BLANTERWISDOM101

Cerbung: Raihan & Hana (Part II)

Thursday, December 27, 2018

Pak Raihan lalu tersenyum melihat tingkah kami, "Saya duluan ya," pamitnya.

Kamipun mengangguk tersenyum.

"Iiihhh... Buat malu aja nih anak," ungkapku kesal.

***

Jam 8 malam ini, aku baru sampai rumah. Karena tadi seharian memilih kebaya yang akan dipakai saat wisuda di Sabtu lusa. Aku melihat ada mobil yang parkir dihalaman rumah, mungkin tamu Ayah.

"Assalamu'alaikum," aku seperti mengenal tamu Ayah itu.

"Wa'alaikumsalam. Nah, ini dia anak gadis Ayah sudah pulang. Sini-sini duduk samping Ayah. Kenalkan, ini Raihan, anaknya dosen kamu, Pak Ilham," kata Ayah.

Benar saja, aku memang mengenalnya, dosen pengujiku kemarin. Ternyata dia anak Pak Ilham. Pantas saja ada miripnya dengan Pak Ilham.

"Raihan," katanya sambil menjabat tanganku.

"Hana," kataku yang menyambut jabat tangannya.

Baca juga Cerbung: 11 Januari (Part II)

"Jadi, Raihan ini baru datang dari Inggris seminggu lalu. Dan diminta papanya untuk menggantikan sementara dirinya menjadi penguji di meja hijau. Raihan ini dulu mahasiswa Ayah. Usianya baru 27 tahun lho, tapi sudah lulus S2. Ya nak Raihan," jelas Ayah yang begitu mengenalnya.

"Iya Yah, Pak Raihan ini dosen penguji Hana kemarin," kataku sedikit bercerita.

"Wah, haha... Kebetulan sekali ya. Jadi, gimana presentasinya Hana, Raihan?" tanya Ayah.

"Anak bapak luar biasa pintarnya," sambung Raihan.

"Biasa aja kok pak. Itu sudah semaksimal saya lakuin," tersipu aku mencoba merendah.

Ayah tertawa lagi, "Saya tinggal sebentar ya, ada telpon," ucap Ayah dan meninggalkan kami berdua.

"Jadi, bapak ini lulusan Inggris ya?" kataku membuka pembicaraan.

"Kan tadi Ayah kamu udah bilang. Hana, panggil Raihan aja. Kalau bapak terkesan tua," pinta Raihan.

"Oh jangan-jangan. Kalau panggil mas Raihan aja, boleh nggak? Lagian usia kita beda 3 tahun. Nggak enak kalau panggil nama aja," kataku memberi saran.

"Boleh-boleh," katanya menyetujui.

"Maaf-maaf, saya tinggal terlalu lama. Kopinya diminum dulu nak Raihan," Ayah lalu masuk dan kembali duduk disebelahku.

"Pak, apa boleh besok saya ajak Hana jalan-jalan?" celetuk mas Raihan yang tentu saja mengagetkanku.

"Haha... Kenapa tidak boleh. Tuh Hana, kamu diajak jalan cowok ganteng. Hana ini belum pernah punya pacar, jadi jangan heran kalau dia agak malu-maluin," kata Ayah meledekku.

"Ayaaah..." protesku.

Mas Raihan tertawa kecil, "Makasih sudah ngasih ijin pak. Sudah malam. Saya pamit dulu," ucap mas Raihan.

Baca juga Cerpen: Foto Lama

"Hati-hati nak Raihan," ucap Ayah, dan kami pun lalu masuk kerumah.

"Akhirnya anak Ayah punya pacar juga," kata Ayah meledekku.

"Ayaaah... Baru juga kenal," ucapku beralasan.

"Ya maka dari itu, kamu harus bisa lebih mengenal dekat Raihan dari pada Ayah. Gimana?" kali ini Ayah seperti memberiku tantangan.

Aku berpikir sejenak. Mencoba mencerna perkataan Ayah.

"Kamu ini, dah jangan dipikirin. Jalani aja dulu. Ayah hanya memberikan apa yang Ayah tau. Semua pilihan ada ditangan kamu. Sudah malam, ayo tidur," kata Ayah sedikit memberikan nasihat.

Dan perkataan Ayah itu berhasil membuatku berpikir dalam.

***
Malam ini jam 8, Mas Raihan akan menjemputku. Ini adalah kencan pertama, aku rasa begitu.

"Assalamu'alaikum," salam Mas Raihan.

"Wa'alaikumsalam. Yah, aku pergi dulu ya," pamitku pada Ayah.

"Pamit dulu pak," kata Mas Raihan.

"Iya. Hati - hati. Tolong jaga Hana dengan baik ya, nak Raihan," begitu nasihat Ayahku.

Mas Raihan mengangguk tersenyum.

Dalam perjalanan, obrolan demi obrolan menghiasi perjalanan kami. Diiringi musik dari radio mobil.

"Jadi, udah lega ya kalau udah sidang," ujar Mas Raihan.

"Hah... Iya. Rasanya nggak sabar pengen cepat - cepat wisuda. Kerja terus..." omonganku lalu dipotong Mas Raihan.

"... Menikah?" sambungnya.

Bersambung...


Share This :
Silahkan beri penilaian, kritik dan saran yang membangun. Mohon tidak menyertakan link aktif atau komentar spam. Terima kasih :)