
Dia yang telah lama aku kenal. Dia yang telah lama menjadi pendengar setiaku dikala hatiku kacau balau, walaupun seringnya aku bercerita tentang masalah-masalah tak penting yang aku besar-besarkan.
Dia yang selalu sabar menghadapi sikap kekanak-kanakanku. Keegoisanku yang sering kali membuatnya kesal. Tapi aku senang sekali dengan pembawaannya yang tenang. Kalimat-kalimat nasehatnya yang selalu manjur buatku patuh dan luluh.
Aku yang selalu telat datang ketika kami janjian. Tapi aku juga yang selalu buat dia terkejut, ketika dengan sengaja memberinya hadiah-hadiah lucu, padahal bukan hari ulang tahunnya. Dan dia tahu kalau itu adalah permintaan maafku yang selalu saja dia terima.
Dia yang selalu kutunggu untuk sekedar mengajaknya makan diwarung pinggir jalan. Dia tak pernah mengeluh. Dia tak pernah gengsi. Dia juga tak banyak gaya. Dia tak suka dandan, tidak seperti kebanyakan gadis zaman sekarang.
Dia yang suka bernyanyi dengan iringan gitarku. Bahagia rasanya mendengar suaranya yang merdu dan syahdu. Di teras rumahnyalah kami selalu menadakan banyak lagu. Dengan secangkir cokelat panas lengkap dengan camilan yang dia buat, pisang gorang, kesukaanku.
Dia yang sungguh kuat berjuang untuk menghidupi dan merawat adik perempuannya. Karena kedua orangtuanya telah pergi kehadapan Yang Kuasa, semenjak dia dan adiknya menginjak usia 22 dan 15 tahun.
Dia yang selalu terlihat cantik dengan balutan hijab yang selalu senada dengan outfitnya. Dia yang selalu mengingatkanku untuk beribadah. Dia memang sesosok idaman untuk dijadikan pendamping masa depanku.
"Yoga, kamu kenapa melamun? Masih mikirn hal yang sama?" aku yang duduk termenung di teras depan rumah dikagetkan oleh ibu.
Ibu lalu duduk disampingku, "Coba ibu tanya sama kamu, seberapa siap kamu ngelakuin ini semua?" tanya ibu.
Aku berpikir terlalu lama, membuat ibu melanjutkan omongannya, "Jangan terlalu banyak mikir. Kaliankan sudah kenal lama. Kamu harus berani jujur sama dia. Ibu yakin, dia pasti akan terima keputusanmu."
Satu minggu berlalu. Di taman tempat favorit kami bersedagurau, aku ingin menyatakan keputusanku yang sebenarnya. Aku memang sudah yakin ingin mengakhiri hubungan persahabatanku dengan Niar. Cukup sudah. Aku tak ingin lebih mengingat kenangan indah bersamanya. Aku seperti menahan tetesan air mata yang hendak terjatuh.
"Kenapa Ga? Yoga.. kita udah lama kan sahabatan. Kamu yakin mau mengakhiri ini semua?" seru perempuan indah di sampingku ini.
Aku mengangguk yakin, "Aku udah capek. Aku mau lupain aja semua tentang persahabatan kita," aku menatap ke arah depan, sambil menahan gerahamku beradu.
Niar lalu berbalik dengan ekspresi terkejut dengan kernyitan dahi dan tersenyum heran, "Ga.. Ini apa? Maksud kamu apa sih?"




.jpg)


1 Komentar
Njir, mengakhiri sahabat dengan pernikahan membuat saya pengen cepet2 nikah kak wkwk
BalasHapusboleh nih buat bahan wkwk
Haii! Berkomentarlah dengan bijak dan relevan ya. Silakan baca artikel lainnya dan tinggalkan jejakmu. Terima kasih!