Cerbung: Setumpuk Surat dari Masa Lalu II



Cerpen Setumpuk Surat Dari Masa Lalu

Malamnya Rea memasukkan Rudi ke grup SD.
"Eh, ini Rudi ya? Kok bisa punya nomornya kamu Re? Aah.. Ada yang baru ketemuan niih.. " seru Anti.
"Halo. Sehat semua kan? Iya kemaren aku sama Rea nggak sengaja ketemu di bioskop," jelas Rudi.
"Benar tuh, kami bertiga jadinya nonton bareng," sambung Eza.
"Lah, jaga nyamuk dong kamu Za, haha.." celetuk Yuli, "Rea mana nih.." celetuknya lagi.
"Aku nyimak aja," ujar Rea.
"Hati-hati ada yang CLBK, hihi.." ujar Eza.
"CMBK dong Za, Cinta Monyet Bersemi Kembali, haha.." celetuk Anti.
Obrolan di grup terus berlanjut. Namun, Rea dan Rudi tak lagi menanggapinya.

Hp Rea berdering, panggilan Rudi dari WA,.
"Halo Re. Besok kamu ada waktu nggak? Aku mau ajak kamu jalan," kata Rudi di ujung telepon.
Rea berpikir untuk menolak halus ajakkannya, "Jangan Re jangan.. Rudi itu udah punya pacar," batinnya gaduh.. "Duh, sorry ya Rud. Aku nggak bisa.. Hmm.. Aku mau.. Mau bantuin ibu, iya mau bantuin ibu," kata Rea mendadak gagap.
"Ooh.. Ok, kalau gitu besok aku ke rumah kamu ya. Aku akan ajak Luna. Ada yang mau aku omongin sama kamu Re," seru Rudi, yang jelas saja menbuat Rea semakin membencinya.

"Rud! Kamu itu nyadar nggak sih.. Kamu itu udah punya pacar. Nah sekarang malah mau ke rumah aku bareng pacar kamu. Maksud kamu apa?! Mau bikin aku sakit hati atau semacamnya. Gila ya kamu Rud!" Rea seakan tak bisa membendung emosinya.
Rudi jadi bingung, tapi Ia menangkap apa yang Rea maksud, dia cemburu.

Besoknya di hari Ahad, Rea tampak santai membaca buku di ruang tamu. Dan saat mendengar suara ketukkan pintu dari luar, "Iyaa.. Sebentar," jawabnya.
Rea sangat terkejut dengan kehadiran Rudi dan seorang perempuan di sampingnya, "Assalamu'alaikum," salam Rudi.
"Wa'alaikumsalam. Rudi, aku kan udah bilang sama kamu.."
"Tenang Re, sorry. Boleh aku masuk. Please!" pinta Rudi.
Dengan menghela napas panjang, Rea pun mempersilahkan mereka berdua masuk.

"Re, aku mau kenalin kamu sama Luna. Luna ini sempat mengalami kecelakaan waktu kecil, sekitar umur 9 tahun. Wajahnya rusak parah, tapi alhamdulillah, Luna masih diberi kesempatan untuk hidup. Dan, kamu tau penyebab aku pindah sekolah saat kelas 6? Karena aku dan Ayahku harus merawat Luna yang di operasi di Korea. Ayah sengaja mengajakku karena memang sekaligus ingin aku melanjutkan pendidikan disana. Dan kamu tau kalau Luna ini adalah.."
"Rayya.." sambung Rea.
Rudi mengangguk pelan.

Perlahan air mata Rea menetes membasahi pipinya, "Ya ampun Rud, sorry banget ya. Aku udah mikir yang enggak-enggak sama kamu dan Luna," pelukan erat pun mendarat di tubuh mungil Luna.
"Soalnya kamu jadi cantik sekali, aku jadi benar-benar pangling," ujar Rea.
"Iya kak, waktu itu aku malu sama muka aku yang hampir nggak berbentuk lagi, makanya aku bilang sama Ayah dan Mas Rudi untuk mengganti namaku," jelas Luna.

"Jadi, sekarang kamu mau dong kalau aku ajak jalan?" celetuk Rudi.
"Umm.. Untuk sekarang boleh lah. Tapi untuk seterusnya.. Ya boleh juga, hehe.." seru Rea.
Rudi dan Luna pun tampak tertawa.
"Oiya Rud, aku mau kasih tahu kamu sesuatu, bentar ya," Rea beranjak menuju kamarnya.
Lalu Ia datang dan memberikan setumpuk surat yang Rudi tulis untuknya.
"Wah wah wah.. Udah berapa tahun berlalu ya Re.. Haha.. Ternyata tulisanku bagus juga ya," seru Rudi memuji diri sendiri.
"Haha.. Dasar kamu Rud, nggak pernah hilang sifat kepedeannya," celetuk Rea.

"Re, tadi waktu di telpon, kamu sempat bilang aku gila kan?" ujar Rudi.
"Hehe.. Iya Rud sorry. Aku lagi emosi sih itu. Maaf banget.." kata Rea.
"Tapi kamu benar kok Re, aku memang gila.. Aku tergila-gila sama kamu, ahahahaha.." jelas Rudi sedikit gombal.
Tawapun pecah. Tampak kebahagiaan sedang menyelimuti hati mereka.

~ T A M A T ~


Posting Komentar

0 Komentar