BLANTERWISDOM101

Cerpen: Skenario Manis Untuk Radis

Monday, March 5, 2012

Perempuan manis, feminin dan baik hati, seperti itu lah sosok Radisty, yang biasa di sapa Radis. Sedang berdiri dihalte seberang kantornya, menunggu hujan reda, hampir setengah jam lamanya. Itulah yang dilakukannya setiap hari sepulang kantor, menunggu metro mini. Duduk termenung memandangi sang hujan yang tak kunjung reda. Membayangkan sesosok pria yang pagi tadi ditemuinya dalam metro mini. Terlihat tampan dengan topi cutenya dan proporsional, hampir mendekati sempurna. “Aahh, apa-apaan sih pikiran ku ini. Ada-ada aja deh. Tapi kenapa orang itu mirip sama Randa ya. Ah, gak mungkin dia, beda banget gitu”, batinnya, sambil mengepuk-ngepuk kepalanya dan berharap pikiran itu akan hilang.



Radis mampir ketoko buku, sekedar melihat-lihat atau akan tertarik dengan apa yang dilihatnya nanti.

Sesampainya ditoko buku, “Ya Allah. Apa bener penglihatanku ini”, fokus sejenak dan memastikan bahwa yang dilihatnya itu memang benar. “Ternyata iya, itu memang dia. Cowok yang aku liat tadi pagi. Ah, mungkin ini hanya kebetulan, cuek sajalah”, batinnya bergumam dan kembali membaca buku yang dipegangnya.

Baca juga Cerpen: Luki Luph Luna

Radis hanya tinggal berdua dengan adiknya yang hanya beda setahun, Ladisty. Ladis sedikit bertolak belakang dengan Radis. Dia terlihat agak tomboy dan sedikit keras kepala, namun baik hatinya. Sejak dua tahun lalu mereka menetap di Jakarta, karena sama-sama diterima bekerja di perusahaan yang berbeda dikota metropolitan itu. Sementara orang tua mereka tinggal di Surabaya. Mereka berdua sangat akur. Harus saling memberi kabar dimanapun dan dalam keadaan apapun.

“Ladiis.. Ayo berangkat”, teriak Radis dari pintu depan. Lalu Ladis keluar dan mengunci pintu, “Ntar pulang bareng ya kak. Ada yang mau aku ambil”, ajak Ladis. “Iyaa. Telpon aja ntar nunggu dimana”, jawab Radis.

Kantor mereka tidak begitu jauh dari rumah, hanya sekitar 20 menitan. Dan Ladis pun lebih dulu sampai dikantor, sementara Radis sampai 5 menit kemudian.

Saat Radis hendak sampai, naiklah seorang pria yang ditemuinya kemarin, “Eh, Dia lagi”, dalam hatinya. Radis bengong. “Neng, ongkosnya neng”. “Eh, iya iya, ini. Kiri ya bg”, Radis pun turun. “Aduuhh, kenapa bisa ketemu cowok itu lagi ya”, pikirnya.

Kembali lagi terpikirkanlah sesosok pria tadi. Tiga kali berturut-turut selama dua hari ini, bertemu dengan orang yang sama, dan ditempat yang sama pula. “Apa iya aku kenal dengan orang itu.”, Radis masih ragu.

“Kak, aku udah di depan kantor kakak nih. Cepetan yaa”, sms Ladis. “Sorry lama Dis, ada kerjaan bentar tadi”. “No problemo kakaak. Kita makan dulu ya kak, laper banget akunya, hehe”, ajak Ladis semangat. “Iyaa iya”.

Baca juga Cerpen: My Secret Admirer

Sampailah mereka ke sebuah tempat makan yang biasa mereka datangi. “Habis ini mau kemana Dis? Memang apaan yang mau kamu ambil?”, tanya Radis penasaran. “Habis ini kita ke distro Oline ya kak, kemaren dia sms kalo tas pesenan aku udah nyampe”, ujar Ladis. “Ooh, ok deh”.

Tanpa sadar, Radis berkata, “Empat kali sudah”. “Apanya yang empat kali kak?”, tanya Ladis. “Cowok itu Dis, udah empat kali kakak ketemu dia dua hari ini. Liat deh, dia mirip Randa kan?”, jelas Radis. “Ah, mana mungkin itu Randa kak. Udah ih kak, gak penting banget”, acuh Ladis. Radis sedikit kecewa dengan tanggapan adiknya itu.

Sudah sekitar 15 menit lalu mereka sampai dirumah. Terduduk lah Radis ditempat tidurnya dan memikirkan hal yang sama, pria itu. “Di metro mini, toko buku, tempat makan, lalu dimana lagi aku akan bertemu dia, pria yang mirip banget sama Randa, tapi aku masih belum yakin kalau itu dia. Ya Allaah, apakah rencanaMu..”, pikir Radis keras.

Keesokan harinya, pria tampan itu tidak terlihat dalam metro mini. Dengan perasaan yang sedikit kecewa, tetapi Radis tak mau ambil pusing, mungkin nanti sepulang kantor ia akan bertemu dengan seorang yang mirip dengan pria yang dikaguminya semasa sekolah itu, harapnya.

Baca juga Cerpen: Gara-gara Anak Jalanan

Hari terlihat mendung, dan tak lama hujanpun turun. Setibanya di halte di seberang kantornya, Radis pun mengusap-usap bajunya yang basah terkena air hujan. Tak lama kemudian, tiba-tiba datanglah seorang pria dari motor maticnya yang hendak berteduh dihalte yang sama. Berdirilah pria itu didekat Radis, lalu membuka helmnya, dan mengucaplah dalam hati Radis, “Ya Allah, terima kasih Engkau telah mengabulkan harapanku pagi tadi”. Radis pura-pura tak melihatnya.

“Kamu Radis kan?”, tanya pria itu. Dengan kaget dan sedikit gemetar karena kedinginan, Radis pun menjawab, “Iya. Kamuu.. “Randa, masih inget kan?”, samber Randa. Diam sejenak, Radis kembali membatin, “Ya Allah, ternyata selama ini dia memang Randa”. “Dis..”, panggil lembut Randa. “Eh, iya iya, aku inget. Apa kabar? Kamu kenapa bisa disini?”, tanya Radis penasaran. “Alhamdulillah, baik. Aku baru tiga hari disini, ada kerjaan bentar. Kayaknya aku pernah liat kamu deh, tapi dimana yaa.. “Di metro mini, toko buku juga tempat makan”, samber Radis. “Oiya, aku baru inget”, ujar Randa. “Tapi waktu itu aku gak yakin kalo itu kamu, abis beda banget sih, hehe”, jelas Radis malu-malu. “haha, aku juga mikirnya gitu Dis. Makin manis sih kamunya, jadi aku pangling deh”, ujar Randa. “Bisa aja kamu Nda”, Radis tersenyum. Randa pun ikut tersenyum.

Dan hujan pun reda. “Aku anter kamu pulang ya Dis”, tawar Randa berharap Radis menjawab “ya”. Tanpa pikir panjang, Radis pun mengangguk dan menjawab, “Iya Nda. Boleh-boleh”.

Baca juga Cerpen: Bukan Dia Tapi Kamu

Entah apa yang dipikirkan Radis saat bertemu dengan teman kecil yang dikaguminya itu, kagum karena keramahan dan kepintarannya, namun ia tetap berendah hati. Yang jelas, ada sesuatu yang berbeda dalam hatinya. Tapi entah apa, dia sendiri pun belum bisa memastikannya. Biarlah waktu yang menjawab apa maksud dari semua pertemuan ini.

Ladis memanggil Radis sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah kakaknya itu, “Kak Radiis”. “Eh, kamu ini ngagetin aja deh”, Radis tersentak. “Siapa yang ngagetin. Kakak tuh ngapain malem-malem gini melamun. Lagi ngelamunin apa sih kak?”, tanya Ladis heran. “Kamu inget gak sama cowok yang kakak bilang mirip Randa itu, ternyata dia memang Randa Dis”, cerita Radis. Dengan mimik muka kaget dan langsung duduk disamping kakaknya itu, “Hahh?! Yang bener kak?”. “Iya Dis”, jawab Radis. “Kakak jangan mikirin cowok dulu deh. Aku tuh masih mau bareng kakak. Aku gak mau kakak gak ada waktu lagi buat nemenin aku. Pokoknya aku gak mau kakak deket sama dia atau siapapun, titik!”, tegas Ladis dan langsung masuk kekamarnya. Radis terdiam.

Hari ini adalah hari ulang tahun Radis, namun tak ada yang istimewa, tidak seperti tahun –tahun kemarin. Yang ada hanyalah ucapan selamat ulang tahun dari orang tua Radis namun tidak dengan Ladis. Pagi itu pun Ladis berangkat ke kantor lebih awal. Entah apa yang ada dibenak adiknya itu. Namun, Radis mencoba untuk tetap bersabar dan membiarkan Ladis untuk tenang.

Baca juga Cerpen: Tingkah Aneh Alika

Saat jam makan siang, Radis mencoba menghubungi Ladis, namun mailbox. Ia terus berusaha menghubungi, namun nihil.

“Padahal hari ini tuh hari ulang tahun aku, tapi kenapa Ladis bersikap seperti itu”, hela nafas Radis. “Aku ngerti kenapa Ladis begitu. Itu karena dia sayang dan masih ingin menghabiskan waktunya bersama kamu”, ungkap Randa yang sedikit melegakan perasaan sedih Radis. “Maafin aku ya Nda. Mungkin cuma itu yang bisa aku bilang ke kamu sekarang ini”, ujar Radis dengan menatap wajah Randa. “It’s ok Dis. Ntar juga dia bakalan ngerti dan bisa bersikap lebih dewasa”, Randa menepuk bahu Radis, mencoba menenangkan. “Makasih ya Nda”, Radis pun tersenyum.

Setibanya dirumah, Radis membuka pintu dan.. “Happy birthday to you.. Happy birthday to you.. Happy birthday happy birthday.. Happy birthday to you. Make a wish dulu ya kaak”, Ladis menyambut kedatangan Radis dan dengan tersenyum Ladis menyodorkan kue ulang tahun kepada Radis. Ladis pun memeluk kakaknya itu dan menjelaskan yang selama ini terjadi, “Maaf ya kak. Pagi tadi itu aku sengaja ngambek dan bersikap acuh sama kakak. Lagian gak mungkin kan kita terus-terusan bareng dan kakak juga gak mungkin ngejagain aku terus. Dan pertemuan-pertemuan kakak dengan Randa, itu semua aku dan Randa yang mengatur. Dan waktu itu aku teringat kalo kakak itu kan pengagum Randa, makanya aku cari tau Randa dari temen-temennya dan membuat skenario ini. Jangan marah ya kaak. Aku tuh sayang banget sama kakak. Aku juga mau kakak tuh bahagia dan dapet pendamping yang terbaik, yang bisa sayang dan ngejaga kakak”, sambil memegang tangan Radis, mata Ladis pun berkaca-kaca. “Makasih banyak ya Dis. Kakak gak akan pernah bisa marah sama kamu. Kakak sayang banget sama kamu”, Radis terharu dan memeluk erat Ladis.

“Sekarang giliran Randa tuh yang mau ngomong sama kakak”, tunjuk Ladis. “Dis, maafin aku ya, kalo ini semua bagian dari rencana aku. Sebulan terakhir ini aku cari tau tentang kamu, ya dari si Ladis dan alhamdulillah dia sangat mendukung”, jelasnya. Radis hanya bisa tersenyum. Randa mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan berlutut, “Dis, would you marry me?”, tanya Randa sambil menyodorkan sebuah cincin manis untuk Radis. Radis kaget, tersenyum, pipinya memerah, dalam hatinya bercampur aduk rasa yang sangat bahagia sekaligus terharu dan menatap tajam mata Randa seakan yakin dan kemudian mengangguk, “Iya, aku mau Nda. Mau banget”. “Yeay!”, sorak Ladis lalu mengucapkan selamat. Tak lama kemudian mereka pun memberitahu kabar gembira ini kepada kedua orang tua mereka.
Share This :
Kyndaerim

Seorang Ibu biasa yg suka berkhayal dan main sama anak. Wajib follow, haha! Jangan bosan baca ceritanya yaa.. Supported by Bayu Pradana

Silahkan beri penilaian, kritik dan saran yang membangun. Mohon tidak menyertakan link aktif atau komentar spam. Terima kasih :)