Biaya Rumah Sakit Semakin Mahal? Antisipasi dengan Cara Ini!



Biaya Rumah Sakit, Asuransi Kesehatan, Asuransi Jiwa, BPJS Kesehatan


Biaya rumah sakit yang semakin mahal, dirasa sangat membebani masyarakat kalangan menengah ke bawah. Bukan cuma itu, biaya pendidikan dan harga bahan pangan juga membumbung tinggi di masa pandemi belakangan ini.

Sejak Covid-19 semakin mewabah, mahalnya biaya rumah sakit membuat masyarakat enggan memeriksakan diri sekalipun bukan karena wabah. Hal ini pun menimbulkan perasaan was-was, sehingga kesehatan dianggap kurang penting.

Boro-boro ingin memeriksakan diri, membayangkan biaya rumah sakit yang mahal pun nggak sanggup. Imunitas yang kian menurun, menyebabkan mudah terserang penyakit. Mulai dari penyakit ringan seperti batuk, flu, demam, hingga penyakit berat seperti kanker, jantung, paru-paru, dan sebagainya. 

Tak sedikit masyarakat menengah ke bawah mengambil jalan pintas dengan menjual barang-barang berharga mereka guna keperluan biaya rumah sakit. Itu sebabnya dikatakan kesehatan mahal harganya. Maka pentingnya menjaga kesehatan diri dari segala macam penyakit menular atau tidak menular.

Biaya Rumah Sakit Semakin Mahal? Antisipasi dengan Cara Ini! 

Namun, untuk menyiasati biaya rumah sakit yang kian selangit, kamu bisa mengikuti 4 tips berikut ini, antara lain:

1. Mendaftar BPJS Kesehatan

Berdasarkan UU Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan UU Nomor 24 Tahun 2011 tentang BPJS mengamatkan setiap Warga Negara Indonesia (WNI) wajib ikut BPJS Kesehatan.

Itu sebabnya cara ini dapat menjadi pertolongan pertama saat biaya rumah sakit meningkat yang bisa digunakan untuk berobat di puskesmas atau rumah sakit. Dengan aktif membayar iuran setiap bulannya, maka ketika berobat, biaya akan ditanggung oleh pihak BPJS Kesehatan.

Sementara itu, apabila kamu seorang karyawan atau pekerja dengan upah, biasanya perusahaan langsung mendaftarkan kamu ke BPJS Kesehatan. Untuk iurannya juga langsung dipotong dari gaji bulanan kamu. Jadi, udah nggak pusing lagi bayar sendiri.

Untuk kamu yang bukan pekerja, kamu bisa mendaftar sebagai peserta mandiri yang membayar iuran sesuai kelas yang dipilih secara mandiri lewat auto debet bank, transfer manual, atau melalui agen pembayaran. Atau mendaftar sebagai Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang disubsidi pemerintah.

2. Mendaftar Asuransi Kesehatan Swasta

BPJS Kesehatan memang nggak menjamin risiko kesehatan sepenuhnya. Untuk itu, kamu juga perlu mendaftar asuransi kesehatan swasta untuk diri dan keluarga. Contohnya, BPJS nggak menanggung penuh pengobatan Covid-19, maka kamu dapat mendaftarkan diri pada perusahaan asuransi kemudian memilih asuransi Covid-19.

Dengan begitu, jika Covid-19 menyerang kamu dan keluarga, asuransi ini dapat digunakan untuk pengobatan di rumah sakit. Jadi, kamu nggak terlalu memikirkan biaya rumah sakit yang terlampau mahal. Pastikan asuransi yang dipilih yang sesuai dengan kondisi finansial dan kebutuhan ya.

3. Manfaatkan Asuransi Kesehatan dari Kantor

Kiat selanjutnya untuk mengakali biaya rumah sakit yang selangit ya manfaatkan fasilitas asuransi kesehatan dari kantor. Jangan takutkan masalah biaya, karena premi-nyakan kamu juga yang bayar setiap bulan yang dipotong perusahaan dari gaji sendiri.

Misalnya aja kamu sakit DBD, dan harus di opname di rumah sakit, asuransi ini sangat bisa kamu gunakan. Biasanya rumah sakitnya pun yang sudah bekerjasama dengan perusahaan tersebut. Nilai plafon pertanggungannya pun umumnya disesuaikan dengan jabatan kamu diperusahaan.

Misalnya sebagai staf, plafon konsultasi dokter sebesar Rp 200.000. Sementara posisi manajer sebesar Rp 400.000. Adapula fasilitas asuransi perusahaan yang menanggung seluruh biaya rumah sakit, namun adapula yang menanggung separuh saja. Walaupun begitu, setidaknya kamu tetap bisa berhemat untuk biayanya ya.

4. Saatnya Gunakan Dana Darurat

Cara terakhir ini bisa dibilang benar-benar pilihan terakhir, nih. Selain asuransi, kamu juga wajib memiliki dana darurat yang bisa digunakan untuk berbagai macam kondisi darurat. Seperti saat mengalami sakit cukup parah dan asuransi nggak menanggung semua biaya rumah sakit, maka dana darurat sangat recommended untuk digunakan.

Memiliki dana darurat yang cukup, akan membuaat kamu tenang. Sama halnya dengan menabung sih ya. Hanya saja, sebisa mungkin dana darurat tetaplah sebagai dana darurat dan jangan sampai dicampuradukkan dengan dana tabungan lainnya.

Idealnya dalam dana darurat, setidaknya dalam kurun waktu 3-6 bulan untuk pengeluaran rutin untuk lajang. Pasangan dengan 2 anak atau lebih sekitar 6-12 bulan pengeluaran. Dana darurat bisa dikumpulkan dengan menyisihkan 10-20 persen dari pendapatan setiap bulannya.

Sekadar pengingat sekaligus buat mengantisipasi, ada baiknya kamu perlu tahu biaya-biaya rumah sakit yang bisa bikin tekor. Hal ini penting agar kamu bisa mulai mempersiapkan diri mengalokasikan simpanan khusus buat berobat atau ambil asuransi tambahan selain BPJS.

Kebutuhan Biaya Rumah Sakit yang Perlu Dipersiapkan

Sering kali masyarakat takut membayangkan biaya rumah sakit yang semakin tinggi. Untuk itu, berikut saya bagikan gambaran kebutuhan biaya rumah sakit yang dilansir dari berbagai sumber, simak yaa..

1. Rontgen: Rp200 ribu

2. Rawat Inap: Rp250 ribu

3. Biaya ambulans: Rp600 ribu

4. Cuci Darah Rp1 juta

5. Tes Darah: Rp1 juta

6. CT Scan: Rp1 juta

7. Kemoterapi: Rp2 juta

8. Biaya bedah: Rp3 juta

9. Operasi Caesar: Rp11 juta

10. Perawatan Covid-19

Jangan kaget ya melihat daftar kebutuhan biaya rumah sakit di atas. Yang terpenting, jaga kesehatan dan persiapkan dana darurat dengan sebaik-baiknya. Semoga bermanfaat. Salam sehat selalu. Sampai jumpaa..



Posting Komentar

1 Komentar

  1. Saya malah memutuskan kontrak dengan asuransi swasta. Jenis unit link. Alasan lain adalah beberapa kali berurusan dengan BPJS kesehatan dan saya nilai lumayan bagus, sedangkan asuransi swasta tidak pernah digunakan karena harus melalui prosedur yang lumayan ribet

    BalasHapus

Silakan berkomentar dengan bijak dan bertanggung jawab. Jangan lupa berkunjung kembali ya.

Promo Tour Bali Murah