Bahaya Vaping Bagi Kesehatan

Bahaya Vaping Bagi Kesehatan - Halo para penikmat blog. Kali ini Kynda bakal bahas sesuatu yang serius. Sebuah pengalaman yang lumayan 'menjengkelkan'.

Jadi ceritanya suami saya awalnya adalah seorang perokok. Sekitaaar.. Ya lumayan lama, tahunan, sampai beliau sadar bahwa rokok itu  sesuatu yang merusak, lalu dia beralih ke rokok elektrik atau vape. Nah, syukurlah pakai vape cuma hitungan bulan, akhirnya beliau sadar lagi sekitar 2016, saat beliau menghamili saya, haha.. Beliau berhenti dari vaping. 
Tapi nggak bertahan lama, kalau nggak salah awal tahun ini beliau mencoba lagi untuk menjadi penghisap tembakau, dan baru 2 bulan ini nge-vaping lagi. Btw, beliau yang bolak-balik ganti rokok, tapi rasanya kok saya yang capek ya, huh.. ok skip curhatannya.
Tahu dong rokok tembakau sampai sekarang masih saja ada peminatnya, padahal tahu ya dampaknya untuk kesehatan. Baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Nah, kalau rokok elektrik atau vape, sekarang juga semakin banyak peminatnya. Tapi bisa di bilang kalangan menengah ke atas saja. Karena harga untuk vape beserta liquidnya itu tergolong mahal, dari mulai Rp. 50.000 untuk 1 liquid sampai di atas 300ribuan untuk 1 vapenya. Gila ya, semahal itu mending buat kebutuhan sehari-hari. Ok stop lagi curhatnya. Liquidnya sendiri juga punya banyak varian rasa, ada banana, vanilla, dsb. Udah kayak es krim aja ya.
Vape ini, menggunakan tenaga baterai untuk memanaskan dan menguapkan cairan liquid yang biasanya mengandung nikotin. Uap cairan ini kemudian dihirup oleh pengguna saat mereka menekan tombol pada perangkat vaporizernya dan menghembuskan asap vape ke udara lepas. Canggih memang. Bentuknya juga bermacam-macam, mulai dari yang kecil seperti pulpen sampai sebesar telapak tangan.
Berbeda dengan rokok tembakau, vape memang tidak mengandung zat berbahaya, seperti tar dan karbon monoksida. Kendati demikian, bukan berarti vape lebih aman dibandingkan rokok tembakau. Vape justru memiliki kandungan zat kimia berbahaya, seperti nikotin, asetaldehida, akrolein, propanal, formaldehida, logam berat, dan diasetil, yang hampir sama dengan rokok tembakau.

Meskipun bahaya vaping atau rokok elektrik dianggap lebih ringan dibandingkan rokok tembakau. Tapi, sebenarnya pendapat ini kurang tepat. Simak dulu penjabaran bahaya vaping atau vape berikut ini, sebelum menggunakannya. Simak baik-baik !

1. Menyebabkan ketagihan


Sama seperti rokok tembakau, vape juga mengandung nikotin yang dapat menyebabkan ketergantungan. Nikotin yang terkandung dalam vape dapat merangsang otak melepaskan hormon dopamin dalam jumlah banyak, sehingga mengakibatkan efek ketergantungan. Jadi, vaping tidak membantu Anda untuk berhenti merokok, tapi justru membuat Anda menjadi ketergantungan.

2. Membahayakan paru-paru


Meski tidak memakai tembakau, bukan berarti bahaya vaping lebih ringan daripada rokok tembakau. Pasalnya, rokok elektronik tetap memiliki kandungan nikotin yang dapat meningkatkan risiko peradangan pada paru-paru dan mengurangi kemampuan jaringan pelindung di paru untuk melindungi organ paru.
Tidak hanya itu, diasetil yang terkandung di vape juga dapat menyebabkan munculnya penyakit bronkiolitis obliterans, atau lebih dikenal sebagai paru-paru popcorn (popcorn lung)."

3. Membahayakan jantung


Selain berdampak buruk bagi kesehatan paru-paru, nikotin yang terdapat di vape juga bisa mengganggu jantung. Saat nikotin diserap dan melalui aliran darah, kelenjar adrenal dapat terangsang untuk melepaskan hormon epinefrin (adrenal). Pelepasan hormon epinefrin inilah yang menyebabkan tekanan darah dan denyut jantung meningkat.

4. Menyebabkan gangguan pada janin


Pada ibu hamil, penggunaan vape secara aktif maupun pasif (terpapar asap vape dari orang lain) dapat membahayakan janin di dalam kandungannya. Pasalnya, paparan nikotin dan zat berbahaya lain di dalam vape dapat mengganggu perkembangan janin.
Sedangkan pada anak-anak, paparan nikotin dari vape dapat menggangu perkembangan otaknya serta memengaruhi daya ingatnya.

5. Meningkatkan risiko terkena kanker


Sama seperti rokok tembakau, vaping juga bisa meningkatkan risiko terjadinya kanker. Kandungan formaldehida yang terdapat dalam vape bersifat karsinogenik, sehingga bila dihirup dalam jangka waktu lama, dapat memicu munculnya sel-sel kanker.
Bahaya vaping lainnya adalah jika cairan nikotin yang digunakan untuk mengisi rokok elektrik terkena kulit atau tak sengaja terminum oleh anak-anak. Hal ini dapat mengakibatkan kondisi serius, bahkan bisa menyebabkan kematian. Oleh karena itu, selalu simpan dan buang alat vaping dengan benar untuk mencegah anak keracunan vape.
Beberapa tanda dan gejala keracunan nikotin adalah pucat, muntah, berkeringat, mengeluarkan air liur, gemetar, kejang, hingga pingsan. Jika Anda menemukan anak dalam kondisi demikian, segeralah bawa ke UGD untuk mendapatkan penanganan.

Terus, gimana bahayanya asap vaping jika terhisap orang lain yang non-vaping ? Berikut pembahasannya.

Secara teknis, para pengguna vape tidak bisa digolongkan sebagai perokok. Mereka tidak merokok, melainkan hanyalah “vaping.” Artinya, mereka menggunakan vaporizer sebagai alat inhaler yang bertenaga baterai. Tidak seperti rokok tembakau yang dibakar, vape memproduksi uap melalui sistem pemanasan. Sementara itu, rokok tradisional melibatkan pembakaran tembakau menggunakan api yang melepaskan emisi kimia beracun ke udara. Sisa pembakaran beracun inilah, alias asap rokok, yang telah menyebabkan kebijakan kesehatan masyarakat yang meluas untuk melarang merokok di ruang publik.


Cairan yang digunakan di sebagian besar perangkat vape terdiri dari empat bahan utama: propilen glikol, gliserin nabati, nikotin, perasa tambahan, dan mungkin juga mencakup bahan kimia lainnya. Setelah dipanaskan, cairan tersebut menguap menjadi kabut asap yang dihirup seperti asap rokok tembakau sebelum akhirnya akan dilepaskan ke atmosfer.

Slain partikel uap air, asap vape juga mengangkut partikel nikotin ultra-halus, senyawa polutan organik yang mudah menguap, dan hidrokarbon yang berpotensi karsinogenik lainnya ke udara bahkan di ruangan yang berventilasi mumpuni. Satu fakta ini saja bisa mengkonfirmasi bahwa rokok elektrik tidak sepenuhnya bebas polusi.

Studi dan bukti ilmiah kuat yang menyoal efek kesehatan dari paparan asap vape pada orang yang menghirupnya masih sangat terbatas. Tapi, kebanyakan pakar kesehatan sejauh ini berspekulasi bahwa paparan polutan dari rokok elektrik mungkin bisa memicu masalah kesehatan karena partikel super halus yang terangkut bersama asap mungkin dapat menumpuk di paru-paru. Paparan terhadap partikel super halus dapat memperburuk masalah pernapasan yang dimiliki seseorang, misalnya asma, dan menyempitkan pembuluh darah yang bisa memicu serangan jantung.
Propilen glikol, misalnya. Penggunaan bahan ini pada beberapa produk resmi disetujui oleh FDA. Tapi, metode penghirupan nikotin uap yang di dalam propilen glikol tidak disetujui penggunaaanya. Beberapa studi menunjukkan bahwa pemanasan propilen glikol mengubah komposisi kimianya, sehingga memproduksi sejumlah kecil propilena oksida — senyawa karsinogen yang teridentifikasi bahayanya. Paparan inhalasi jangka pendek terhadap zat ini menyebabkan iritasi mata, tenggorokan, dan saluran napas, sementara paparan jangka panjang dapat mengakibatkan menderita asma.

Separah itukah vape ? Biar kata cuma sedikit racun yang terkandung. Duh, yang namanya zat-zat kimia gimanapun ceritanya kalau udah masuk kedalam tubuh pastikan berbahaya, nggak ada cerita lain, titik! - Bahaya Vaping Bagi Kesehatan.


0 Comments:

Post a Comment

Silahkan beri penilaian, masukan dan saran yang membangun. Mohon tidak menyertakan link aktif atau komentar spam. Terima kasih :)

My Instagram

Pageviews