Cerbung: Sayang Kamu Selamanya ( Part I )

by - May 28, 2012


Terdudukku dihadapan seorang gadis manis dan periang yang terkadang memanggilku dengan sebutan ‘mancung’. Walaupun sekarang ini wajah manisnya dibalut dengan kepucatan dan dalam keadaan tak sadarkan diri, hampir 4 bulan ini. Namun, aku tetap merasakan bahwa ia sedang tersenyum padaku. Senyuman yang sangat manis yang tak akan pernah hilang dalam ingatanku yang selalu menghiasi hari-hariku.


“Hei manis.. Aku merindukanmu, buka matamu dan tersenyumlah, agar aku bisa melihat indahnya wajahmu”, ucapku sambil membelai lembut rambutnya. ”Aku harap kamu mendengar apa yang kukatakan”. Namun yang ada hanyalah kesunyian. Sampai tak sadar air mataku pun terjatuh.

***

“Itu anak gadis Om kok lama banget ya dandannya. Keburu tutup deh tokonya”, kataku kepada Om Gusti, papa Via.

“Kamu itu kayak baru kenal Via aja. Itu dia yang diceritain udah dateng. Yaudah sana pergi. Jangan kelamaan pulangnya ya”, pesan Om Gusti kepada aku dan Via.

“Siap grak Om, hehe”. “Aku pergi dulu ya pa. Assalamu’alaikum. Ayo cung”. “Assalamu’alaikum Om”, pamitku dan Via. “Wa’alaikumsalam”.

***

“Tuh kan.. Apa aku bilang, tokonya udah tutup kan. Kamunya sih kelamaan”, kataku yang sedikit kesal pada Via.

“Teruuss.. Kalau tadi gak ada yang kelamaan jemput karna ketiduran, pasti tokonya belum tutup. Bener gak?”, lirik Via padaku.

“Itukan.. Tadi.. Anu Vi..”, aku pun sibuk mencari-cari alasan.

“Yaudah yaudah, kita cari makan aja deh”, ajak Via yang sedikit pun tak kesal karna aku menyalahkannya.

“Kamu itu ngegemesin deh”, kataku sambil mencubit pipinya.

***

Sampailah aku dan Via ditempat makan favorit kami.

“Jadi inget pertama kali kita ketemu deh kalau udah kesini Nu”.

“Iya Vi. Dan persis suasananya tuh kan kayak begini ya. Langit berhiaskan bintang-bintang yang memudarkan kegelapan malam ini”, ujarku sedikit berpuitis.

Senggol Via, “Ceilaah.. Sok puitis kamu ih”, ledek Via.

Aku pun masih menatap bintang-bintang dilangit, dan tiba-tiba mataku menangkap adanya bintang jatuh.

“Vi.. Ada bintang jatuh”.

“Terus kenapa? Mau ucapin permintaan?”.

Aku mengangguk, “Gak ada salahnya kan?”.

“Memangnya kamu percaya?”.

“Yaa.. Kita coba aja”.

“Aduuh Ranuu.. Aku kebelet pipis deh”.

“Hmm.. Yaudah sono”.

“Aku gak bakal lupa sama persahabatan kita Vi. Gak akan pernah lupa, sampai kapanpun dan aku berharap perasaan kamu juga gitu ke aku”, ucapku dalam hati sesaat setelah Via berjalan menuju toilet.

***

“Makasih banyak ya cung udah nganterin aku pulang”, ujar Via.

“Kamu itu lucu ya. Kayak baru pertama kali aja aku nganterin kamu sampai depan rumah begini Vi. Dasar aneh”, ledekku dan mengacak rambutnya.

“Yee.. Kan cuma bilang terima kasih, masa gak boleh”, seru Via.

“Iya deeh maniiss..”.

“Oiya Nu. Besok malem ketemu ditempat tadi (tempat makan favorit aku dan Via) ya. Jangan lupa dan jangan sampai telat lho”, kata Via yang tengah memberikan helm yang dipakainya kepadaku.

“Ok ok. Ntar sms aja ya. Aku balik Vi”, pamitku dan bergegas pergi.

“Hati-hati Nu”, lambainya padaku.

***

Ponsel zadulku berdering, tertulis dilayar -LiViA-

“Mancuung.. Jangan lupa janji kita jam 4 sore nanti, ditempat makan biasanya ya. Yg penting, JANGAN TELAT!”, sms dari Via.

Akupun segera membalasnya, “Siap grak! non Livia Shandy Putri J”.

( jam 4 sore kurang 1 menit )

Aku telah sampai ditempat yang Via maksud. Namun, aku sama sekali belum melihat sosok mungilnya.

“Via, aku udah sampai. Kurang semenit malah, hehe”, sms-ku padanya.

( 15 menit kemudian )

“Mau pesan sekarang mas?”, tanya salah seorang pelayan.

“Belum mba. Nanti saya panggil. Makasih mba”.

( 30 menit kemudian )

“Viaa.. Kamu dimana?”, sms-ku ke Via.

Aku pun akhirnya memesan minuman.

( 45 menit kemudian )

Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif..”.

“Kenapa ponselnya gak aktif ya?”, aku pun mengerutkan kening. Namunku tetap menunggu kedatangannya.

( 1 jam berlalu )

Minuman yang ku pesan  30 menit yang lalu hampir habis, namunku juga belum melihat tanda-tanda kehidupan dari Via.

Rasa sabar yang sedari tadi ada dalam hatiku pun berubah menjadi kekesalan yang akan meledak. Namun itu hanya khayalanku saja. Aku benar-benar tidak bisa marah kepada sahabatku, Via.

“Mungkin aja jalanan macet, trus ponselnya lowbat. Tapi yang terpenting dia dalam keadaan baik-baik saja menuju kesini”, batinku bergumam.

( 1 jam lewat 2 menit )

Saatku hendak berdiri meninggalkan kursi yang sedari tadi aku duduki, terdengar suara hentakkan kaki seperti berlari, dan itu adalah Via.

Dengan wajah yang sedikit pucat dan napas yang terengah-engah ia langsung memegang erat kedua tanganku, “Ranuu.. Maafin aku ya. Ternyata aku yang telat. Maafin aku ya Nu. Kamu jangan pergi Nu, aku mohon”.

Aku ambil tubuh mungilnya perlahan, dan menyuruhnya duduk.

“Kamu mau pesan apa Vi?”, tanyaku padanya.

“Ranu. Kamu gak marah sama aku? Tadi itu kamu mau pulang kan?”, tanya Via penasaran.

“Kalau ntar aku pulang, ntar kamunya nyariin aku. Jadinya gak ketemu deh. Bener gak?”.

Terlihat mata Via berkaca-kaca. “Ranuu..”.

“Hmm..”, sambil ku meminum coffee brown yang aku pesan setengah jam lalu.

“Aku pesen coffee brown juga deh”, serunya tersenyum.

Aku lalu tersenyum dan memanggil pelayan.

***

You May Also Like

2 Comments

  1. wah livia ternyata tukang nyubit pipi ya,,
    :>
    ranu juga sabar orangnya,
    ditunggu part 2 nya neng...
    ^_^

    ReplyDelete
  2. ahaha..
    yang ngoment ntar juga bakalan dicubit lho kang :>

    ReplyDelete

Silahkan beri penilaian, masukan dan saran yang membangun. Mohon tidak menyertakan link aktif atau komentar spam. Terima kasih :)




Supported by
 Bayu Pradana



close