BLANTERWISDOM101

Cerpen: Ulang Tahun Perkawinan

Thursday, December 13, 2018

Minggu pagi ini mataku terbuka sedikit lebih lama dari biasanya. Dan aku tak melihat keberadaan Mas Handi disampingku. Kemana Ia sepagi ini? batinku bertanya. Aku mencoba memanggilnya, namun tak ada jawaban.

Ingin rasanya segera menyegarkan diri, tapi badan ini terasa sangat berat. Perutku terasa tak nyaman. Seperti mual. Sudah 3 hari ini aku merasakan hal yang sama setiap pagi.

Aku lalu beranjak dari tempat tidur nyaman ini. Mengambil handuk dan sebuah test pack di dalam laci meja sebelah kasur. Berharap sebuah anugerah datang pagi ini, dari Yang Maha Kuasa.

Setelah selesai berberes diri, aku pun turun ke lantai bawah, memastikan kondisinya. Ternyata, sesuatu yang tak biasa terpandang begitu mengejutkan.

Di atas meja makan telah terhidang sepiring nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi dan segelas teh hangat, kesukaanku. Namun mataku tertuju pada sebuah kertas yang tersandar di gelas tes hangat, tertulis di secariknya "Happy anniversary sayang" yang disudutnya tergambar sebuah hati.

Aku baru ingat, kalau hari ini tepat 2 tahun yang lalu, Mas Handi menghalalkanku dengan ijabnya. Aku tersenyum super sumringah. Ternyata Mas Handi bisa seromantis ini.

Selesai sarapan, aku mencoba menelpon Mas Handi, 'nomor yang anda tuju sedang sibuk...' aku pikir Mas Handi sedang menelpon kliennya, yasudahlah. Aku pun melanjutkan kegiatan dirumah.

Sejak 3 bulan terakhir ini, aku berhenti bekerja, karena memang ingin mengistirahatkan diri. Mas Handi juga mendukung. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah agar aku bisa hamil. Sudah 2 tahun ini kami menikah, namun belum ada tanda-tanda. Sempat ditahun pertama aku mengalami keguguran, karena kondisi janinku yang lemah. Maka dari itu kami sepakat atas keputusan ini.

Sedangkan Mas Handi bekerja sebagai EO. Sudah 1 tahun ini kami memiliki kantor sendiri.

Dengan hati riang gembira tiada tara, aku pergi berbelanja dan akan memasak makanan kesukaan Mas Handi, sop ayam jamur, capcai udang dan sambal terasi. Sederhana memang, tapi alangkah bahagianya memasak untuk orang yang kita cintai.

Siang ini aku mencoba menelpon Mas Handi, namun nada sibuk yang sama kembali terdengar. Pesan Whatsapp-ku juga belum dijawab. Mungkin hari ini Mas Handi sedang banyak klien. Aku pun berpikir positif.

Pukul 4 sore ini aku mulai memasak. Agar jika Mas Handi pulang, semua makanannya tetap hangat. Biasanya Ia sampai dirumah pukul 6 sore. Tapi sudah lewat 1 jam, Mas Handi belum juga datang.

Aku mulai cemas. Tidak biasanya Mas Handi pulang terlambat. Kalaupun begitu, Ia pasti menelponku. Dan ini yang ketiga kali aku menelponnya, namun nadanya masih tetap sibuk. Apa Ia Mas Handi sesibuk itu? Pikiranku mulai kacau. Aku mencoba menenangkan diri. Tenang Ditaa, tenang...

Hidangan sudah tersaji diatas meja kurang lebih satu jam. Sekarang sudah pukul 8 malam. Aku terduduk di kursi meja makan, menunggu Mas Handi. Mataku mulai berat.

"Assalamu'alaikum. Sayang..." terdengar sura Mas Handi dari pintu depan.

Aku tersentak dan bergegas membukakan pintu, "Wa'alaikumsalam," jawabku.

Saat aku membuka pintu, sesuatu mengejutkan terjadi lagi, "Maaf ya sayang. Mas nggak sempat nelpon tadi. Alhamdulillah, banyak klien yang datang, banyak banget yang mau nikah bulan ini, haha... Ini permintaan maaf dari Mas," jelas Mas Handi sambil memberikan buket bunga mawar indah.

"Ya ampun Maass... Makasih. Aku sempat khawatir juga tadi. Seharian telpon Mas sibuk terus. Mas, sini deh sini..." aku mengajaknya menuju ruang makan.

"Wah, kamu masak sebanyak ini?" tanyanya.

Aku pun mengangguk tersenyum.

"Ayo makan sayang, aku udah laper, tadi juga belum sempat makan. Kliennya itu lho banyak banget permintaannya..." saat Mas Handi meneguk segelas air, aku menunjukkan sesuatu padanya.

"Mas," aku memegang test pack yang terlihat tanda positif.

Terdiam sejenak dan Mas Handi menghampiriku, "Ini beneran sayang?" Ia bertanya lagi, sekedar memastikan.

Aku mengangguk pasti dan tersenyum terharu.

"Alhamdulillah..." kami pun berpelukan.

Setelah sekian lama kami menunggu momen indah ini. Akhirnya Allah mempercayakan titipanNya kepada kami. Insya Allah, kami akan menjaga dengan baik amanahMu ini. Terima kasih ya Allah...












Sebuah cerita dari pengalaman seorang teman. Terima kasih.


Share This :
Kyndaerim

Seorang Ibu biasa yg suka berkhayal dan main sama anak. Wajib follow, haha! Jangan bosan baca ceritanya yaa.. Supported by Bayu Pradana

Silahkan beri penilaian, kritik dan saran yang membangun. Mohon tidak menyertakan link aktif atau komentar spam. Terima kasih :)