Blooming Sparkly Red Rose

Cerpen: Tetangga Baru




Di Minggu pagi yang cerah, terdengar suara burung berkicau merdu. Awan putih dan langit biru, tampak kompak menyambut pagi itu.

Yanti yang baru saja menyelesaikan tugas rumah tangganya, kini tengah bersantai di dalam kamar. Tak lama kemudian, Arif sang suami juga masuk ke dalam kamar.

Sembari memperhatikan keadaan sekitar rumahnya melalui jendela kamarnya, "Mas, itu tetangga baru kita kayaknya orangnya nggak bersih deh," kata Yanti pada Arif.
"Memangnya kenapa?" tanya Arif.
"Soalnya beberapa hari ini, aku lihat dia lagi jemur baju, tapi semua baju yang dia cuci kayak nggak bersih gitu. Mungkin dia nggak ngerti caranya mencuci ya mas. Atau deterjen yang dia pakai nggak bagus," jelas Yanti menerka-nerka.
Arif hanya tersenyum dan berlalu.

Keesokan harinya, Yanti lagi-lagi mempermasalahkan tetangga barunya yang kurang bersih jika mencuci. Dan Arif masih belum menanggapi apa-apa dari cerita istrinya itu.

Beberapa hari berlalu, Yanti hendak menyapu ruang kamarnya, dan melirik ke arah jendela. Ia menaruh sapunya, kemudian berlari memanggil sang suami. Arif yang baru saja masuk dari pintu depan, seketika terkejut saat mendapati sang istri menarik tangannya.

"Mas.. Mas.. Sini deh, tuh lihat, baju yang dijemur tetangga baru kita, udah kelihatan lebih bersih dari beberapa hari lalu ya. Kayaknya dia udah bisa mencuci dengan benar ya mas. Atau deterjennya udah diganti sama yang lebih bagus," ungkap Yanti.
Arif lalu tersenyum, "Kamu tunggu disini ya," dan lalu ia menuju keluar rumah.

Sang istri tentu saja heran dan tidak mengerti apa maksud dari suaminya itu. Tiba-tiba Arif muncul dari luar jendela kamarnya, dan mengelap kaca jendela kamar mereka.

Kemudian, ia kembali masuk ke kamar, menghampiri sang istri, "Aku baru saja mengelap kaca jendela kamar kita. Karena aku pikir, jendela-jendela itu harus segera dibersihkan dari kotoran dan debu yang menempel," jelas Arif, lalu mencium kening sang istri, dan berlalu meninggalkannya di kamar.

Wajah Yanti memerah, ia malu karena selama ini yang ia lihat bukanlah cucian tetangganya yang kurang bersih, tetapi kaca jendela kamarnya yang tampak kotor.

Gif: tenor.com


Post a Comment

20 Comments

  1. Kita harus melihat segala sesuatu dengan mata dan pikiran yg jernih πŸ‘

    ReplyDelete
  2. Dalem banget maknanyaa mba, asli deh😭. Selama ini kebanyakan orang cuma peduli komentarin apa yg terlihat dari orang lain di luarnya aja, padahal yg sesungguhnya lebih buruk bisa aja diri sendiri.πŸ™„

    ReplyDelete
    Replies
    1. Naah, kaan..

      Terlalu sibuk ngurusin orang lain, sampe diri sendiri nggak keurus..

      Delete
  3. Waaaaaa, akhirnya makjleb banget mbak. si suaminya ini kok ya cool banget, nggak banyak ngomong, tp banyak aksi, pun ga ngomel. hahahah

    ReplyDelete
  4. Aduuhh ibarat kuman di seberang lautan nampak namun gajah di pelupuk mata tak nampak ya mbaa. Plak Plak banget ini ke hati. Thanks for reminder mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah terkadang kalo hidup bertetangga, haha..
      Masama kak Jihan..

      Delete
  5. Kadang suka gitu ya emang. Kesalahan orang mulu diliat, tapi lupa koreksi diri sendiri hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tau tuh si Yanti mah emang gitu orangnya, eh, haha..

      Delete
  6. Wah pesannya dapet bgt. Kadang kita langsung main hakim sendiri ya tanpa menengok hati kita dulu sebelum berprasangka

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini matanya terbuka emang, tapi hatinya tertutup, hehe..

      Delete
  7. Jangan pernah melihat sesuatu hanya dari luarnya saja ya. Penting itu.

    ReplyDelete
  8. pesan yang dalam disampaikan dengan cara yang sederhana, nice story, keep it up

    ReplyDelete
  9. Wkwkwk, yantii yanti. Pesannya silahkan introspeksi diri sendiri dulu sebelum menjudge seseorang πŸ‘πŸ‘πŸ‘ lanjutkaann...

    ReplyDelete
  10. Wah, ternyata Mbak yang bikin cerita ini ya...rasanya pernah di broadcast-an gitu. Jadi reminder juga memang, bahwa kita kadang cuma perlu mengubah sudut pandang agar bisa melihat sesuatu dengan lebih jernih dan berbeda.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe.. cerita ini memang banyak versinya mbak Leila.
      Iya mbak bener, jangan lihat dari satu sisi aja ^^

      Delete

Kyndaerim: Silahkan berkomentar dengan bijak dan bertanggung jawab. Jangan lupa berkunjung kembali ya.