Cerpen: Tingkah Aneh Alika

Seperti biasa, setiap pagi tepatnya pukul tujuh, terdengar suara klarkson motor matic dari luar pagar. “Buu, aku pergi yaa. Assalamu’alaikum”, pamit Alika. Mahasiswi semester akhir itu selalu berangkat kuliah dengan diantar oleh Dira, kakak kelasnya semasa SMA dulu. Kedekatan mereka baru terjalin sekitar 2 tahun ini setelah Dira pindah dari rumah lamanya dan sekarang hanya berbeda blok dari rumah Alika.



Alika yang usianya 2 tahun lebih muda dari Dira adalah seorang gadis imut dan manja. Sedikit berbeda dengan sosok Dira yang dewasa dan selalu menjadi pendengar sekaligus pemberi solusi yang baik atas semua curahan hati Alika. Alika adalah anak tunggal. Dia tinggal bersama Ayah dan Ibunya yang juga sudah mengenal baik Dira. Kedua orang tua Alika akan selalu memberi izin kepada Alika setiap kali bepergian, tetapi dengan satu syarat, dia harus pergi bersama dengan Dira, kemanapun, karena orang tua Alika sudah sangat percaya kepada Dira untuk selalu menjaga putri mereka itu jika sedang berada diluar. Sedangkan Dira hanya tinggal dengan pembantunya. Dira juga anak semata wayang. Namun, kedua orang tuanya telah meninggal sejak 3 tahun lalu karena sakit yang tak bisa disembuhkan lagi. Dira lebih dulu lulus kuliah dan sekarang ini dia bekerja diperusahaan yang cukup ternama dikota tempatnya tinggal dan juga tidak begitu jauh dari kampus Alika. Dira sudah menganggap Alika sebagai adiknya sendiri. Begitu juga dengan Alika dan kedua orang tuanya. Dira pernah mengucapkan sebuah kalimat kepada Alika, “Ceritakanlah, sekalipun itu menyakitkan”, kalimat itulah yang akan selalu tersimpan dalam ingatan Alika.

“Ntar kakak gak bisa jemput kamu ya Al. Tapi pulang kuliah nanti kamu mampir ke rumah kakak dulu ya. Ada yang mau kakak ceritain sama kamu”, ajak Dira. “Ok kak Dira, aku juga ada mau bilang sesuatu sama kakak”, jawab Alika.

Sesampainya Alika dirumah Dira, dia terduduk diruang tamu. Sambil menunggu Dira sampai, dia pun memakan cemilan yang dibelinya sepulang kampus tadi dan si mbok pun menyuguhkannya segelas air putih. Hampir 15 menit Alika menunggu, dan tibalah Dira dengan wajah yang terlihat senang. “Kakak kok seneng banget gitu. Emang abis dari mana?”, tanya Alika penasaran”. Dengan tiba-tiba Dira pun memeluk Alika, “Alikaa.. Minggu depan kakak dipindah kerjakan di Jepang”. “Waah, selamat ya kak”, peluk erat Alika. “Makasih ya Al. Tapi kakak jadi sedih, karena kita gak bakal sering bareng kayak gini lagi”, ujar Dira dengan wajah sedih. Alika pun mencoba menenangkannya dengan memegang tangan Dira dan berkata, “Kakak itu kayak hidup dizaman dulu aja. Sekarang kan udah serba canggih kak, jadi kakak gak perlu khawatir sama kebersamaan kita, yaa walaupun gak secara langsung setidaknya kita bisa saling memberi kabar. Senyum dong kaak”. Dira pun langsung merubah wajah sedihnya tadi dengan tersenyum manis. “Sekarang giliran kamu mau cerita apa Al?”, tanya Dira. “Hmm.. Aku jadi lupa mau bilang apa tadi sama kakak, hehe”, ujar Alika. “Eeh.. Seriuus, mau bilang apa tadi?”, tanya Dira geram. “Gak ada kak, hehe”, Alika tertawa kecil. Dira pun mencubit pipi Alika.

Esok paginya tidak seperti biasa, semenit sebelum Dira menjemput, Alika sudah menunggunya terlebih dulu di depan gerbang rumahnya. “Eh, tumben-tumbenan kamu yang nungguin disini Al?”, tanya Dira heran. “Gak apa-apa dong kak. Sekali-sekali aku juga mau nunggu kakak jemput aku, hehe. Ayo berangkat kak, ntar telat lagi”, jawab Alika dengan wajah berseri. Balas Dira dengan tertawa kecil.

Seminggu ini sikap Alika sedikit berbeda dari biasanya, dia tampak selalu ingin menghabiskan waktu bersama Dira seakan tak mau berpisah dengan teman yang sudah dianggap sebagai kakaknya itu. Namun, tak jarang Dira mendapati Alika duduk termenung. Namun, setiap kali Dira bertanya kenapa, Alika hanya tersenyum dan mencoba mengalihkan pertanyaan Dira itu.

“Kak Dira, besok kakak gak sibuk kan?”, tanya Alika via telepon. “Engga. Kenapa Al?”. “Jadi gini, tadi tuh ada rapat organisasi dikampus. Mereka mau buat acara amal gitu. Mereka mau ngumpulin dana, pakaian, mainan dan buku-buku yang masih layak pakai untuk disumbangkan ke panti asuhan. Kayak bulan kemarin kak. Kakak ikutan ya”, jelas dan ajak Alika. “Ayo-ayo.. Kakak mau banget. Kebetulan nih kakak lagi beres-beres barang yang udah gak kepake lagi”, jawab Dira semangat. “Ok deh. Sampai besok ya kak”.

Setiap 2 bulan sekali, organisasi dikampus Alika itu selalu mengadakan kegiatan amal. Dan mereka berdua juga tidak pernah absen untuk mengikuti kegiatan amal tersebut. Sampai-sampai Alika mempunyai keinginan untuk bisa membangun sebuah panti asuhan. Entah kapan itu semua akan terwujud, sekarang ini yang dilakukannya adalah terus berdoa dan berusaha. Dira pun sangat mendukung keinginan mulia Alika itu.

Acara amal itu diadakan satu hari sebelum keberangkatan Dira ke Jepang. Dira sibuk membereskan barang-barang yang akan dibawa ke panti asuhan, sedangkan Alika hanya termenung menatap Dira dengan wajah yang sedikit tersenyum namun dibalik senyumnya itu terpancar kesedihan. Sambil mengangkat barang-barang ke dalam mobil, Dira pun heran melihat tingkah Alika yang termenung itu. Ketiga kalinya Dira memanggil nama Alika, “Aall..”. Alika pun tersentak kaget dan seperti kebingungan, “Hahh.. Iya kak. Kenapa kenapa??”. “Kamu itu bukannya bantu-bantu, malah bengong disitu”, omel Dira. “Eh, iya iya, maaf kak”, Alika hanya tertawa.

Sesampainya di panti asuhan. Mereka berdua turut membagikan barang-barang yang telah terkumpul. Seperti bulan kemarin, Alika sedikit menyampaikan sepatah dua patah kata didepan anak-anak yang terduduk manis di dalam ruangan yang tidak terlalu lebar itu, “Adik-adik yang kakak sayangi, terima kasih telah menyambut baik kedatangan kakak juga teman-teman kakak disini. Mudah-mudahan apa yang kakak dan teman-teman berikan ini bisa bermanfaat untuk adik-adik semua dan mohon doanya ya supaya kita semua selalu diberi kesehatan juga kemurahan rezeky dan kalian semua makin lucu-lucu”, jelas Alika dengan sedikit bercanda. “Aaamiin.. Terima kasih ya kaak”, anak-anak menjawab serentak.

Sepulang dari panti asuhan dan sepanjang perjalanan, Alika terlihat murung. “Al, kamu kenapa? Kok murung gitu? Kamu sakit ya?”, tanya Dira yang cemas dengan keadaan Alika. “Aku gak kenapa-napa kok kak. Cuma aja sedikit sedih, karena berpisah sama anak-anak dipanti tadi, trus ngeliat keadaan mereka yang memprihatinkan gitu”, ujar Alika sambil membayangkan keadaan dipanti dan menghela nafas panjang. Sambil mengelus-ngelus pundak Alika, Dira mencoba menenangkannya, “Kita berdoa aja, supaya mereka disana selalu dalam keadaan baik dan kelak mereka bisa dirawat oleh orang tua yang baik juga. Udah dong jangan sedih lagi, ntar kakak jadi ikutan sedih kalo kamunya sedih terus gitu”. “Tapi kak, aku gak bakal bisa dateng kepanti lagi dan juga kumpul bareng mereka. Apalagi besok kakak udah berangkat”, tutur Alika. “Kamu masih tetep bisa kok kumpul bareng mereka. Ntar kakak usahaain deh biar bisa balik kesini secepatnya dan nemenin kamu”, jelas Dira. Alika memandang Dira dengan tersenyum.

Minggu paginya, Dira bersiap untuk berangkat ke bandara dengan diantar oleh Alika juga Ibu dan Ayahnya. Didalam kamar, Alika tiba-tiba terduduk ditempat tidurnya sambil memegang kepalanya yang terasa sangat sakit, rasa sakit yang akhir-akhir ini dia rasakan. Namun, dia tak begitu menghiraukan keadaan itu. Diapun langsung menyusul Ayah Ibunya yang sudah siap-siap menjemput Dira. Didalam mobil, Alika hanya terdiam, seakan menahan rasa sakit yang menyerang kepalanya sejak tadi. Saat Dira masuk kedalam mobil, Alika langsung memegang erat tangan Dira sambil tersenyum dan Dira pun hanya tersenyum melihat Alika.

Selesai check in, Dira kembali duduk disamping Alika. “Kamu jangan lupa kabarin kakak terus ya Al. Pokoknya kalau kakak balik nanti, kamu udah bisa lebih baik dari sekarang dan buat Ayah Ibu kamu bangga”, sambil mengelus kepala Alika. “Iya kak”, hanya itu kata yang keluar dari mulut Alika. Ayah dan Ibu Alika pun tersenyum.

Dengan memeluk erat Alika, Dira mulai menitikkan air matanya. “Jaga diri baik-baik ya Al. Kakak selalu sayang kamu”. “Aku juga sayang sama kakak”, ujar Alika yang juga menangis. “Titip Alika ya om tante”. “Iya Ra. Hati-hati ya. Jaga diri kamu baik-baik disana”. “Makasih om tante”, sambil menyalami kedua orang tua Alika itu.

Beberapa saat setelah keberangkatan Dira. Diruang tengah, Alika kembali terlihat murung dan wajahnya terlihat pucat. Tak berapa lama, dia lalu merasakan mual juga sakit kepala yang semakin luar biasa. Orang tua Alika panik, tidak biasanya Alika mengalami keadaan seperti ini. Tanpa pikir panjang, mereka langsung membawanya ke rumah sakit.

Setelah mendengar penjelasan dari dokter yang memeriksa keadaan Alika, orang tua Alika sangat kaget mendengar penyakit yang diderita putri semata wayangnya itu. Dokter mengatakan, bahwa sudah sebulan ini Alika mengalami gejala tumor otak stadium empat dan kemungkinan kecil penyakit ini dapat disembuhkan. Kedua orang tua Alika sangat menyesali keadaan Alika ini, karena Alika tidak pernah memberitahu tentang keadaannya itu.

Saat Alika tersadar, dia langsung meminta maaf kepada Ayah Ibunya, “Ayah, Ibu, maafin aku ya. Akhir-akhir ini kepalaku memang sering sakit, tapi aku pikir cuma sakit biasa, makanya aku gak bilang sama Ayah juga Ibu. Apalagi sama kak Dira, aku gak mau kak Dira tau penyakitku ini, aku takut dia batal berangkat ke Jepang cuma karena aku”, jelas Alika dan meneteskan air mata. Ayah Ibunya pun menangis dan mengelus kepala juga memegang erat tangan Alika, “Tapi seharusnya kamu kasih tau Ayah Ibu lebih awal nak. Agar semua bisa dicegah”. Alika terus meminta maaf, “Ayah, Ibu, aku titip kak Dira ya. Aku mau Ayah dan Ibu sayang sama kak Dira sebagaimana sayang sama aku”, pintanya. Itulah pesan terakhir Alika kepada kedua orang tuanya, dan Alika pun menghembuskan nafas terakhirnya. Ayah Ibunya mencoba mengikhlaskan kepergian Alika itu.

Esoknya, Ibu Alika memberi kabar kepada Dira, dan Dira pun seakan tak percaya mendengar kabar itu. Dira baru menyadari bahwa tingkah aneh Alika terhadapnya selama ini adalah pertanda bahwa dia akan pergi untuk selamanya. “Ternyata bukan dia yang merasa aku tinggalkan, tetapi aku.. Aku yang dia tinggalkan dan gak akan pernah kembali lagi. Bodohnya aku ketika sama sekali tak menyadari sikapnya itu”, Dira pun merasa bersalah dan terisak. Dira mencoba tabah dan mengikhlaskan Alika. Dia hanya mengingat keinginan Alika, untuk bisa membangun sebuah panti asuhan dan semoga dia bisa mewujudkan keinginan Alika yang tertunda itu. Selamat jalan Alika, semoga kamu diterima disisiNya.

2 comments :

  1. T_T

    pas baca lagi dengerin lagu Cancernya MCR pulak awak..

    sad ending bgt ni cerpennya..
    hiks..

    ReplyDelete
    Replies
    1. yeay!

      berhasil buat "mewek" nih urang, hehe..
      makasih ya ubiit ^_^

      Delete

Silahkan beri penilaian, kritik dan saran yang membangun. Mohon tidak menyertakan link aktif atau komentar spam. Terima kasih :)

My Instagram

Made with by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates