Cerpen: Jodohku


Ini adalah liburan semester dan merupakan kali keduanya aku akan pergi bertemu dengan kekasihku (pujaan hatiku, dambaan jiwaku yang paling aku sayangi sejagad raya ini) yang berada di seberang pulau tempatku tinggal.
“Sayang, ini aku udah mau nyampe stasiun. Tungguin aku yaa.. Love you..”, itulah isi SMS-ku kepada kekasihku Indah sebelum sampai di Jogja.
Dan dia pun menjawab, “Iya. Hati-hati ya sayang. Love you too..”.
Kalau dipikir-pikir pertemuanku dengan Indah itu sangatlah unik bin ajaib. Kenapa? Begini ceritanya.
Waktu itu aku masih duduk dibangku kelas tiga SMA. Aku selalu berjalan kaki menuju ke sekolah, karena jarak dari rumah menuju ke sekolahku itu tidak begitu jauh. Suatu hari aku hendak membuang sampah tepat ditempat pembuangan sampah milik pemilik rumah yaitu aku sendiri, aku menemukan secarik kertas berwarna biru muda bercampur pink yang sudah tak berbentuk lagi alias sudah kusut plus kucel. Aku pun tertarik, kemudian mengambil kertas itu.

Hatiku pun bertanya-tanya, kemudian aku merapikannya lalu membaca tulisan yang ada dalam kertas itu.

“Dalam diam aku menangis..
Dalam riang aku meringis..
Namun, semua itu t’lah terkikis..
Perasaan yang tiada bersisa dan kemudian habis..”

Aku belum bisa mengira siapakah gerangan dan apakah maksudnya dari puisi ini. Aku lalu menyimpannya didalam tas, dan lalu lanjut berjalan ke sekolah.

Hari ini keadaan dikelasku sedikit berbeda dan membuatku juga murid-murid yang lain menjadi riang gembira, karena guru kimia sekaligus wali kelas kami yang super killer tidak dapat mengajar dikarenakan oleh suatu hal yang (tidak begitu) penting (bagi kami).

Sepulang sekolah aku langsung pulang kerumah. Bukan karena apa-apa, tapi ya karena memang bukan karena apa-apa. Aku pun selesai berberes, mengisi perutku yang sedari tadi bermain musik keroncong, lalu masuk kekamar, membuka tas dan kemudian mengambil salah satu buku pelajaran, tempat dimana aku menyelipkan kertas puisi yang aku temukan pagi tadi di tempat sampah.

Aku mencoba menelisik, menyelidik juga menggelitik siapa penulis puisi ini. Aku perhatikan mulai dari tulisan, kata demi kata, bait demi bait, setiap titik koma yang terdapat dalam puisi itu. Namun, aku belum bisa menemukan jawabannya.

“Ya sudahlah, aku simpan saja kertas ini, siapa tau besok bakalan ada lagi puisi semacam ini di tempat sampah didepan rumahku”.
Esok pun datang, dan tak kusangka ternyata kertas yang persis seperti kertas itu pun ada lagi di tempat sampah. Dengan tingkat ketidakrapian, kekusutan dan juga kekucelan yang sama.

Hari ini terlihat indah..
Dihiasi langit nan cerah..
Dengan perasaan hatiku yang tiada gundah..

“Kalau dilihat-lihat dari tulisannya (titik, koma, bentuk huruf dan dari baunya) penulis puisi ini memang orang yang sama. Dan kalau dibandingkan dari puisi yang pertama, sepertinya kali ini sang penulis merasa tenang dan bahagia”, ujarku bak detective conan yang sedang melakukan penyelidikan sebuah kasus.
Dari puisi kedua itu, pikiranku (yang kreatif, imajinatif dan hiperaktif ini) mulai berputar, akan ku balas puisi ini. Namun, tak berbentuk puisi (karena aku bukan tipe cowok yang begitu romantis) melainkan hanya semacam surat perkenalan biasa. Aku pun mulai menulis surat itu, yang isinya kurang lebih seperti ini.

Dear, penulis puisi..
Buat siapapun yang membuang puisi dikertas biru dengan sedikit sentuhan pink itu.
Aku harap kamu dalam keadaan tak sadar saat membuangnya.
Karna aku pikir puisi itu sangat Bagus, seperti namaku J
Salam kenal ya..”

Sedikit berharap-harap cemas juga, apakah orang itu akan membaca suratku ini ataukah mengabaikannya? Entahlah, aku hanya bisa menunggu sampai besok.
Sepulang sekolah aku langsung menuju TKP yaitu tempat sampah di depan rumahku, hampir seperti seorang pemulung yang mengais-ngais sampah.

“Bagus.. Kalau kamu kekurangan biaya buat sekolah, bilang sama ibu ya. Mungkin ibu bisa bantu”, kata seorang tetanggaku yang tiba-tiba muncul seperti jin dalam botol.
“Waduh.. Ini ibu udah mikir yang enggak-enggak aja”. “Eh, gak gak kok bu. Aku lagi nyari ballpoint ku yang terjatuh disekitar ini”, tangkas ku.
“Naah.. Ini dia suratnya”, aku cepat-cepat masuk kedalam kamarku (dari pada ada lagi tetangga yang melihat tingkah anehku ini) lalu membacanya.

Hari ini aku kirimkan balasan suratmu..
Walaupun aku tak tau siapa dirimu..
Sengaja kutinggalkan nomor ini agar kamu bisa menghubungiku..
0812 3456 7890
Agar aku bisa bercerita lebih banyak kepadamu..”

“Waah, dia benar-benar membalasnya dan memberikan nomor ponselnya”, tanpa pikir panjang, aku pun segera menghubunginya.
“Hallo, malam”, suara lembut diujung telepon membuatku terdiam sejenak. “Halloo..”.
“Eh, iya hallo. Ini dengan Bagus, yang mengirim surat itu”, jawabku dengan sedikit deg-degan. “Oh, Bagus ya. Aku Indah. Sebelumnya aku minta maaf ya, karena mungkin kamu bertanya-
tanya tentang puisi-puisiku itu”, jelasnya singkat.
“Gak apa-apa kok. Aku senang baca puisi kamu itu. Bagus juga Indah, ehm..”, dibalasnya dengan tertawa kecil.
“Tapi kalau aku boleh tau, kenapa kamu membuang puisi-puisi itu?”, tanyaku penasaran.
“Aku gak ada maksud apa-apa tentang puisi-puisi itu. Aku hanya menuangkan perasaanku. Tapi setelah semua itu tertuang dalam tulisan, aku langsung membuangnya, karena dengan begitu hatiku jadi tenang. Aku juga gak tau ya kenapa bisa gitu”. Aku terdiam lagi. “Guus.. Kamu gak tidurkan?”.
“Eh, gak gak. Cukup aneh juga ya kebiasaan kamu itu. Sebelumnya ada yang menanggapi puisi kamu gak?”, seruku bertanya lagi.
“Justru itu yang aku herankan. Kamulah orang pertama yang mengutip puisi-puisiku”, lagi-lagi dia tertawa kecil.
“Jujur ya Ndah, aku suka sama puisi kamu. Hmm.. Boleh besok aku telpon kamu lagi?”, tanyaku dan (sangat amat) berharap Ia menjawab “boleh”.
“Boleh boleh aja. Yaudah deh, sampai besok ya Gus”, pamitnya.
“Yes”, dalam hatiku. “Sampai besok juga Ndah”.

Dan sudah kurang lebih tiga hari ini aku selalu menelponnya, tak peduli berapa banyak pulsaku tersita, yang penting aku bisa ngobrol dengannya, bercerita tentang apapun, kesukaan, tanggal lahir, zodiac, shio, sampai tentang target married pun kami bahas.

Sepulang sekolah hari terlihat mendung dan tak lama hujan pun turun, membuat langkahku terhenti sejenak untuk berteduh disebuah toko boneka. Dari luar etalase aku melihat sesosok gadis berparas cantik bersama seorang anak perempuan imut sedang memilih boneka. Aku tersenyum, itu mengingatkanku pada seorang gadis yang ku kenal melalui sebuah puisi dan mendengar suaranya ditelepon. “Aneh, kenapa tiba-tiba aku bisa teringat Indah ya?”, batinku.

Tak lama, aku pun memasuki toko itu, berniat untuk membeli sebuah boneka untuk Indah jika suatu saat nanti kami bertemu.

Saat aku hendak mengambil boneka yang kupilih, ternyata anak perempuan yang kulihat tadi juga mengambil boneka yang sama.

“Eh, adik kecil, kamu mau boneka ini ya?”. Anak itu hanya mengangguk dan tersenyum, mungkin dia tau ya bahwa sosok yang dilihatnya itu adalah seorang yang tampan.
Tak lama, terdengar suara lembut memanggil nama anak itu, “Nadaa.. Udah dapat belum bonekanya?”.
Suara itu mengingatkanku pada seseorang, Indah.
“Udah kak”, kata anak kecil itu sambil menunjukkan bonekanya.
Saat mata kami saling berpandangan, aku lalu tak ragu menyebutkan namanya, “Indah?”.
Gadis itu terbengong (heran), “Iya. Siapa ya?”, tanyanya.

“Aku..”. “Bagus?”, sambernya yang mungkin juga telah mengetahui dari nada suaraku yang ngebass.
“Waah, kebetulan sekali kita bisa bertemu disini. Lagi cari boneka untuk siapa Gus?”, tanyanya dengan mata yang menatapku begitu dalam (tapi mungkin hanya perasaanku saja).
Dengan hati yang sedari tadi berdegup tak menentu, aku langsung memberikan sebuah boneka yang sebelumnya sudah aku pilih. “Untuk kamu Ndah”.

Entah tertegun, entah kagum, mungkin dia heran melihat tingkahku.
“Beneran buat aku?”, tanyanya memastikan.
“Iya Ndah”. “Emm.. Makasih ya Gus”. “Indah..”. “He’em”. “Kamu mau jadi pacarku?”, aku tak tau entah dalam keadaan sadar atau pingsan.
Indah pun terheran (setengah mati), itu yang kurasakan.
“Gus.. Akuu..”, tanyanya lagi seakan tak yakin. Mungkin dalam pikirannya aku ini (lelaki) aneh.
“Umm.. Gak, gak apa-apa kok kalau belum bisa jawab sekarang. Tapi ntar malem aku telepon kamu ya”, seketika aku gagap.
Indah hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Ya udah. Aku duluan ya Ndah. Daa adik kecil”, pamitku dan segera membayar boneka itu.
Ya Tuhan.. Apa benar ini bukan mimpi?”, batinku berharap bahwa ini memang bukan mimpi.
Tak habis-habisnya aku terbayang kejadian tadi. Dijalan pun aku senyum-senyum sendiri.
“Nak Bagus, kamu perlu ibu temenin ke psikiater?”, tanya seorang tetanggaku yang kemarin itu, curiga.
Aku pun berlalu dan hanya memberikan sebuah senyuman kepada sang ibu.

Malam pun tiba. Tadinya aku agak ragu ingin menghubungi Indah. Namun, karena tak sabar ingin segera mendengar jawaban dari cintaku, aku pun memencet tombol panggil.
Sesaat sebelum jempolku sampai ditombol itu, tiba-tiba ada panggilan masuk, “Indah..”, aku pun menjawabnya. “Ha.. Hallo..”, kegugupanku datang lagi.
“Hallo Gus”. “Aku baru mau nelpon kamu Ndah”. “Ohya, tapi sekarang aku yang nelpon gak apa-apa kan Gus?”.
“Iya gak apa-apa kok Ndah. Jadii.. Kamu udah pikirkan bakalan jawab apa dari pertanyaanku siang tadi?”, ujarku to the point
“Udah Gus. Sebelumnya aku pngen ngucapin makasih banget karena udah ngasih aku boneka, nih sekarang lagi aku pegang. Dan aku juga berterima kasih karena kamu udah mengapresiasi puisi-puisiku”, jelasnya. “Iya Ndah, dengan senang hati”.
“Sebelum aku jawab, kamu siap gak kalau harus long distance relationship-an?”, tanyanya dan batinku merasa tak enak.
“Aku.. Siap-siap aja Ndah. Memangnya kenapa ya?”, batinku (makin) tak enak.
“Aku bakal ngelanjutin kuliah Di Jogja Gus. Tapi aku terima kamu. Aku juga suka kamu Gus. Sekarang aku tanya lagi ya, kamu siap kan kalau harus LDR-an?”, tanyanya lagi agar lebih meyakinkan.
“Ini jawaban dari lubuk hatiku yang paling dalam ya Ndah. Aku siap, benar-benar siap dan 100% siap menjalani hubungan jarak jauh”, jawabku benar-benar meyakinkan diri sendiri juga meyakinkan Indah.
“Makasih banget ya Gus”. “Iya Ndah. Aku bakal sempatin waktu buat ketemu kamu setiap liburan semester”.

Dan untuk terakhir kalinya aku dan Indah bertemu, sesaat sebelum kepergiannya ke Jogja.

“Hati-hati ya Ndah. Kabarin aku secepatnya dan jaga diri baik-baik”. Iya Gus. Pasti aku bakal ngabarin kamu. Kamu juga ya, jaga diri baik-baik”.
Ya, begitulah pertemuanku dengannya. Aku jadi tak sabar ingin segera bertatap muka dengan Indah kekasihku itu. dan tak berapa lama, aku pun sampai distasiun kota Jogja dan disambut denga pelukan hangat dari sang Indah.

Bagas Notes:
Indah..
Pertemuan kita memang sangatlah singkat dan dengan cara yang sangat unik, yang gak pernah diduga apalagi direncanakan. Aku sangat beruntung bisa memiliki seseorang seIndah kamu. Aku bakal ngejagain hati ini dari segala macam bentuk godaan dan aku juga bakal sayang sama kamu sampai kapanpun. Love you my Indah.

Indah Notes:
Bagus..
Ini pertemuan terunik yang pernah aku alami. Mungkin memang sudah takdir kita bertemu dengan cara yang sangat Indah dan Bagus ini. Aku sangat beruntung bisa menjadi orang yang bakal kamu jagain seumur hidup kamu. Dan aku juga bakal ngejaga hati ini cuma untuk kamu. Love you my Bagus.

9 comments :

  1. wew, nice banget critanya..
    alurnya udah niak turun gitu, keren deh..
    nice shot ky eehhh... nice job..

    ReplyDelete
  2. yeahyy..
    berhasil..

    terima kasih banyak ubiit ^^

    sihihii..

    ReplyDelete
  3. keren ceritanya mbak.

    by: andri wk

    ReplyDelete
  4. setelah baca, jadi pengen ketemu deh,,, :>
    #RP

    ReplyDelete
  5. @RP : ketemu bagus apa indahnya kang ;)) ?

    ReplyDelete
  6. sama penulisnya aja deh,, boleh ya,, :>
    #RP

    ReplyDelete
  7. Nicky : terima kasih ky :D

    ReplyDelete

Silahkan beri penilaian, kritik dan saran yang membangun. Mohon tidak menyertakan link aktif atau komentar spam. Terima kasih :)

My Instagram

Made with by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates