Sanggupkahku ? [Part IV]




"Ya ampun Om, makasih banyak udah nyelamatin mama. Nggak ada yang salah dengan kejadian kemarin kok Om. Hana ngerti. Orang tua mana sih yang nggak mau lihat anak-anaknya bahagia. Maafin aku dan mama juga ya Om," ungkapku dalam.

"Seperti yang kamu bilang, tidak ada yang salah. Kita doakan saja semoga mama kamu segera pulih ya," ucap Om Robby.

"Aamiin."

Saat dokter keluar dari ruangan tempat mama di rawat. Aku lega, karena mama telah sadar dari pingsannya. Namun, yang membuatku sedih, ternyata mama terkena serangan jantung. Penyakit lama mama yang tak pernah lagi kambuh sejak 2 tahun terakhir.

"Maa.." aku menghampiri mama dengan air mata masih membasahi pipi.
"Sayang.. Maafin mama ya. Mama terlalu menuntut kamu untuk mendapatkan pendamping yang sempurna, padahal, hati lah terpenting," mama menangis dengan pernafasan yang masih dibantu dengan ventilator.

"Robby, maafkan aku. Karena telah salah berucap, serta berpikir. Sampaikan juga permintaan maafku pada Reno, dia lelaki baik. Da Hana, kamu adalah yang terbaik untuk mama. Sebentar lagi, mama akan bertemu papamu," ungkap mama tersenyum menangis, air mataku semakin deras mengalir.

Om Robby manggut-manggut, sambil menahan tangis.

Denyut jantung mama semakin melemah, "Hanaa, tuntun mama nak," dengan lirih mama memintaku menuntunnya mengucapkan Laila hailallah, "maa.. maafin Hana maa.." selesai dari mengucap kalimat itu, aku tak kuasa mendengar suara ventilator ya seakan memekakkan telingaku. Om Robby lalu mengajakku keluar ruangan di saat dokter dan beberapa perawat masuk.

Aku menangis terisak. Ingin sekali berharap banyak untuk kesembuhan mama, tapi aku sanggup bila kalimat itu telah terucap.

Om Robby mencoba menenangkanku, "Kita semua harus sabar dan ikhlas Hana. Ini semua sudah kehendakNya."

Tak berapa lama, dokter keluar ruangan, "Dokter.. Gimana mama saya dok ?" dengan panik ku bertanya, namun dengan perlahan dokter menggelengkan kepalanya dan berkata, "Mohon maaf, kami sudah berupaya menyelamatkan, namun Allah berkehendak lain. Innalillahi wainna illaihi roji'un, saya turut berduka. Semoga seluruh keluarga di beri ketabahan dan kesabaran," aku berjalan perlahan ke ruangan mama, dengan rasa haru dan pilu, aku memeluk erat jasad mama.

Mengapa secepat itu mama pergi ? Apa karena ini mama terus mendesakku untuk segera menikah ? Jika memang begitu, aku merasa bodoh, karena sangat tidak mengindahkan kata-kata mama. Tapi di sisi lain, aku ingat kalimat terakhir mama, bahwa beliau mengijinkanku untuk memilih pendamping sesuai kemauanku. Yang jadi pertanyaan sekarang, apakah aku sanggup, untuk melewati banyak hal tanpa mama ? Untuk mencurahkan isi hatiku pada mama ? Ini semua permintaan mama, aku harus menjadi perempuan kuat. Aku tak ingin mengecewakan mama.

Keluarga almh mama dan alm papa, telah datang dari luar kota, untuk membantuku melakukan persiapan pemakaman mama. Om Robby dan Reno pun tak terelakkan dari pandangan.

"Kamu yang sabar ya Hana. Semoga mama kamu husnul khatimah, aamiin," Reno berucap dalam, pandangannya tampak berkaca-kaca.

"Aamiin.. Makasih banyak Reno. Aku tinggal sebentar ya," ujarku permisi hendak menemui keluarga yang lain.

Hari demi hari berlalu, tanpa mama. Tanpa ada yang bertanya sesuatu setiap kali aku pulang kerja. Mama akan selalu ada di hatiku sebagaimana papa, ucapku pelan. Sekarang, mama sudah bahagia bersama papa. Dan kini, aku yang harus benar-benar memikirkan kebahagiaanku. Karena kebahagianku ini juga untuk mama dan papa.

Besoknya, aku datang ke kantor seperti biasa. Dan hari ini, akan kembali meeting bersama tim Om Robby. Tapi, aku melihat sosok Reno yang ikut dalam meeting siang itu. Dia tersenyum saat pertama kali aku masuk ruang meeting, akupun begitu, membalas senyumannya.

Saat memimpin rapat, aku sedikit gerogi. Karena ada Reno ? Mungkin, aku menjawab pertanyaan batinku sendiri.

Selesai meeting, Reno langsung mendatangiku, "Luar biasa kamu Hana. Aku sampai nggak berkedip lho dengar kamu jelasin rapat tadi," ungkapnya.

"Ah, kamu ada-ada aja. Eh, No, Om, ayo kita makan siang bareng. Aku tau tempat makan paling enak sekitar sini," ajakku semangat, karena memang perut sudah lapar berat.

Tibalah kami di tempat yang ku maksud. Om Robby memposisikan Reno di meja yang sudah ku pesan. Aku duduk di sebelah Reno. Pesanan demi pesanan pun datang tanpa menunggu lama.

"Umm.. Om, maaf, boleh Hana aja yang suapin Reno ?" tanyaku yakin memberanikan diri.

Om Robby dan Reno saling pandang, seakan tak percaya dengan yang kumaksud. Om Robby mengangguk tersenyum, itu artinya beliau mengizinkanku. Begitupun Reno.

"Maaf Hana, terima kasih," seru Reno.
Aku mengangguk tersenyum.

Di saat aku sedang fokus memberi suapan demi suapan kepada Reno, aku merasa risih, karena ada seorang perempuan yang sedari tadi memperhatikan kami. Dia duduk bersama seorang lelaki. Mejanya berada tak jauh dari meja kami.

"No, kamu lihat nggak perempuan yang duduk disana itu ? Dari tadi dia lihat ke arah meja kita terus," ungkapku jujur.

Reno hanya tersenyum, "Dia itu perempuan yang meninggalkan Reno disaat Reno sedang terpuruk," sambung Om Robby, "Biarkan saja Hana, entah apa yang ada dalam hatinya," aku sedikit kaget dengan pernyataan Om Robby.

"Udah lah pa. Aku udah lupain semuanya," ungkap Reno.

Aku terdiam. Tak lama setelah kami selesai makan, aku pun kembali ke kantor. Dan Om Robby mengantar Reno pulang.

Diperjalanan aku sempat berpikir, seandainya aku menjadi pendamping Reno, apa aku sanggup melalui hari-hariku dengan keadaannya ? Kenapa aku bisa berpikir sejauh itu ? Apakah aku mulai memiliki rasa kepada Reno ? Entahlah..


~bersambung dulu deh yaa.. ~


Post a Comment

0 Comments