Cat

21 September 2019

Cerbung: Hai! Terima Kasih, Sampai Jumpa II


Besok paginya, aku ingin komplain ke resepsionis. Namun pada saat itu mba~mbanya lagi sibuk menelpon dan banyak yang mengantri juga. Ah sudahlah, akupun melanjutkan perjalanan. Kali ini aku menyewa motor sampai 5 hari ke depan, selama aku di sini.

Berjalan berkeliling Bali, eh masih belum semua sih, yaiyalah masih 1 hari. Tanah Lot tujuan pertamaku. Perjalananku ditemani mbah google maps, haha.. Sekitar 1 jam berlalu, aku sampai di Tanah Lot, wisata unik di Bali ini tak hanya menawarkan pantainya yang indah, namun juga ada Kecak Dance Show, yang di buka setiap weeked mulai dari jam 7 malam dengan harga tiket Rp. 100.000. Sayang aku nggak bisa sampai malam, karena juga mengejar waktu untuk ke tempat wisata selanjutnya, huft..

Yaah, setelah capek berkeliling. Aku pun pulang dengan hati bahagia. Ingin cepat sampai di hotel rasanya.

Sesampainya di kamar, aku baru ingat kalau pagi tadi aku kan mau komplain, "Yaudahlah besok aja," ucapku pelan.

Aku berjalan pelan menuju ke kamar sembari mencari kunci pintu, tapi tiba-tiba aku melihat seorang lelaki masuk ke kamar 303, lalu menutup pintu kamarnya dengan keras. Aku lalu berlari menuju ke kamar, dan cepat-cepat membuka pintu lalu masuk.

Pagi ini aku terbangun lebih awal. Setelah mandi dan berberes, aku berencana mengunjungi Kintamani, tepatnya di Danau Batur. Namun saat aku keluar kamar, aku melihat seorang lelaki tergeletak di depan kamar 303. Spontan aku menghampirinya dan mencoba membangunkannya, "Mas, mas, aduuh.. ni orang pingsan kayaknya," kebetulan pintu kamarnya terbuka, aku langsung menariknya masuk dan mengangkatnya ke atas kasur, mana berat lagi. Aku langsung duduk di sofa tepat di depan kasurnya.

Tak berapa lama, dia pun sadar, dan langsung melihat keberadaanku. Sontak aku juga terkejut.

"Eh, sorry-sorry, aku salah kamar ya," ujarnya.
"Eh, bukan-bukan, ini memang kamar kamu kok. Tadi kamu pingsan di depan pintu, makanya aku gotong ke kamar. Jadi, kamu udah nggak kenapa-kenapa kan?" tanyaku sedikit khawatir.
Lelaki itu menggeleng.
"Ok. Kalau gitu aku pergi dulu ya," aku pun berlalu.

Namun setelah sampai di lobby, lelaki itu memanggilku, "Hei, tunggu! Kamu mau kemana?" tanyanya.
"Aku mau jalan-jalan, kenapa?"
"Please! Izinin aku ikut," lelaki itu lalu berlutut memohon agar aku mengajaknya.
"Eh eh, iya iya, berdiri dong, bikin malu aja. Umm.. Kamu orang Bali kan?" tanyaku lagi.
"Bukan, tapi aku sudah lama tinggal di sini. Oh, aku jadi tour guide buat kamu ya, anggap aja ini ucapan terima kasih dariku, please!" idenya itu membuatku berpikir, "Umm.. Bileh juga sih," batinku.
"Ok deh. Ayo, keburu siang," ajakku.

Dan kamipun berangkat menuju Kintamani. Perjalanan di tempuh selama kurang lebih 1 jam 40 menit. Tak ada obrolan selama dalam perjalanan, karena aku juga sedang mengambil gambar.

"Wuh, akhirnya sampai juga. Hmm.. Segarnya udara di siniiii.. Sekarang kita mau kemana?" tanyaku semangat.
"Desa Penelokan," jawabnya.

"Waah, bagusnyaa.." takjub Bella .
"Wisata Desa Penelokan Kintamani ini berada di atas ketinggian 1500 mdpl. Di sini kita bisa melihat pemandangan Gunung Batur dengan Danau Baturnya. Sini aku fotoin," jelas dan ucap lelaki itu.

Setelah beberapa kali memfotoku, dia lalu mengambil gambar kami berdua. Aku hanya tersenyum, "Buat kenang-kenangan. Tapi kalau mau dihapus juga nggak apa-apa kok," tiba-tiba Ia gerogi, "Ayo kita lanjut lagi, lewat sini," ajaknya menuju Danau Batur.

"Nah, kalau di lihat dari ketinggian, Danau Batur ini akan terlihat seperti bulan sabit," jelasnya lagi.
"Oh ya, wah.. Bagus sekali pasti," sambungku.
"Eh, makan dulu yuk. Tapi makan di warung pinggir jalan aja, hemat budget, hehe.." seruku.
"Ayo, berangkat!" sambungnya.

"Nah, ini dia. Nggak jauh dari danau, kita bisa lihat pemandangan di sini," ujarnya lalu mencari tempat duduk untuk kami.
Lagi-lagi aku tersenyum, melihat pemandangan indah dengan udara yang dingin, bikin perut makin lapar.

Pesanan pun datang.
"Hei, aku boleh tanya sesuatu?" seruku.
"Aku punya kebiasaan buruk, suka mabuk-mabukan dan joget nggak jelas, dan itu sambil video call sama pacarku yang lagi sekolah di LA. Malam kemarin sebelum aku pingsan, dia memutuskan hubungan kami, makanya aku lalu keluar untuk membuang uangku hanya untuk membeli minuman keras. Aku merasa konyol," cerita panjangnya.
Belum lagi aku bertanya dia sudah cerita duluan, batinku, "Oh, gitu. Udahlah lupain aja. Tapi sebelumnya sorry ya, mending kamu berhenti minum begituan, nggak bagus buat kesehatan. Ok mas-mas tour guide!" loh, kok aku jadi sok nasehatin gini, haha..
"Siap! Aku akan berusaha," sambungnya lebih semangat.
"Kita balik ke hotel aja ya, capek," ujarku lemas.
Dia pun mengangguk tersenyum.

Dalam perjalanan, sangking lelahnya, aku hampir tertidur, "Tidur aja nggak apa-apa. Tapi pegangan ya, biar nggak jatuh," seru lelaki itu.
Spontan akupun mengikuti perkataannya.

Bersambung..

No comments:

Post a Comment

Silahkan beri penilaian, masukan dan saran yang membangun. Mohon tidak menyertakan link aktif atau komentar spam. Terima kasih :)