Selera Masyarakat Terhadap Eksistensi Karya Sastra



Selera Masyarakat Terhadap Eksistensi Karya Sastra

Karya sastra, dalam pengertiannya adalah hasil dari kreativitas seorang seniman, mulai dari menuangkan ide pikiran dan gambaran seputar kehidupan melalui lisan maupun tulisan. Karya sastra adalah ilmu yang menarik untuk dibahas, di tengah beragamnya cabang ilmu yang dipunya.

Karya Sastra Lebih Dipilih Kaum Muda

Terbukti, kaum muda usia 15 - 20 tahun, lebih memilih bahan bacaan novel, cerpen atau puisi sebagai teman berkegiatan yang menarik.

Sekalipun, karya sastra yang dibaca adalah kepunyaan sang legenda, seperti puisi-puisi Chairil Anwar, novel-novel milik Andrea Hirata, Ika Natassa, Raditya Dika, dsb.

Dan benar dong, saya sendiri merasakannya. Selain sering membaca cerpen dan puisi karya sastra orang lain, sejak 2012 saya jadi sangat senang bercerita menuangkan segala kegundahan dan keceriaan pasca merantau melalui cerpen dan puisi.

Karena memang, membaca dan bahkan mengarang sendiri cerpen dan puisi, membuat perasaan jauh lebih legaaa.. Apalagi, dari karya sastra yang sudah saya buat, orang lain juga bisa ikut membacanya juga.

Kalau sekarang, saya sedang mempersiapkan mental dan memulai menilis cerpen (lagi) yang nantinya akan dibukukan, woohoo.. Doain yaa..

Nah, kalau antologi puisinya juga baru PD nulis bareng teman-teman, nih. Judulnya, Rasa yang Terpendam, pasti udah kebaca ya isinya tentang apa, hehe..

Awal Mula Kelahiran Karya Sastra

Zaman dulu, karya sastra hanya bisa dinikmati lewat media cetak aja nih, seperti koran, majalah, dsb. Selain itu, belum banyak juga yang mahir atau berminat menulis karya sastra saat itu.

Seiring berkembangnya zaman karya sastra kini dapat dinikmati dan dibuat melalui berbagai media, seperti smartphone atau gadget lainnya, yang biasa disebut Sastra Siber. Siapapun bisa mengakses karya sastra melalui sambungan internet. Tersedia pula beragam aplikasi untuk menulis dan membaca beragam cerita.

Saya sendiri punya beberapa akunnya sih, tapi karena memang belum begitu fokus, jadi dijeda dulu ngurusnya, hihi.. Banyak juga sih teman-teman penulis yang berhasil menerbitkan novel, karena dukungan dari pembaca di platform tersebut. Seru kan ya kalo banyak yang support gitu.

Penggerak Kaum Muda untuk Berkarya Sekaligus Memperkenalkan Karya Sastra

Kemudahan yang didapat dalam mengakses karya sastra sekarang ini rasa rasa masih belum cukup sih. Karena, nggak semua kaum muda punya minat baca yang tinggi.

Maka dari itu, selain munculnya banyak penulis, harus diimbangi juga dengan sosialisasi terhadap minat baca.

Hasil survei LSI  (Lembaga Survei Indonesia) di tahun 2017, hanya terdapat 6% pembaca sastra kalangan remaja hingga dewasa, di antaranya terdapat 3% yang benar-benar ingat apa yang dibaca dan siapa penulisnya.

Penulis novel “A Little More Diary”, Pie, berpendapat, “Pengaruh karya sastra pada selera baca masyarakat masih minim, beberapa memang sama sekali tidak tertarik dengan literasi, mereka juga menganggap buku sejenis novel malah dianggap sebagai satu karya sastra yang tidak begitu bernilai. Sedangkan buku populer-pembelajaran terkesan kaku, sementara jenis buku motivasi atau pengembangan diri terbilang cukup mendapat banyak tempat dan bernilai positif, dan itu pun berlaku hanya untuk sebagian orang saja, tepatnya dewasa.”


Selera Masyarakat Terhadap Eksistensi Karya Sastra

Perjalanan sastra faktanya memang nggak bisa memaksa harus dibaca siapa dan seperti apa bacaannya. Bagi sebagian orang mungkin memang butuh waktu untuk mencari bahan bacaan yang pas yang sesuai dengan seleranya.

Beberapa penulis ternyata pandai memgambil kesempatan ini, dan memilih untuk mengikuti selera pasar. Ini sih yang namanya seniman sejati. Pantang menyerah!

Jadi, masalah seperti apa bacaan yang pas untuk siapa, adalah kembali kepada selera masing-masing, back to personal. Artinya, memang nggak ada yang bisa mengendalikan, termasuk sang penulis itu sendiri.

Intinya sih ya, dari beragam karya sastra yang ada sekarang ini, nilai plusnya udah bukan lagi mudah diakses, tapi lebih kepada seberapa besar nilai-nilai kehidupan yang positif yang terkandung dalam karya sastra tersebut.

Yah, begitulah. Dunia literasi itu menyenangkan, kok. Apalagi yang memang sesuai dengan selera kita.

Sampai jumpaaa...



Posting Komentar

0 Komentar