60 Hadits Shahih Tentang Hak-hak Perempuan, Wajib Baca!

Pretty Black Cat

60 Hadits Shahih Tentang Hak-hak Perempuan, Wajib Baca!



60 Hadits Shahih Tentang Hak-hak Perempuan

"Perempuan itu, nggak perlu sekolah tinggi-tinggi. Toh nanti akhirnya juga bergelut di kasur, dapur, dan sumur," begitu pernyataan yang pernah saya dengar dari seorang tetangga bergender laki-laki. Artinya apa? Artinya, dia hanya memandang perempuan sebelah mata, dan berpikiran sempit tentang perempuan.

Saya cukup kesal mendengar pernyataan semacam itu. Karena, sejak zaman Rasulullah, Islam sama sekali tidak pernah melarang perempuan untuk berkarir. Atau bahasan lain yang sering kita dengar bahwa penghuni neraka terbanyak adalah dari kaum perempuan, harus taat suami, dan sebagainya tentang hal yang cenderung memberatkan perempuan. Di mana hadits-hadits tersebut diberi istilah hadits misoginis atau hadits yang secara literatur memandang rendah kaum perempuan.

Lalu, apa sebenarnya hak-hak perempuan dalam Islam?

Kali ini saya akan mencoba mereview buku dengan judul, 60 Hadits Shahih - Khusus Tentang Hak-hak Perempuan Dalam Islam. Penulis Faqihuddin Abdul Kodir. Buku ini memiliki 276 halaman, yang terdiri dari 15 bagian tema pokok.

Mulai dari pembahasan hadits tentang prinsip-prinsip relasi laki-laki dan perempuan, pengakuan atas hak-hak perempuan, larangan memukul perempuan, keterlibatan perempuan dalam bela negara, hingga kesalingan relasi suami-istri.

Seperti apa gaya saya membahas sebuah buku? Hehe.. Yuk, silakan dibaca dengan santai..

Dibuka dengan Prolog yang Menggugah

Pembaca akan disambut dengan prolog dari Drs. Hj. Badriyah Fayumi, yang cukup membuka pikiran saya tentang kesalingan antara laki-laki dan perempuan. Bahwa, Nabi Muhammad SAW, cukup banyak membahas hadits tentang relasi laki-laki dan perempuan. Namun, yang banyak muncul hadits yang bersifat dha'if (lemah) atau maudhu' (palsu). Di mana, banyak yang memaknai superioritas laki-laki atas perempuan. Bahwa laki-laki wajib mendominasi segalanya.

Sebagai seorang perempuan, saya jadi sadar, bahwa kesalingan laki-laki dan perempuan itu perlu, karena memang sudah jelas ternyatakan pada hadits-hadits sejak masa dulu. Sebagaimana terdapat dalam karya fenomenal Abdul Harim Muhammad, Tahrir al-Mar'ah fi 'Ashr ar-Risalah (Pembebasan Perempuan di Masa Rasulullah SAW), yang berisi tentang keshahihan hadits-hadits dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.

Melalui kitab inilah, banyak yang terbuka pikirannya tentang peran perjuangan perempuan shahabiyat pada masa Rasulullah SAW dan tampak berbagai keberpihakan yang nyata terhadap perempuan. Hadits-hadits shahih juga tentunya sangat berkaitan dengan ayat-ayat al-Qur'an yang membahas tentang relasi laki-laki dan perempuan. Hal-hal tersebutlah yang menyebabkan banyak karya muncul untuk mengangkat hadits-hadits shahih yang merangkul para perempuan dengan berbagai pandangan positif.

Kesadaran yang kian muncul semakin menepiskan hadits-hadits lemah yang terlanjur dikenal oleh masyarakat. Mewujudkan kepercayaan bahwa, adanya keadilan antara laki-laki dan perempuan dalam Islam.

Baca juga: Visi Misi Pernikahan

Memaknai Hadits Populer yang Shahih

Dalam buku ini, terdapat 15 bagian tema kesalingan antara laki-laki dan perempuan. Namun, supaya kamu nggak makin spoiler, maka saya hanya akan membahas beberapa di antaranya saja, lebih tepatnya yang berkaitan dengan hadits-hadits populer yang terlanjur dimaknai sempit oleh masyarakat awam.

Prinsip-prinsip Relasi Laki-laki dan Perempuan

Saya mengambil satu poin dari tema ini. Salah satu prinsip relasi laki-laki dan perempuan adalah, tidak merendahkan orang lain, terlebih pada perempuan. Karena, pada dasarnya, laki-laki tidak seharusnya merendahkan perempuan, begitupun sebaliknya.

Dalam hadits riwayat Muslim (275) Nabi Muhammad SAW menegaskan, "Bahwa orang yang memiliki sebiji rasa sombong kepada orang lain tidak akan pernah masuk surga. Orang sombong, adalah orang yang menolak kebenaran dan merendahkan orang lain."

Melalui hadits ini disimpulkan bahwa, relasi laki-laki dan perempuan untuk bisa berakhlak mulia dan berperangai baik. Sederhananya, laki-laki shalih dan perempuan shalihah.

Pengakuan Atas Hak-hak Perempuan

Ada yang bilang bahwa, laki-laki itu lebih tinggi derajatnya dari perempuan. Ini adalah sebuah pemahaman yang salah besar!

Aisyah Ra. menuturkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Perempuan itu saudara kandung laki-laki."(Sunan Abi Dawud, hadits 236).

Terkadang, sebagian besar orang terlalu membeda-bedakan keberadaan laki-laki dan perempuan dalam segala hal. Padahal hakikatnya, laki-laki dan perempuan itu sama derajatnya, yaitu sebagai manusia yang terhormat dan bermartabat. Jadi, jangan ada lagi sikap menyisihkan dan mementingkan salah satunya.
60 Hadits Shahih Tentang Hak-hak Perempuan, Perempuan, Gambar Perempuan

Memuliakan dan Menghormati Perempuan

Dari bagian ini saya mengambil satu hadits yang cukup membuat gaduh di luaran sana.

Tentang perempuan dilarang muncul di ruang publik. Beberapa bahkan seperti meremehkan profesi yang dilakoni seorang perempuan, sehingga menganggap keberadaannya tidak terlalu penting. Hal ini yang sering kali disalah artikan oleh masyarakat awam. Padahal, Islam mengakui kerja-kerja perempuan di ruang publik, lho.

Abu Hurairah Ra. berkata, "Ada seorang perempuan kulit hitam yang biasa membersihkan masjid. (Suatu hari), Nabi Muhammad SAW mencarinya dan menanyakan kabarnya (karena tidak terlihat) selang beberapa hari. Ketika disampaikan bahwa ia telah meninggal dunia, Nabi Muhammad SAW kaget. 'Mengapa kamu tidak memberitahuku?' Kemudian, Beliau mendatangi kuburannya dan shalat di atasnya." (Sunan Ibn Majah, hadits 1594).

Melalui hadits ini, Nabi Muhammad SAW ingin menyadarkan dan mengajarkan bahwa, apapun profesi perempuan, posisi apapun yang diraihnya selama itu baik dan tidak merugikan siapapun, hormati dan apresiasi atas kerja-kerjanya. Jadi, buang jauh-jauh sikap acuh dan abai terhadap perempuan, karena mereka sangat layak dipuji bahkan digaji.

Protes Perempuan terhadap Kekerasan

Hal ini juga marak menjadi perbincangan ya. Sejatinya, perempuan itu berhak terbebas dari segala macam kekerasan. Terlebih lagi, para perempuan hanya diam saja dan tidak berani melapor.

Iyas bin Abdillah bin Abi Dzubab bertutur, Rasulullah SAW memberi perintah, "Janganlah kalian memukul hamba-hamba Allah yang perempuan." Tetapi datanglah Umar bin Khatab kepada Rasulullah SAW, dan melaporkan, "Banyak perempuan yang membangkang terhadap suami-suami mereka." Maka, Nabi Muhammad SAW memberi keringanan dan membolehkan pemukulan itu. Kemudian, (akibat dari keringanan itu), banyak perempuan yang datang mengitari keluarga Rasulullah SAW dan mengeluhkan suami-suami mereka. Maka, Rasulullah kembali menegaskan, "Telah datang mengitari keluarga Muhammad banyak perempuan yang mengadukan (praktik pemukulan) para suami mereka. Mereka (para suami) itu bukan orang-orang yang baik di antara kalian." (Sunan Abi Dawud, hadits 2148).

Hadits ini sudah sepantasnya bahkan diwajibkan untuk diketahui oleh perempuan-perempuan zaman sekarang. Bahwa perempuan berhak atas kebebasan dari segala macam kekerasan. Selain itu, dukungan yang kuat juga diperlukan untuk penyintas, supaya merasa nyaman dalam menjalani kehidupannya.

Pada hadits ini, juga terkandung nilai kesalingan antar laki-laki dan perempuan untuk sama-sama mempunyai rasa empati seperti yang dilakukan Nabi Muhammad SAW. Dan turut menegaskan bahwa Islam adalah agama kebaikan, kemaslahatan, serta bebas dari kekerasan dan kemafsadatan.

Mu'asyarah bil Ma'ruf

Tiba di bagian akhir, tema yang akan saya bahas ini merupakan tema paling minim untuk diketahui sepasang suami-istri, bahwa pekerjaan rumah tangga itu adalah tanggung jawab bersama. Dalam kenyataannya sering kali kita melihat, perempuanlah yang harus mengerjakan segala pekerjaan rumah tangga, sementara laki-laki hanya mengurus nafkah saja.

Aswad bin Yazid menyampaikan, "Aku bertanya kepada Aisyah Ra mengenai apa yang diperbuat Nabi Muhammad SAW di rumah. Aisyah menjawab, 'Beliau selalu membantu keluarganya. Ketika datang waktu shalat, beliau bergegas pergi untuk melaksanakan shalat." (Shahih al-Bukhari, hadits 680, 5418, dan 6108).

Masya Allah.. Hadits ini memang sangat jarang diketahui orang, karena menceritakan kehidupan Nabi yang pada dasarnya tidak dijadikan rumusan dalam melakukan pekerjaan domestik. Tapi tidak juga terdapat larangan, hanya saja lebih baik diikuti, karena ini lah kebiasaan Nabi Muhammad SAW.

Memang benar, bahwa selama ini yang ditelaah adalah, ada pekerjaan laki-laki dan ada pekerjaan perempuan. Bahkan sering kali, perempuan yang juga bekerja di luar, harus bertanggung jawab dengan pekerjaan rumah. Bayangkan bagaimana lelah rasanya.

Dalam hadits ini jelas bermakna, alangkah baiknya, apabila keduanya bisa saling membantu. Mengerjakan pekerjaan rumah tangga sama sekali tidak menjatuhkan derajat laki-laki, kok. Malah akan bertambahnya pahala dan juga terhitung sebagai amal shalih.

60 Hadits Shahih Tentang Hak-hak Perempuan


Kesimpulan

Kalau boleh jujur, buku ini cukup membuat saya manggut-manggut, karena memang banyak yang belum saya ketahui khususnya hadits-hadits yang membahas tentang hak-hak perempuan. Bahwa perempuan itu patut disejajarkan dengan laki-laki. Bahwa perempuan adalah manusia seutuhnya yang setara dengan laki-laki.

Disetiap 15 bagiannya dilengkapi juga text bahasa Arab yang jelas dibaca. Bahasa yang disampaikan begitu mudah dipahami. Terdapat pula kutipan-kutipan kecil diakhir setiap bahasan.

Saya sangat merekomendasikan buku ini untuk untuk dibaca, bukan hanya untuk perempuan saja, melainkan juga laki-laki. Semoga setelah membaca, banyak kesadaran yang muncul akan hak-hak perempuan yang harus dipenuhi dengan berdasar hadits-hadits shahih dan Al-Qur'an.

Penutup

Untuk menambah keilmuan kita tentang agama, tidak cukup hanya dengan membaca hadits-hadits dan Al-Qur'an saja, namun kita juga harus menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi memasuki bulan Ramadhan ini, adalah kesempatan kita untuk melipatgandakan pahala dan memperbanyak ibadah kepada Allah.

Berkaitan dengan itu, Ibuku Content Creator (ICC) X Mubadalah, mengadakan kajian intensif Ramadhan 1442 H, Tahsin Bacaan Al-Qur'an dan Tadarus Sunnah Monogami. Untuk info selengkapnya, bisa cek instagram @icontentcreator atau @mubadalah.id. Inget ya, kuota terbatas.

kajian intensif Ramadhan 1442 H, Tahsin Bacaan Al-Qur'an dan Tadarus Sunnah Monogami


Posting Komentar

0 Komentar