Cerpen: Telat Sahur

Blooming Sparkly Red Rose

Cerpen: Telat Sahur





"Yuuuurrr!!" suara teriakan khas yang kudengar setiap jam setengah 6 pagi. Memang tak memekakkan telinga. Tapi, cukup menyentak ragaku untuk sejenak menghentikan pekerjaan mencuciku, membilas tanganku yang penuh dengan busa deterjen, mengelapnya, lalu ku ambil sehelai kerudung instan bermotif bunga-bunga, dan bergegas menghampiri mas sayur yang sudah menunggu digerbang depan kosan. Tak lupa kusambar dompet biru dongker di atas meja.

"Pagi mas Mamat," sapaku ramah.
"Yo mbak, monggo dipilih-pilih, mumpung masih sueger," ujarnya dengan khas logat jawanya.

Aku pun berkeliling gerobak sayurnya, mencari wortel, labu jipang, kacang panjang, daun pre, kelapa parut, dan setengah kilo gram ayam potong. Untuk bawang merah, bawang putih, juga penyedap rasa, kebetulan stoknya masih ada.

"Udah mas," ucapku.
"Sampun mbak. Wortel 5000, jipang 1000, kacang panjang 2500, daun pre 1000, kelapa 2000, ayam 15000, jadi semuanya 26500, wes, 26 ae mbak yu," begitu katanya setelah aku merogoh kocek yang nggak terlalu dalam ini.

"Makasih banyak ya mas," ucap pamitku dan kemudian berlalu, bergegas menyelesaikan cucianku.

Aku Dara, dan temanku Rani. Kami ngekos bareng dan bekerja di tempat yang sama. Tapi, karena masih ada himbauan Work From Home (WFH), jadilah kami hanya bisa berkutik di rumah saja.

Rani sedang sibuk menyetrika baju. Sedangkan aku, sibuk di dapur. Berniat untuk memasak sayur lodeh dan sambal teri, sekalian buat menu sahur besok.

Aku dan Rani memang sudah lama kenal, dan berasal dari kampung yang sama pula. Beruntungnya lagi, aku sudah menganggapnya sebagai saudara, begitupun dengannya.

Kami juga sama-sama suka drama korea. Tapi, kalau udah nonton yang sedih-sedih, aku suka cengeng dan suka kebawa emosi. Satu lagi, kalau udah ada aktor yang cakep-cakep, bisa abis si Rani aku cubitin, karena melampiaskan kegemasanku sama dia.

"Ra, besokkan minggu, gimana kalau kita marathon film," ajak Rani yang sudah menyelesaikan setrikaannya.

"Eh, boleh deh. Tapi, jangan malem-malem ya Ran, ntar kesiangan sahur lho. Udah yok, isi amunisi dulu," seruku yang mengajaknya sarapan.

"Oke siap!"

Malampun tiba. Film pertama kami tonton selesai sholat tarawih berjamaah berdua.

"Ayo kita mulaaai!" semangat Rani.

Jam demi jam berlalu. Entah sudah seri keberapa yang kami tonton sampai jam 2 dini hari. Dan tanpa sadar, aku terbangun. Seperti mendengar suara yang tak asing ditelinga.

"Yuuuurrr!!"
Seperti setengah sadar, aku lalu tersentak, "Astaga, mas sayur! Ran, Ran, Ranii! Udah pagi inii.. Tuhkan kita nggak sahur, huwaa.. Sayur lodehku.." aku berteriak histeris, tapi untungnya nggak bikin heboh anak kos lain.

"Hhaah?! Aduuh, kok kamu malah mikirin sayur lodeh sih. Dasar.. Udah ayok buruan subuh, mumpung masih sempet nih," ajak paksa Rani.

"Iya udah ayok," sambungku yang lalu beranjak dari kasur.

Pelajaran pertama, begitulah kalau sudah terjebak hawa nafsu, jadi lupa segalanya. Jangan diikutin ya tingkah aku dan Rani.

Gif: tenor.com


Posting Komentar

4 Komentar

  1. Wah kuat banget begadangnya
    Kalau sudah jam segitu mah, saya sekalian sayur eh saur baru tidur. Dan subuhnya jam sebelas siang :D

    BalasHapus
  2. belajarlah dari pak sayur yang tetap konsisten membangunkan orang walaupun orang itu tidak sahur. hahahaha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaps! Tadinya malah pak sayur mau jualan jam 3 pagi, biar nggak pada telat sahur, wkwk..

      Hapus

Sponsored by Digital Marketing Agency Bali

Silahkan berkomentar dengan bijak dan bertanggung jawab. Jangan lupa berkunjung kembali ya.