
Entah apa yang ada dalam pikiranku waktu itu. Dan entah Nano mendengar kalimat tak sadar yang terucap dari mulutku.
Pagi ini aku terbangun cukup awal. Rasanya ingin bersepeda keliling komplek. Selesainya memompa ban sepedaku yang setahun terakhir tak pernah ku naiki. Akhirnya aku memulai mendayungnya kembali.
"Ya harus nyatainlah Fan. Ntar kalau dia di ambil orang, gimana ? Kan kamu yang galau, haha.."
"Hehe.. Iya juga sih. Tapi, ada ketakutan tersendiri yang aku rasain Rin, bisa aja dia nggak bakal bisa LDRan. Amrik sama Indo lho ini, bukan Jakarta sama Bandung. Yang tiap weekend bisa ketemuan di stasiun, terus jalan bareng satu harian, haha.."
"Pasti bisalah, yakin aja."
"Sebenarnya ada satu hal lagi yang buat aku takut, dia itu suka mabuk, haha.. Katanya sih biar nggak pusing kepala. Kemarin aja katanya dia mabuk berat sampai di gotong sama temannya buat di anterin ke pulang."
"Nah, kamu selalu perhatiin dia aja. Sempatin waktu buat nelpon dia, supaya dia juga ngerasa selalu ada yang lindungi, biarpun kalian jauh."
"Iya sih Rin. Eh, aku jemput mama dulu ya, udah agak telat sih ini, keasyikan curhat sama kamu sih, haha.. Daa Rin.." pamitnya.
"Makasih ya buburnya."
Aku menguletkan badan, karena terasa lelah, padahal juga nggak ngapa-pain. Niatnya sih mau nelpon Nano, tapi sampai sekarang, nomornya masih belum aktif, malah di luar jangkauan, "Kamu kemana sih No.. ??!!" ucapku berteriak.
"Ting tung"
Suara bel pintu rumahku berbunyi.
"Nano, aku telpon kamu terus.. Tapi nggak aktif, kamu kemana aja sih ?" spontan, itu kalimat aku ucapkan padanya.
"Rin, maafin aku ya. Aku rasa, aku udah harus pergi, cari tempat baru. Aku.. Nggak mau ganggu kebahagiaan kamu. Maafin aku ya Rin," ungkap Nano dengan wajah muram namun tetap tampak senyum simpulnya.
"Kamu ini ngomong apa sih No ? Aku nggak ngerti deh. Memangnya selama ini aku nggak bahagia jalan sama kamu ? Malah aku ini selalu ngerasa butuh kamu No. Kadang, aku juga nggak ngerti sama apa yang kamu rasain. Kamu itu selalu diam.." lagi-lagi aku spontan mengucapkan itu semua.
"Soal itu.. Aku memang susah buat ungkapin perasaan aku Rin. Karena aku tahu, kamu nggak bakal nerima aku. Aku udah ciut duluan. Apalagi, banyak banget laki-laki yang deketin kamu. Ya aku minder lah. Dengan badan aku yang big size gini, malah bikin aku makin nggak PD," akhirnya Nano mengungkapkan semua ketidakpercayaan dirinya untuk menyukaiku.
"No, kita itu udah kenal lama. Aku juga pengen kok kayak orang-orang, yang menyudahi status sendirinya," seruku sembari tertawa kecil, "No.. Sebenarnya perasaan kamu ke aku itu gimana sih ?"
Ku lihat Nano tertunduk, "Aku.. Sayang kamu Rin," ucapnya pelan.
"Aku nggak dengar No, kenapa ?" aku memang samar-samar mendengar ucapannya.
"Dari dulu, aku sayang sama kamu," lanjutnya sambil menatapku, dalam, "..Aku selalu berusaha untuk bisa dekat sama kamu, dan selalu.."
"No.." aku memegang tangannya, "aku juga sayang kamu, masa kamu nggak ngerti sih, kamu sih kebanyakan diam, harusnya bisa lebih berani dong No. Aku tuh nunggu kamu, nunggu kamu ungkapin apa yang kamu rasa," celetuk ceriwisku.
Senyum sumringah terpancar dari wajah bulat lelaki disampingku ini, "Jadi, sekarang kita jadian nih Rin ?"
Aku manggut-manggut kayak boneka dashboard mobil.
Akhirnya setelah sekian lama, aku dan Nano memulai menjalin hubungan spesial, sespesial nasi goreng spesial kesukaanku yang Nano bawa untukku.
"Sempat-sempatnya ya kamu beli ginian. Hehe.. Makasih ya No.."



.jpg)


0 Komentar
Haii! Berkomentarlah dengan bijak dan relevan ya. Silakan baca artikel lainnya dan tinggalkan jejakmu. Terima kasih!