Cerbung: Single Santuy Part I



Pagi ini dengan cepat aku berangkat bersama Pak Budi, supir kantorku. Hari ini aku akan ada pertemuan dengan calon investor asal Bali. Yup! Aku akan ke Bali, tepatnya di Denpasar. Tempat dimana aku bertemu dengan sesosok yang saat ini tak ingin lagi ke temui.

Sampailah aku di Ngurah Rai International Airport. Dengan santai berjalan untuk check in dan lalu menuju gate 6. Tak lama menunggu, pesawatku pun boarding dan take off pukul 5.40 wib. Tepat waktu.

2 jam di udara membuatku sedikit mual, seperti wanita hamil 3 bulan. Untungnya aku di bawakan mama ramuan sakti penghilang rasa mual dan pusing, apalagi kalau bukan teh plus jahe plus madu hitam original yang harganya pas di kantong. Haahh.. Rasanya lega setelah meminum ramuan turun temurun itu.

Setelah tertidur kurang lebih 2 jam, akupun sampai di Pulau Dewata nan indah ini. Tapi tetap saja perasaanku selalu tidak enak kalau menginjakkan kaki di Bali ini, rasanya hambar, bagai sayur tanpa asem. Bismillah, semoga saja ini hanya perasaanku yang harus kuat kuabaikan.

Aku di jemput oleh Pak Nyoman. Beliau bukan supir, melainkan manajer di perusahaan tempat ku akan bertemu sang visitor. Kurang dari 15 menit, kami pun sampai di hotel tempat aku akan menumpang tidur, mandi dan bersantai nantinya. "Terima kasih banyak Pak Nyoman," ucapku dan kemudian berlalu masuk ke hotel, menuju ke kamar untuk beristirahat.

Beruntung, aku mendapati sebuah kamar dengan view terbaik. Pemandangan pantai terhampar menyejukkan mata dan menenangkan hati. Ku hirup dalam udara segar ini. Namun semua terhenti, terasa menyesakkan relung hati, dari balkon lantai 10 ini aku melihat sosok horor, seorang lelaki yang pernah pergi meninggalkanku tanpa sebab yang pasti. Damn! Dalam hatiku. "Ngapain dia disini?!" dengan geram sambil kuremas pagar balkon dan memukul~mukulnya pelan lalu kembali ke kamar dan menutup rapat gorden, "Eh, ngapain juga di tutup, kan dia nggak lihat," akupun membuka kembali gorden berwarna coklat itu.

Aku mondar~mandir di dalam kamar. Bosan rasanya. Ingin jalan keluar, tapi was~was kalau~kalau ketemu dia, "Ah, bodoh amat," kupakai hijab instan dan sandalku, lalu keluar dan tak lupa mengunci pintu.

Berjalan santai sampai ke lobby, ternyata firasatku benar, aku bertemu dia. "No no no! Ngapain dia nyamperin coba," ucapku pelan," ku hela napasku, "Santuy Mira santuuyy," aku mencoba bersikap tenang.

"Mira, kamu Mira kan?" sapa dan tanyanya seakan tak yakin.

Ingin aku bilang bukan, tapi aku takut dosa, bohong itu namanya, "Iyaa.. Apa kabar kamu?" tanyaku.

"Aku baik. Kamu nginap disini? Sama siapa?" hah, kepo sekali sih nih orang.

"Aku sendiri, lagi ada kerjaan," jawabku singkat, "Emm.. aku jalan dulu ya, mau cari udara segar," disini udaranya kotor sih karena ada kamu, batinku.

"Aku mau sarapan, ayo bareng Mir. Ayo lah.. Sambil ngobrol panjang. Please!" ajaknya sedikit memaksa.

Memang dasar aku orangnya terlalu baik, nggak bisa menolak.

Sudah terduduklah kami di satu meja makan.

"Selera kamu masih sama ya, nasi goreng telur ceplok dan kerupuk," celetuknya.

Aku hanya tersenyum.

"Btw Mir, kamu makin cantik aja, apalagi pakai hijab gini, makin manis," gombalnya, rasanya aku ingin muntah.

"Semua perempuan juga cantik kalau pakai hijab," jawabku yang memang tak terima gombalan recehnya itu.

"Aku serius. Mira, aku tau kamu masih marah sama aku, bahkan mungkin benci~sebenci~bencinya. Tapi aku masih sayang kamu Mira," aku benci mendengar kata sayang, terlebih yang keluar dari mulutnya.

"Sorry, aku masih punya banyak urusan. Satu hal, jangan pernah lagi sapa aku, anggap aja kita nggak pernah kenal. Permisi!" aku lalu berdiri dan berlalu.

Kupastikan air mataku tak akan pernah mengalir lagi, hanya karena lelaki seperti dia.


~ B E R S A M B U N G ~

0 Comments:

Post a Comment

Silahkan beri penilaian, masukan dan saran yang membangun. Mohon tidak menyertakan link aktif atau komentar spam. Terima kasih :)

My Instagram

Pageviews