Adbox
LightBlog

27 November 2019

Sanggupkahku ?


Aku Hana. Usiaku memang sudah tak muda lagi. Tapi sampai saat ini juga masih belum menemukan orang yang cocok, yang mau menerima aku apa adanya. Apa memang aku yang terlalu memilih ? Nggak, aku nggak terima pikiran itu. Mungkin karena aku terlalu nyaman dengan karirku, sehingga masalah pendamping aku kesampingkan.

"Hanaa.. Kamu tuh mau sampai kapan berstatus single ? Mama aja capek ngelihat kamu kerja terus. Memangnya kamu nggak capek ?" mamaku terus saja berkomentar tentang persoalan yang sama di setiap harinya.

Kadang aku hampiri mama dan menjawab pertanyaannya panjang lebar. Kadang juga cuma memberikan senyuman, lalu masuk ke kamar.

Besok paginya aku hendak berangkat ke kantor. Lagi-lagi mama mengingatkan.

"Hanaa.. Ayo, mama masih tunggu kamu kenalin calon menantu mama," senyum mama terlihat berbeda, pancaran matanya pun seakan begitu bersinar.

Aku tersenyum, "Mama ini kayak mau ada lomba aja. Aku berangkat ya ma," pamitku dengan hati sedikit kacau.

Apa yang harus aku lakukan kalau gini ceritanya..

Sebenarnya, ada beberapa kriteria yang aku ingini. Karena aku cukup tinggi, jadi aku harus punya pasangan yang setidaknya sedikit lebih tinggi dariku. Yang kulitnya nggak terlalu putih, karena kulitnya juga sawo matang. Umm.. Yang punya jabatan lebih bagus dariku, mungkin ? Hah.. Apa aku harus ganti kriteria ? Seperti apa ? Kalau yang biasa-biasa sih banyak. Nggak istimewa kalau gitu. Entahlah..

Aku jadi teringat, seorang teman SMA dulu pernah bilang, "Aku nggak mau pacaran ah, tapi.. Aku berhak suka sama seseorang. Dan orang itu akan selalu aku ingat, dia akan kusimpan dalam hati, dan kelak akan memilihnya menjadi pendampingku. Memang, takdir itu Tuhan yang ngatur, tapi nggak ada salahnya kita berharap agar keinginan kita terwujud. Itu adalah caraku untuk menghindari pacaran, dan menjauhkan dari kedekatan yang terlalu intim," gila ya, aku bisa seingat itu sama kalimat yang dia ucap.

Logika nggak sih pikirannya itu ? Kok makin ke sini, aku makin setuju ya sama kalimat super bijaknya itu. Sambil terus mengingat seseorang yang pernah dekat denganku. Reno.. Reno, terus Reno, ah kok cuma Reno sih. Lagian, Reno itu kan anaknya Om Robby. Jadi nyesal dulu itu aku anaknya kurang gaul, akhirnya nggak ada yang nyantol deh.

"Maaf bu, Pak Teja sudah menunggu di ruang meeting," kata sekretarisku.
Aku pun segera menuju ke ruang meeting.

"Selamat pagi, Bapak Teja," wajah paruh baya itu tampak tak asing bagiku.
"Selamat pagi. Loh, Hana.. Ternyata kamu ibu direkturnya," begitulah sambutan rekan bisnisku itu.
"Aa.. Om Robby.. Ya ampun Om, sehat Om ? Kenapa aku nggak ngeh ya kalau Robby Suteja itu nama lengkap Om," syukurlah ingatanku pulih kembali.

Sudah hampir 8 tahun, aku dan keluarga Om Robby belum bertemu lagi. Semenjak mereka pindah ke Singapura. Banyak obrolan yang tersampaikan di ruang meeting yang di lengkapi dengan kopi dan beberapa biskuit itu. Mungkin, lebih banyak obrolan pribadi tentang masa lalu kedekatan keluarga kami daripada tentang bisnis. "Gampanglah soal bisnis," celetuk Om Robby.

"Om, gimana kabarnya Reno ?" aku baru berani menanyakan kabar anak tunggalnya itu. Karena, aku merasa tak enak, dari tadi Om Robby tak ada membahasnya.
Om Robby terlihat diam, seperti ada kesedihan dimatanya, "Besok lusa Om akan ajak kamu bertemu Reno ya," begitu kata Om Robby, dan tak lama setelahnya, beliaupun pamit.

Aku semakin penasaran, kenapa dengan Reno ? Kenapa Om Robby tiba-tiba sedih ? Aku tetap berpikir baik.

Sampai dirumah, pikiran tentang Reno masih saja menggelayuti otakku. Aku pun bertanya kepada mama, namun mama juga tak pernah mengetahui kabar dari Reno dan keluarganya.

"Terakhir kali mama ketemu Om Robby sekitar 2 tahun lalu sih. Dia bilang baru pindah ke Indonesia lagi. Dan nggak ada bahasan lagi, karena dia terlihat buru-buru," cerita mama.

Aku jadi super kepo dengan keadaan Reno. Beruntung, aku punya sepupu yang berteman dengan temannya Reno, walau tak begitu dekat. Tapi, hal itu juga tak membantuku menemukan kabar Reno. Yang ada malah dia minta nomor Hp-ku, laah..

Nihil. Benar-benar satu hari yang melelahkan. Hanya ingin mencari tahu kabar tentang Reno saja sesulit ini. Habis nggak sabar nunggu besok sih, huft..

"Wait, bukannya itu..." aku menghentikan laju mobilku, karena melihat Om Robby disebuah rumah sakit. Dengan cepat aku memarkirkan mobil dan lalu turun, berlari mencari keberadaan Om Robby secara sembunyi-sembunyi. Aku melihat Om Robby berjalan sambil mendorong kursi roda dengan seseorang yang terduduk di sana. Sepertinya aku mengenalnya. Ya, itu Reno. Aku terkejut setengah mati, dan jelas, banyak sekali pertanyaan yang timbul dalam benakku. Pantas saja, Om Robby terlihat sedih saat aku bertanya soal Reno.

Om Robby dan Reno lalu memasuki ruangan dokter. Aku masih was-was. Aku harus menunggu sampai besok Om Robby membawaku bertemu Reno.

Sabtu ini membuat hariku sangat lelah. Rasa penasaran tentang Reno semakin kupikirkan.

"Hana, kamu belum tidur ? Kenapa sayang ?" tanya mama yang lalu masuk ke dalam kamarku.

"Ma, tadi aku ketemu Om Robby dirumah sakit. Terus, aku lihat Om Robby lagi dorong kursi roda, dan yang duduk dikursi itu.. Reno ma," ceritaku pada mama.

"Memangnya Reno kenapa ?"
Aku menggeleng, dan berisyarat tak tahu, "Aku tadi sembunyi-sembunyi ma, soalnya besok Om Robby mau ngajak aku ketemu Reno. Aku nggak mau merusak rencana Om Robby. Aku salah nggak sih ma ?"
"Ya setidaknya kamu udah siap untuk ketemu Reno besok," kata mama seolah sedikit menenangkanku.

Hari Minggu pun tiba. Pagi itu pukul 11, Om Robby menyuruhku untuk datang kesebuah rumah sakit, rumah sakit yang sama yang aku datangi kemarin. Namun, aku tak bertanya apa-apa, sampai saatnya aku bertemu Om Robby.

"Hana, sebelah sini," ujar Om Robby yang menungguku di lobby, lalu mengajakku bertemu Reno.

Dengan pelan aku berjalan menuju Om Robby. Lorong yang sama yang ku telusuri waktu itu. Sepertinya aku tak sanggup melihat keadaan Reno dibalik ruangan itu. Aku belum siap.

~bersambung dulu yaa.. stay tune! ~

6 comments:

  1. Wah saya jadi penasaran, apakah reno akan memberikan Om Robby ke Hanna, kayak kisah di film itu?
    Saya saja sebagai lelaki, jika ditanya kapan nikah, rasanya juga gimana gitu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jangan nebak-nebak gitu deh, haha..
      Sabar ya bang, semoga segera menemukan jodohnya. Aamiin.. hihii..

      Delete
  2. Seru ini ceritanya. Saya tunggu sambungannya ya buk.

    ReplyDelete
  3. sebenarnya dari judulnya udah menggoda saya untuk membacanya...problem hanna ini sebenarnya problen manusia kebanyakan....saya aja hampir pernah mengalaminya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sip, di tunggu sambungannya ya mas. Makasih udah mampir..

      Delete

Silahkan beri penilaian, masukan dan saran yang membangun. Mohon tidak menyertakan link aktif atau komentar spam. Terima kasih :)

LightBlog
LightBlog