BLANTERWISDOM101

Cerbung: 11 Januari (Part II)

Saturday, January 12, 2019

"Thank's so much Nila, bye..." dengan terburu - buru, Jane langsung meninggalkanku.

"Memangnya namaku susah di ingat ya?" gumamku pelan.

Sepulang dari kafe, aku mampir ke toko bunga langgananku. Karena sudah saatnya bunga di ruang tamu sudah harus di ganti. Tapi ternyata bunga Aster favoritku sudah habis terjual, tidak biasanya. Kata mbak Asih si penjual bunga, tadi pagi sudah ada yang membeli bunga itu, kebetulan tinggal 1 ikat. Alhasil aku pulang tidak membawa apa - apa.

"Assalamu'alaikum. Maa..." aku terduduk diruang tamu, kelelahan. Dan tak sengaja melihat bunga Aster putih sudah terikat rapi di dalam vas dipojokan dekat jendela.

Mama lalu datang dengan membawa jus jeruk kesukaanku, "Ternyata Mama ya yang beli Aster tadi," kiraku pada Mama.

"Loh, Mama kira kamu yang ngirim tadi," Mama malah balik mengiraku.

"Aduh ma, biasa juga kan aku langsung beli, nggak pake ngirim - ngirim, cuma sebuket doang," jelasku.

"Memangnya kamu pernah lihat mama yang beli?" kata mama lagi.

"Enggak sih, hehe..." ucapku sambil nyengir - nyengir.

"Kamu ini. Jadi, gimana tadi ketemuannya? Lancar?" tanya mama.

"Hmm... Lancar ma. Memangnya Jane itu orangnya memang begitu ya ma?" tanyaku mencoba memastikan.

"Gitu gimana? Orangnya kayak gimana juga mama nggak tau," jelas mama.

"Hmm... Yaudah deh ma, aku mandi dulu ya, gerah. Makasih jus nya mama sayaaang..." aku lalu beranjak.

Malam ini aku dan Mama bersantai di ruang tamu, sembari mengecek kembali jadwal wedding di awal bulan depan. Hp ku lalu berdering, tanpa nama, tapi aku mengingat pemilik nomor itu. Aku mengabaikannya.

Baca juga Cerpen: Bukan Dia tapi Kamu

"Kenapa nggak jawab sayang?" tanya Mama.

"Juna ma," jawabku.

"Jawab dong sayang," ujar Mama.

Aku lalu keluar menuju teras, dan menjawab panggilannya, "Halo."

"Aku kira kamu nggak bakal mau bicara sama aku lagi... Nirra, kamu sehatkan?" wajah Juna langsung terbayang dipikiranku.

"Alhamdulillah," namun aku enggan bertanya balik.

"Nirra, maafin aku. Dan... Boleh besok kita ketemu? Aku akan jelasin semuanya sama kamu, please!" aku menghela napas panjang, dan dengan tenang mengiyakan permintaannya.

Aku kembali ke ruang tamu dengan wajah sedikit malas dan lalu duduk disebelah Mama.

"Sayang, Allah itu Maha Mengetahui, termasuk isi hati. Jadi, mintalah sama Allah agar memilihkan yang terbaik untuk kamu," nasihat mama menenangkanku.

Malam ini pukul 8, Juna datang menjemputku.

"Assalamu'alaikum," salam Juna, kebetulan mama yang membukakan pintu.

"Wa'alaikumsalam. Eh, Juna, apa kabar kamu?" tanya mama.

"Alhamdulillah, baik tante. Tante, soal Nirra kemarin... maaf ya tante. Juna akan perbaiki sikap buruk Juna," aku sedikit mendengar percakapan mereka.

"Juna, semua pilihan ada di tangan Nirra. Dan harusnya kamu bisa melihat apa yang akan Nirra pilih."

"Duuh, pada ngomongin apa siih... Pergi dulu ya Ma. Assalamu'alaikum," pamitku.

"Makasih tante. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam, hati - hati ya."

Dalam perjalanan, aku lebih banyak diam.

"Kamu terlihat lebih cantik," ungkap Juna membuka pembicaraan.

Akupun tersenyum kecil, "Makasih."

"Umm... Kita makan di tempat biasa ya. Udah lama juga aku nggak kesana," Juna melirikku, "Gimana?"

Baca juga Cerpen: Sesaat Setelah Sosok Tampan Itu Datang

"Iyaa, terserah kamu aja," jawabku datar.

Setelah itu, hanya suara dari radio yang mengisi kesenyapan kami.

Kami pun sampai di restoran favorit kami, dulu.

"Kamu ingat tempat ini kan? Tempat pilihan kamu yang jadi favorit kita dulu. Nggak terasa setahun berlalu, suasananya masih terlihat sama ya," ungkapnya.

Aku masih belum bisa bersikap biasa. Yang ada hanya senyum dan anggukan.

Tak lama memesan, pesanan kami lalu datang.

"Kayaknya kita masih belum bisa move-on ya dari menu ini," kali ini aku sedikit tertawa, seakan sepakat dengan pernyataannya.

"Steak disini kan memang paling enak, gimana bisa move-on," celetukku sambil mengambil garpu dan pisau.

Juna berdehem, "Kalau aku sih jujur belum bisa move-on dari kamu," ungkapnya, suapan pertama membuatku sedikit tersedak.

"Sorry sorry, minum dulu Rra. Sebegitu menyakitkan ya pernyataanku?" Juna tertawa kecil.

Aku menggeleng, lalu mengalihkan pembicaraan, sedikit malu sebenarnya, kenapa sampai tersedak segala aku ini, "Jadi, setahun ini kamu kemana aja?" oh tidak, aku salah bertanya.

"Jujur, bukannya aku mengabaikan kamu Nirra. Setelah kamu pergi, aku mendapat promosi untuk bekerja di luar negri, tapi aku hanya mampu bertahan 1 tahun, karena... aku merasa bersalah sama kamu. Kejadian terakhir itu selalu aku ingat. Aku coba menghubungi kamu, tapi gagal. Sampai akhirnya aku memutuskan kembali ke sini. Dan berharap kembali ke hati kamu Rra," ceritanya membuat hatiku... Entahlah, tapi rasanya aku belum ingin merajut hati ini kembali.

Aku masih terdiam.

"Nirra, apa yang harus aku lakukan untuk menebus semua kesalahanku?" Ia seperti ingin menyatukan kembali ranting yang telah patah.

"Hmm... Aku... Mungkin masih butuh banyak waktu untuk kembali mengisi hati. Sorry Jun," ungkapku lirih.

Juna terlihat mengangguk, dan menahan rahangnya beradu.

"Aku bakal nunggu waktu itu Rra, aku bakal nunggu," 2 kali Ia mengulang perkataannya, seperti ingin meyakinkanku.

Tatapan yang kulihat, sama persis seperti pertama kali Juna menyatakan perasaannya padaku. Apakah Ia memang benar - benar tulus??



B E R S A M B U N G ...
Share This :
Kyndaerim

Seorang Ibu biasa yg suka berkhayal dan main sama anak. Wajib follow, haha! Jangan bosan baca ceritanya yaa.. Supported by Bayu Pradana

Silahkan beri penilaian, kritik dan saran yang membangun. Mohon tidak menyertakan link aktif atau komentar spam. Terima kasih :)