Cerpen: Dan Ternyata

Pretty Black Cat

Cerpen: Dan Ternyata



Cerpen remaja romantis: Dan ternyata

Perpisahan ini akan menjadi hal tersedih yang kurasakan. Belum melihatnya saja mataku sudah berkaca-kaca. Aku benar-benar ingin memeluknya erat, dan tak ingin ku lepas.

Dia yang telah lama aku kenal. Dia yang telah lama menjadi pendengar setiaku dikala hatiku kacau balau, walaupun seringnya aku bercerita tentang masalah-masalah tak penting yang aku besar-besarkan.

Dia yang selalu sabar menghadapi sikap kekanak-kanakanku. Keegoisku yang sering kali membuatnya kesal. Tapi aku senang sekali dengan pembawaannya yang tenang. Kalimat-kalimat nasehatnya yang selalu manjur buatku patuh dan luluh.

Aku yang selalu telat datang ketika kami janjian. Tapi aku yang selalu buat dia terkejut, ketika dengan sengaja memberinya hadiah-hadiah lucu, padahal bukan hari ulang tahunnya. Dan dia tahu kalau itu adalah permintaan maafku yang selalu saja dia terima.

Dia yang selalu kutunggu untuk sekedar mengajaknya makan diwarung lalapan. Dia tak pernah mengeluh. Dia tak pernah gengsi. Dia juga tak banyak gaya. Dia tak suka dandan, tidak seperti kebanyakan gadis zaman sekarang.

Dia yang suka bernyanyi dengan iringan gitarku. Bahagia rasanya mendengar suaranya yang merdu dan syahdu. Di teras rumahnyalah kami selalu menadakan banyak lagu. Dengan secangkir coklat panas lengkap dengan camilan yang dia buat.

Dia yang sungguh kuat berjuang untuk menghidupi dan merawat adik perempuannya. Karena kedua orangtuanya telah pergi kehadapan sang kuasa, semenjak dia dan adiknya menginjak usia 23 dan 15 tahun.

Dia yang selalu terlihat cantik dengan balutan hijab yang selalu senada dengan warna gamisnya. Dia yang selalu mengingatkanku untuk sholat lima waktu dan ibadah-ibadah lain. Dia memang sesosok idaman untuk dijadikan istri.

"Yoga, kamu kenapa melamun? Masih mikirn hal yang sama?" aku yang duduk termenung di teras depan rumah dikagetkan oleh ibu.

Ibu lalu duduk disampingku, "Coba ibu tanya sama kamu, seberapa siap kamu ngelakuin ini semua?" tanya ibu.

Aku berpikir terlalu lama, sehingga ibu melanjutkan omongannya, "Jangan terlalu banyak mikir. Kaliankan sudah kenal lama. Kamu harus berani jujur sama dia. Ibu yakin, dia pasti mau nerima keputusanmu."

Aku memang sudah yakin ingin mengakhiri hubungan persahabatanku dengan Niar. Cukup sudah. Aku tak ingin lebih mengingat kenangan indah bersamanya. Aku seperti menahan tetesan air mata yang hendak terjatuh. Setelah satu kalimat penting yang aku ucapkan padanya. Dan dia terlihat haru, dan ingin menjawab pertanyaanku.

"Yoga, kita udah lama kan sahabatan. Kamu yakin mau mengakhiri ini semua?" seru perempuan indah ini.

Aku mengangguk yakin, "Kamu mau kan jadi istriku?" aku bertanya untuk kedua kalinya.

"Aku mau Ga, aku mau.." jawab tulus Niar.

Dan akhirnya kami memutuskan untuk menggantungkan status persahabatan kami menjadi sepasang suami istri yang bahagia.

Gif: jagad.id


Posting Komentar

0 Komentar