Cerbung: Setumpuk Surat dari Masa Lalu

by - September 27, 2019


Cerbung: Setumpuk Surat dari Masa MaluRea adalah seorang guru Paud. Lokasi sekolahnya juga tak begitu jauh dari rumahnya.

"Bersih-bersih di mulaaaii!!" semangatnya membara, Ia hendak membereskan kamar tidurnya.

"Nah, gitu dong. Masa anak gadis kamarnya berantakan, kamu kan nanti bakal jadi seorang istri, jadi harus rajin," seru sang ibu.

Rea tersenyum malu, "Ya jangan ngeledek gitu dong bu.."

Namun saat membersihkan lemari, Rea menemukan setumpuk surat berwarna pastel, "Eh, ini kan.. Ko aku lupa ya nyimpen beginian disini, haha.." ucapnya pelan.

Malamnya, Rea mencoba chat di grup SD.
"Malam teman's.. Sorry nih ya, ada yang tahu nomor hp Rudi nggak? Hihi.."
Anti sebagai admin grup langsung membalas, "Rea sayang, kalau udah ada nomornya, pasti udah aku masukin grup dong."
"Wah, wah, ada yang kangen niih.." sambung Eza.
"Haha.. Sialan lu Za. Ok deh thank you ya Ti," tutup Rea.
"Yeh, gitu doang Ka. Kangen berat sepertinya ya, hihi.. " ledek Eza.

Mulai malam itu, sebelum Ia tidur, Rea menyempatkan untuk membaca surat-surat tersebut. Ada senyum yang tersirat di wajahnya, kenangan semasa SD yang menimbulkan kerinduan. "Kemana ya dia sekarang?" batinnya penasaran.

Hari ini Rea berencana berkeliling lapangan dengan sepedanya bersama dengan Eza teman SDnya dulu yang tinggalnya juga tak jauh dari rumah Rea.

"Re, nanti malam nonton yok, ada film baru loh," ajak Eza.
"Ayok. Tapi kamu yang traktir ya, haha.. Aku lagi krisis nih," seru Rea.
"Siaap!" jawab Eza setuju.

Sore menjelang.

"Ree.. Reaa.. Ada Eza nih. Masuk dulu Za," seru ibu Rea.
"Makasih tante."
"Loh, cepat banget Za, belum juga jam 6. Maghriban dulu lah," ujar Rea.
"Iya Re, nggak apa-apalah. Sekalian nanti kita sholat di mushola mall," jelas Eza.
"Oh ya iya. Bentar aku ambil jaket."
"Bu, pergi dulu ya. Assalamu'alaikum"
"Pamit tante. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati ya."

Selesai mereka sholat lalu berjalan menuju bioskop yang ada di lantai atas.

"Rea?" seseorang mengejutkan Rea dari belakang.
Rea mencoba menyatukan pikirannya, mengingat seorang lelaki yang berada di depannya itu, "Rudi! Ya ampun, apa kabar kamu Rud?" tanya Rea.
"Aku baik Re. Kamu juga baik kan. Kamu sama siapa ke sini?"hģťllļj
"Aku sama...", "Eh, Rudii.. Nggak banyak berubah kamu ya. Awet muda," samber Eza yang datang dari toilet.
"Ni orangnya datang," seru Rea.
"Oh, jadi kalian sekarang.."
"Eh, nggak enggak! Dia inikan tetanggaku, satu kampus pula dulu," jelas Rea.
"Oh, aku baru tahu lho," kata Rudi.
"Aku beli tiket dulu ya," ujar Eza.
"Kamu sendirian aja Rud?" tanya Rea lagi.
"Enggak, tadi aku janjian sama Luna, mana dia ya."

Batin Rea tak karuan, berpikir bahwa Rudi sudah mempunyai kekasih.

Terlihat Rudi mengambil hp nya, "Luna, dimana kamu? Jadi nonton nggak?.. Oh gitu, yaudah take care ya."
Rea semakin yakin dengan terkaannya.
"Nggak jadi datang dia. Aku nonton bareng kalian aja nggak apa-apa nih?" tanya Rudi.
"Nggak apa-apalah. Yaudah ayo masuk, teater kita udah di panggil tuh," lanjut Eza.

2 jam berlalu, filmpun selesai.

"Btw, Re, aku minta nomor kamu dong," seru Rudi.
"Ooya boleh, 081234567890."
"Eh, aku balik dulu ya, mau jemput Luna, bye Re, Za.." pamitnya.
"Bye Rud."
"Ayo pulang Re," ajak Eza.

Kejadian di bioskop tadi masih terngiang di kepala Rea, "Ya Allah, kalau memang dia sudah punya kekasih, kenapa Kau harus mempertemukan kami," Rea mencoba tegar.

"Hei! Melamun aja, nggak boleh itu, ntar cemilannya di makan sama aku lho," celetuk Eza sambil mengambil sejumput kacang di toples.
"Ah dasar!"
"Eh, Re, Rudi gimana? Udah hubungi kamu?" tanya Eza.
"Belum, aku juga belum masukin dia ke grup. Kayaknya dia udah punya pacar deh Za," jelas Rea sedikit ragu.
"Memang kenapa kalau gitu?" seru Eza.
"Ya aku mundurlah. Gengsi tau Za," ucap Rea lagi.
"Re.. Re.. Hari gini masih ngomongin gengsi. Ke laut aja sonoo.. Sekarang tuh zaman emansipasi wanita," seru Eza lagi, sedikit serius.
"Tahu ah Za," celetuk Rea, pasrah.

Malamnya, Rea memasukkan Rudi ke grup SD.
"Eh, ini Rudi ya? Kok bisa punya nomornya kamu Re? Aah.. Ada yang baru ketemuan niih.. " seru Anti.
"Halo. Sehat semua kan? Iya kemaren aku sama Rea nggak sengaja ketemu di bioskop," jelas Rudi.
"Benar tuh, kami bertiga jadinya nonton bareng," sambung Eza.
"Lah, jaga nyamuk dong kamu Za, haha.." celetuk Yuli, "Rea mana nih.." celetuknya lagi.
"Aku nyimak aja," ujar Rea.
"Hati-hati ada yang CLBK, hihi.." ujar Eza.
"CMBK dong Za, Cinta Monyet Bersemi Kembali, haha.." celetuk Anti.
Obrolan di grup terus berlanjut. Namun, Rea dan Rudi tak lagi menanggapinya. - Cerbung: Setumpuk Surat dari Masa Lalu.

Bersambung 》


You May Also Like

0 Comments

Silahkan beri penilaian, masukan dan saran yang membangun. Mohon tidak menyertakan link aktif atau komentar spam. Terima kasih :)




Supported by
 Bayu Pradana



close