Cerpen: Menjaga Hati

Blooming Sparkly Red Rose

Cerpen: Menjaga Hati



Cerpen Cinta: Menjaga Hati

"Ren, kamu yakin mau datang ke nikahannya Niko?" tanya Radit.
Veren mengangguk yakin.
Radit mencoba berkata kembali, "Veren, kamu mau.." namun kalimatnya lalu dipotong oleh Veren.
"Dit! Dia itu memang mantanku, aku udah legowo sama kejadian itu, aku baik-baik aja kok, kamu ngerti nggak sih.." kata Veren sedikit kesal.
"Ren, aku cuma mau bilang, kamu mau aku temani.." lanjut Radit.
Veren menatap Radit, tersenyum dan mengangguk, "Thanks ya Dit."

Veren dan Niko memang pernah menjalin hubungan selama kurang lebih 5 tahun. Namun, karena Niko mendapatkan pekerjaan di luar negeri, dan Veren juga harus fokus dengan tugas skripsinya, maka mereka memutuskan untuk menyudahi hubungan mereka. Lagipula, mereka berdua mengaku bahwa tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh.

Akan tetapi, Niko yang terlalu lama berada di Belanda, membuatnya mengurungkan niat untuk suatu saat melanjutkan hubungan dengan Veren. Saat mereka kembali bertemu, Niko malah memberikan kabar tentang rencana pernikahannya dengan seorang gadis Belanda.

Mendengar hal itu, tentu saja Veren terkejut, dan hatinya hancur berkeping-keping. Padahal, Veren berharap, kelak akan bisa kembali bersatu dengan Niko. Akan tetapi, harapan tinggallah kenangan. Veren sempat mengurung diri dikamarnya. Namun, Radit berhasil meyakinkannya bahwa hidup harus terus berlanjut.

Sebagai sahabat, Radit memang selalu menjadi penenang dikala Veren membutuhkan sandaran. Ia selalu ada untuk Veren ketika sedih dan senang. Persahabatan mereka bahkan lebih lama dari usia hubungan Veren dan Niko. Maka tak heran jika Radit selalu khawatir dengan keadaan Veren, terutama masalah percintaan.

"Ren, aku udah di depan," telpon Radit.
Veren pun bergegas menuju depan rumahnya, "Hai Dit," sapanya.
Radit nampak terpukau dengan penampilan Veren malam itu.
"Dit! Kok bengong sih. Ayo berangkat," ajak Veren.
Mereka lalu masuk ke mobil, dan melaju dengan cepat.

Di tengah perjalanan, tak banyak percakapan yang terjadi. Entah kenapa saat itu Veren terlihat lebih pendiam dari biasanya. Radit tentu heran dengan sikap Veren malam itu.

Radit melirik Veren sesaat, "Kamu kenapa Ren? Kok kayak lagi mikir gitu."
Veren terkejut dengan pertanyaan Radit, dan seketika membuyarkan lamunannya, "Umm.. Perasaan aku kok nggak enak ya Dit."
"Nggak enak kenapa? Tentang Niko ya?" kata Radit mencoba menebak-nebak.

Veren tertunduk menghela nafas, "Waktu aku bilang ke kamu kalau aku baik-baik aja.. Sebenarnya itu terpaksa Dit. Aku mencoba menenangkan hatiku sendiri. Aku mencoba untuk memaafkan diriku sendiri. Tapi ternyata aku nggak bisa nyembunyiin itu semua," ungkap Veren seakan menyalahkan dirinya sendiri.

Seketika, Radit melambatkan laju mobilnya dan lalu berhenti di pinggir jalan.

"Aku ngerti kok kalau ini memang nggak mudah. Tapi, setidaknya kamu jangan memaksakan diri hanya karena ingin memperlihatkan ketenangan semata. Tapi akhirnya malah menyakiti diri kamu sendiri. Sebelum kamu jujur di hadapan orang lain, ada baiknya kamu harus jujur sama diri kamu sendiri dan pastikan semua itu tulus, agar hati tetap terjaga dari rasa terpaksa untuk mengakui," mata Veren mulai berkaca-kaca, dan saat itu juga pelukan erat mendarat dalam dekapan Radit, tangis Veren pun pecah, tak dapat lagi tertahan.

"Maaf ya Dit, aku jadi cengeng gini cuma gara-gara hal nggak penting ini. Aku bingung sama hatiku sendiri. Disatu sisi aku ingin memperlihatkan bahwa aku sesosok yang tegar. Tapi disisi lain, aku malah memaksakan hati," keluh Veren yang menyesalkan tangisannya sendiri.

"Tangisan itu kan bukan buat dia, tapi buat diri kamu sendiri. Itu tangisan bahagia kamu Ren. Tangisan untuk melepaskan rasa keterpaksaan, karena kamu berhasil mengalahkan ego kamu sendiri," ucap Radit merevisi arti dari tangisan sahabat cantiknya itu.

Pelukan erat itu lalu dilepas Veren, "Aku yang nangis kok kamu yang tahu maksudnya sih Dit. Ini nih makanya aku selalu nyaman dekat kamu. Makasih ya Dit," ungkapnya lagi.

"Karena aku selalu ngertiin kamukan?" sambung Radit.
Veren melirik tajam Radit, "Dih, mulai kepedean nih anak. Udah ah yuk cari makan. Laper aku tuh,"
"Loh, nggak jadi kondangan nih kita? Dikit lagi nyampe loh. Tuh, hampir di depan mata," tanya Radit memastikan.
Veren menggeleng yakin, "Aku mau menjaga hati aku dari keterpaksaan. Jadi, aku nggak mau ketemu sama dia. Selain itu, aku juga mau menjaga hati agar bisa lebih tulus meninggalkan masa lalu."

"Naah, gitu dong. Ini baru Veren yang aku kenal, jujur, tulus, dan apa adanya," seru Radit.
"Udah bisa jalan dong kita, cari makan yang anget-anget ya Dit," pinta Veren.
"Biar emosinya bisa mencair ya Ren? Hehe.." ledek Radit.
"Iih.. Ngeledek mulu sih kamu Dit. Udah ayooo!"

Veren mengerti, bahwa memaksakan hati untuk berpura-pura tegar adalah salah. Akan lebih baik ia jujur pada hatinya sendiri, dan menjaganya untuk kemudian menerima kenyataan, dan membuang rasa sedih yang berlarut-larut.


Post a Comment

2 Comments

  1. Woow, apakah Radit akan jadi pacarnya di masa depan? Masih gantung nih mba :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. silakan dilanjutkan sesuai versinya mas, hihi

      Delete

Sponsored by Bali Digital Marketing Agency

Silahkan berkomentar dengan bijak dan bertanggung jawab. Jangan lupa berkunjung kembali ya.