Cerbung: Mengejar Rindu [Part IV]





~ Menghilang ~

Baru saja aku menelpon ibu bersama kak Rasty. Ternyata ibu setuju untuk pindah ke Lombok. Tapi ibu masih harus menyelesaikan beberapa urusan pensiunnya.
--
"Hai, Risty. Kamu sehat?" malam itu Rafli menelponku.
"Aku sehat. Rafli, ada yang mau aku omongin," kataku memberanikan diri.
"Loh, aku juga mau sampaikan sesuatu sama kamu. Tapi, kamu dulu aja deh, hehe.." serunya.
"Umm.. Sepertinya aku nggak akan balik ke Medan lagi. Malahan ibuku yang akan ikut menetap disini. Tapi, aku akan menjemput ibu, yaa sekitar bulan depan," jelasku dengan nada lemah.

Rafli tak bersuara, terdengar hembusan nafasnya, seperti menahan sesuatu.

"Hmm.. Yaa.. Nggak apa-apa kok Ris. Lagian kasian jugakan ibu kamu sendirian disini," ujar Rafli sedikit tergagap.
"Trus, kamu mau bilang apa Fli?" aku mengingatkannya.
"Oh, itu.. Aku.. Aku mau ke Kupang lusa. Kebetulan dapat job ngajar disana. Infonya dari kakak kelas sekolahku dulu. Yaa, siapa tahu nanti kita bisa ketemu," serunya.
"Wah, kabar baik ya. Tapi, kenapa jauh banget sampai Kupang Fli?"
"Nah, itu dia. Tadinya malah aku mau di tempatkan di Lombok, tapi nggak jadi, karena yang di Kupang lebih membutuhkan guru gokil kayak aku, hehe.." ungkapnya lagi.
Aku tertawa, "Sukses ya Fli," doaku padanya.
"Makasih Ris, kamu juga ya. Semoga bisa cepat kumpul sama ibu kamu," balasnya mendoakanku.
Dan telponpun kami akhiri.
--
Aku cukup senang mendengarnya akan bekerja di wilayah timur Indonesia itu. Karena, jaraknya cukup dekat dengan Lombok. Kalau kudengar dari cerita Rafli, dia juga sangat senang mendapatkan pekerjaan sesuai lulusannya.
--
Hari ini, aku cukup sibuk membantu pekerjaan kak Rasty. Sampai-sampai aku tak sempat memegang ponselku. Ternyata ada tiga panggilan tak terjawab dari Rafli. Tapi aku belum bisa menelponnya balik.

"Huft.. Akhirnya selesai juga kerjaan kita. Oiya, dek, gimana kabarnya Rafli? Kok kamu nggak pernah cerita dia lagi?" tanya kak Rasty penasaran.
Aku sedikit terkejut, "Ah, baik kok kak. Tadi sih dia nelpon, tapi aku nggak angkat, karena lagi sibuk," jawabku santai."
"Terus kamu nggak telpin dia balik? Ntar dia nungguin loh," ledek kak Rasty.
Aku pun tertawa, "Nanti malam aja deh kak."
Kak Rasty pun ikut tertawa, "Yaudah, makan dulu yuk. Kakak beli makanan kesukaan kamu loh," ajaknya.
Aku pun bersemangat.
--
Malam pun tiba. Seledai makan malam dan membereskan meja makan, aku langsung kembali ke kamar, menuju balkon, dan mengecek ponselku. Terlihat dilayar kunci depan, pesan Whatsapp dari Rafli, "Hai Cha, sorry baru balas. Aku baru selesai ngajar nih. Aku telpon ya.." pesan itu dikirim 1 menit lalu, dan setelah ku buka, ternyata sudah dihapus oleh Rafli.

Aku tak akan membahas isi pesan itu, sebelum dia yang membahasnya. Aku juga tak akan bertanya siapa, karena memang aku tak berhak.

~ Bersambung ~

Gif: tenor.com


Post a Comment

0 Comments