Cerbung: Mengejar Rindu [end]




~ Terungkap ~

Sudah hampir 1 bulan ini tak ada kabar dari Rafli. Aku kehilangan? Umm.. I'm not sure. Hanya saja, timbul pertanyaan, kenapa? Beberapa kali aku mencoba mengirim pesan, dan dia hanya menjawab sekedarnya. Mungkin dia sedang sibuk, pikirku.

"Dek, kamu kenapa? Makan yuk, ibu udah nungguin tuh," ajak kak Rasty.

"Ini nih yang paling aku kangenin dari ibu, masakan ibu yang super enak, bikin mau makan terus," celetukku sambil menyantap makan malam kala itu.
Senyum ibu terpancar tulus, membuat damai hati dan jiwaku.

"Kak, bu, besok kita jalan-jalan ke pantai ya. Sekalian kayak piknik gitu," kataku yang dengan senagn mengajak serta mereka.
"Tumben, kamu lagi suntuk ya? Atau lagi.." kata kak Rasty meledekku.
"Kakaaak.. Aku baik-baik aja. Aku cuma mau nyenengin ibu kok, ya kan bu?"
"Dia lagi patah hati nih bu, makanya coba buat ngalihin kepatah hatiannya itu dengan jalan-jalan," lagi kak Rasty meledekku.
"Jangan dengari kakak bu."
"Anak muda zaman sekarang memang susah di tebak isi hatinya ya," ucap ibu sambil geleng-geleng.

Esok paginya, aku membantu ibu untuk menyiapkan bekal. Kak Rasty yang sedang memanaskan mobil sembari membersihkan butiran debu dibeberapa sisi jok.

"Permisi," terdengar suara perempuan dari luar gerbang.
Aku hanya melihat sekilas. Kak Rasty lalu menghampiri perempuan itu, sambil mengobrol di luar gerbang.

"Bu, udah siap?" tanyaku pada ibu.
Ibu pun berjalan dengan cantik menuju keluar rumah. Dengan segera pintu rumah aku kunci. Dan kamipun berangkat.

"Ibu senang ya, karena udah lama nggak ke pantai.."
Ibu manggut-manggut, "Senang bangetlah sayang. Terakhir itu waktu kamu umur 2 tahun, kita sekeluarga khusus nemani kamu buat main pasir, haha.." kenang ibu.
Aku tertawa, "Yang aku nggak mau pulang itu kan bu? Iya iya aku inget. Tapi, nanti pasti gantian deh ibu yang nggal mau pulang, soalnya pantai disini bagus luar biasa lho bu," ceritaku.
Kami pun tertawa dalam perjalanan yang menyenangkan itu.

"Oiya kak, itu tadi ada perempuan ngapain ya?"
"Oh itu, dia tanya alamat. Katanya lagi cari temannya yang tinggal di daerah sini. Dan kebetulan handphonenya hilang, dia cuma bermodalkan alamat rumah aja," tutur kak Rasty.
"Ooh.. Semoga aja dia segera dapat rumah temannya itu ya," doaku mendoakannya.
"Kakak juga bilang gitu tadi, persis," ujar kak Rasty.

Dua jam berlalu. Kami pun sampai di pantai cantik ini. Pasir putihnya yang halus, dan kilauan air laut yang tampak, sangat menentramkan hati. Walaupun sekarang tanpa ayah, tapi kami tetap merasakan kehadirannya disisi kami.

"Rasa penat seketika hilang ya. Akhirnya bisa sejenak melupakan seabreg pekerjaan di kantor," ungkap kak Rasty.
"Ya inilah gunanya kumpul keluarga di tempat yang bagus begini. Alhamdulillah bisa bareng sama anak-anak gadis ibu ini," kata ibu balas mengungkap.
Kami pun berpelukan, di iringi hangatnya senja sore itu.

Setelah satu harian kami memanjakan diri di pantai, kami pun pulang dengan hati senang.

Sesampainya di rumah, kami di kejutkan dengan keberadaan seorang perempuan dan laki-laki tepat di depan rumah.

"Eh, siapa tuh kak? Teman kakak bukan?" tanyaku.
"Loh, itu kan perempuan yang tadi tanya alamat," ujar kak Rasty.

Aku lalu turun untuk memastikan sekaligus membukakan gerbang.

Saat aku menghampiri mereka, dan sang lelaki lalu membuka helm full facenya. Betapa terkejutnya aku saat mengetahui sosok di balik helm tersebut.

"Rafli?! Rafli.. Kamu Raflikan?" seketika aku gugup dan tak bisa berpikir.
"Iya Risty, ini aku Rafli. Aku sengaja ke sini untuk menjemput rinduku," serunya tersipu malu, "Oh ya, ini Nirma, adik sepupuku yang kerja di disini, namanya Icha, jadi aku minta tolong dia untuk cari alamat kamu. Aku sengaja bikin kejutan ini. Sorry ya Ris," ceritanya panjang.
Aku langsung mengingat nama itu dan lalu manggut-manggut, "Ooohhh..."

"Oh, ini yang namanya Rafli, ayo masuk, masa mau ngobrol di luar begini," kata kak Rasty.
"Bu, kenalin ini Rafli, dan ini Icha," ibu pun menyambut jabat tangan mereka.

Aku benar-benar dama sekali tidak pernah menyangka, kalau Rafli benar-benar datang. Seperti perkataannya yang terdengar samar waktu itu. Semoga ini akan berakhir bahagia. Karena mengejar cinta dan rindu seolah menyatukan mereka dalam hangatnya senja.

~ End ~

Gif: tenor.com


Post a Comment

2 Comments

Kyndaerim: Silahkan berkomentar dengan bijak dan bertanggung jawab. Jangan lupa berkunjung kembali ya.