Cerbung: Inikah Cinta ? (I)



Suatu hari aku bertemu dengan seorang temanlama, Ridho. Kami bertemu di tempat kerjaku. Dia mengantarkan adiknya yang mau melamar kerja.

"Vita..." sapa Ridho.

Aku pun menoleh, "Eh, Ridho. Kamu ngapain disini? Sehat Dho?" tanyaku dan kamipun bersalaman.

"Sehat Vit. Aku lagi nganter adik aku, dia mau negalamar kerja disini. Kamu sehat juga kan? Aku baru inget kalau kamu kerja disini," ujar Ridho.

"Sehat. Ini adik kamu yang paling kecil kan ya?" kataku mencoba mengingat.

"Kak Vita ini temen SMAnya bang Ridho kan," tanya Rini, adik Ridho, diapun menyalamiku.

Aku mengangguk, "Iya Rini, dulu tuh kamu masih SMP kelas 1 ya kalau nggak salah, masih imut-imut, sekarang makin cantik," kataku memuji.

"Wah, ada yang seneng niih," celetuk Rini.

"Eh, Hmm... Vit, aku balik dulu ya. Ayo Rin," kata Ridho dan mengajak adiknya pulang.

"Iya Dho, Rini, hati-hati ya," ucapku tersenyum.

Namun Rini lalu berbisik padaku, "Kak, bang Ridho kangen banget tuh sama kakak," ungkapnya dan lalu berlari menyusul Ridho.

Aku tersenyum heran. Semasa SMA, kami satu sekolah dan kebetulan juga satu kelas. Pernah suatu hari kami belajar kelompok di rumahnya, jadi sedikitnya aku mengenal adiknya Rini. Tapi semenjak aku berpacaran dengan Galang saat SMA kelas 3, dia seperti menjauhiku. Galang adalah anak basket terpopuler waktu itu.
***
Sudah waktunya jam makan siang, Galang, yang sampai sekarang masih menjadi pacarku, mengajakku makan siang bersamanya.

"Hi sayang," sapa Galang saat dia menjemputku dengan mobilnya.

Aku hanya tersenyum.

"Kamu kenapa? Tumben dari tadi diem aja," tanya Galang heran.

"Nggak apa-apa kok. Lagi pusing aja banyak kerjaan," jawabku sedikit malas.

"Ooh, kirain kenapa. Ya wajarlah. Namanya juga kerja, pasti ada capeknya, kalau nggak mau capek ya nggak usah kerja, itu tanda orang yang nggak mau sukses, pemalas," begitulah responnya.

Galang memang anak orang kaya. Dia adalah anak tunggal. Usaha orang tuanya ada dimana-mana. Ada satu hal yang membuatku ingin merubahnya adalah kesombongannya juga beberapa sikapnya yang kadang suka merendahkan orang lain. Beberapa kali kami coba membicarakannya, tapi aku pasti selalu kalah dengan segala argumennya. 

Saat kami sampai di resto baru miliknya, aku melihat Ridho. Ternyata dia bekerja sebagai pelayan. Dan terlihat dia berlari menghampiri kami untuk mengantarkan menu.

"Kamu mau pesan apa sayang?" tanya Galang.

"Terserah kamu aja," jawabku, tapi mataku tertuju pada Ridho, dia hanya tertunduk.

"Yaudah, orange juice 2 sama chicken katsu teriyaki 2 ya," ucap Galang.

"Sayang, kamu lihatin siapa sih?" tanya Galang.

"Nggak kok nggak ada," jawabku dan langsung mengalihkan pembicaraan.

Aku melirik sedikit ekspresi Galang yang sedikit heran karena tingkahku.

Sesaat setelah itu, aku sudah kembali ke kantor. Tapi pikiranku masih tertinggal di resto itu, karena Ridho. Akupun seperti melamun dan tak melihat ada cleaning service sedang membersihkan lantai sehingga aku menabraknya.
***
Besoknya aku datang ke kantor pada jam biasanya.

"Rini, kamu ngapain? Sendirian aja?" tanyaku yang melihat Rini sedang duduk di lobi kantor.

"Iya kak, aku di panggil interview. Aku tadi naik ojek kak. Kak Ridho lagi dirumah, dia sakit," jelas Rini, mendengar hal itu, aku berpikir sejenak.

"Hmm... Rini, nanti selesai interview, kamu tunggu disini dulu ya," aku sengaja menyuruhnya menunggu disini karena aku yang akan mengantarkannya pulang nanti.

2 jam berlalu, aku pun kembali menuju lobi memastikan bahwa Rini benar menungguku.

"Kak Vita, aku lolos. Mulai senin besok aku kerja," ungkap Rini gembira.

"Wah, selamat ya Rin. Yuk sekarang kita beli makan siang dulu, habis itu kakak anter kamu pulang ya," Rini pun mengangguk senang, padahal aku sudah tau sebelumnya jika dia diterima.

Dalam perjalanan pulang ke rumah Rini setelah tadi singgah sebentar membeli beberapa buah juga makan siang, kamipun mengobrol panjang.

"Jadi kamu sama bang Ridho tinggal bedua aja?" tanyaku serius.

"Iya kak. Bang Ridho yang selama ini biayain sekolah Rini sekaligus menghidupi kami. Karena itu juga bang Ridho memutuskan untuk berhenti kuliah," cerita Rini.

Orang tua mereka meninggal karena kecelakaan mobil saat Ridho lulus SMA. Mungkin karena itu juga dia lalu menghilang tak berkabar.

Sampailah kami dirumah Rini.

"Assalamu'alaikum. Bang Ridho... Baang... Astaghfirullah bang Ridho...!!" triak Rini dari dalam kamarnya, terlihat Ridho tengah tergeletak dilantai, mungkin dia terjatuh.

Kami berdua langsung mengangkatnya kedalam mobil dan membawanya kerumah sakit.

"Halo sayang, kamu dimana sih?! Aku telponin dari tadi nggak angkat?!" ketika sampai dirumah sakit, aku baru mengecek hp, terlihat 20 panggilan tak terjawab dari Galang.

"Aku lagi dirumah sakit. Nanti aku ceritain sayang. Ni sekarang aku mau balik kantor," aku menjawab seadanya.

"Rini, kamu jangan sedih, abang kamu nggak apa-apa kok. Kakak udah tanya dikter tadi. Sekarang kakak tinggal dulu ya. Tadi udah kakak beliin makan buat kamu, istirahat yang cukup ya. Nanti kalau sempat, kakak pasti mampir," jelasku pada Rini yang tengah menangis disamping Ridho.

Rinipun mengangguk, "Makasih banyak ya Kak Vita."

Aku tersenyum dan berlalu segera menuju kantor.
***
Sesampainya di kantor, aku melihat mobil Galang di parkiran. Dan ternyata dia telah menunggu di dalam ruanganku.

"Kamu dari mana aja sih?! Aku udah dari tadi nungguin kamu. Ada yang ingin aku bicarakan," ujarnya sedikit membentakku.

"Maaf, aku dari rumah sakit, menjenguk seorang teman. Kamu mau bicara apa?" jelas dan tanyaku balik.

"Aku mau pinjam uang kamu lagi. Urgent! Aku nggak mungkin ngomong sama papa, makanya aku datang ke kamu," ini sudah kesekian kalinya Galang meminjam uangku.

"Sayang, yang kemarin aja belum...." omonganku lalu dipotongnya.

"Kan udah aku bilang, aku bakal ganti secepatnya, ini semua demi kita, masa depan kita!" aku mulai tak mengerti apa maksudnya, kenapa tiba-tiba ngomongin masa depan? Entahlah...

"Memangnya kamu butuh berapa?" tanyaku agar semua cepat terakhiri.

"20 juta," jawabnya dan itu membuat aku sangat shock.

"Apa?! Kamu mau ngerampok aku?!" aku mulai kesal dan mencoba mengusirnya dari ruanganku.

"Kenapa kamu jadi ngusir aku?! Ok ok, aku keluar," dia akhirnya keluar tanpa sepatah katapun.

Seluruh isi kantor heran karena keributan yang kami ciptakan. Aku lalu terduduk dikursiku, menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri.

"Maaf bu Vita. Bu Vita nggak apa-apa?" tanya Novi sekretarisku.

Aku menggeleng, "Nggak apa-apa Nov. Novi, tolong batalin semua janji hari ini ya. Saya mau pergi dulu. Makasih Nov," kataku menyampaikan pesan dan pergi meninggalkan kantor.
***
Siang menjelang sore itu sangat kacau. Ini sudah berkali-kali terjadi. Tapi kejadian tadi adalah yang paling parah, memalukan. Aku dalam perjalan menuju rumah sakit, memastikan keadaan Ridho dan Rini baik-baik saja.

Aku mengetuk pintu kamar inap Ridho, "Ridho, syukurlah kamu udah sadar. Eh, ayo kita makan dulu, kalian pasti laper kan?" aku menyempatkan membeli makanan untuk Ridho dan Rini.

"Vita, makasih banyak ya. Tapi... Harusnya kamu jangan ngelakuin ini semua. Aku jadi ngerasa nggak enak sama kamu dan... Pacar kamu," ungkap Ridho.

Aku lalu duduk dikursi yang ada disebelah tempat tidur Ridho, "Hmm... Nggak apa-apa kok Dho. Aku tulus bantu kamu, aku ngerasa punya keluarga baru. Karena aku memang hidup sebatangkara. Dan soal Galang, nggak usah dibahas lah. Aku disini kan mau ketemu sama kamu... hmm, dan Rini," aku mendadak gerogi.

Terlihat Rini senyum-senyum, "Ketemu bang Ridho aja juga nggak apa-apa kok kak," sambungnya.

Aku pun hanya tersenyum, "Hmm... Aku balik dulu ya. Besok aku pasti mampir lagi," pamitku pada mereka berdua.

"Makasih ya kak, makasih ya Vit," jawab mereka berdua.

Aku tersenyum melambaikan tangan dan keluar ruangan. Handphoneku berdering, terbaca nama 'my Galang', aku tak menjawabnya, terasa malas dan tak ingin mendengar suaranya. Dan ini adalah panggilannya yang ke 15x, serta 20x pesan whatsapp.

Bersambung..


Posting Komentar

0 Komentar