda. Ini alamat rumah saya, Jl. Pemuda No. 11. Atau telepon ke nomor ayah saya 081234567890 (Rudi Santoso). Terima kasih, Alvin."


Cerpen ini diikutsertakan minggu tema komunitas

Gif: tenor.com