Cerpen: Ketika Kau Kembali

Blooming Sparkly Red Rose

Cerpen: Ketika Kau Kembali




"Kay, kemarin aku mimpi dia lagi," ungkap Ghea kepada Kayla, sahabatnya.

"Ini udah yang ke.. Terus aku harus gimanaa??" ujar Kayla.

Ghea tersenyum paksa, "Aku nggak ngerti lagi kenapa aku bisa terus-terusan mimpiin dia," ungkap Ghea lagi.

"Iya iya, aku tahu kok. Aku tahu kok kalau kamu suka jalan-jalan di profil FB nya dia, haha.." celetuk Kayla.

Lirik Ghea, "Males ah, kamu malah nyalahin aku gitu sih.." kesal Ghea.

Kayla tertawa, "Ya habisnya kamu juga kurang kerjaan, stalkingin mantan yang udah jelas-jelas punya istri sama anak satu. Gila kamu ya.." ceplos Kayla.

Ghea tertunduk, menghela nafasnya yang berat.

Sudah kurang lebih satu tahun ini Ghea ditinggal menikah oleh mantan terindahnya, Harris. Mantan yang paling terkenang dalam otaknya. Dan hampir setiap malam Ghea memimpikan sang mantan.

"Ghe! Ghea!" panggil Kayla.

Sontak Ghea terkejut dari lamunannya.

"Pulang yuk, keburu hujan," ajak Kayla.

Mereka pun bergegas pulang ke rumah. Namun, sesuatu tampak diujung mata Ghea.

"Kay, itu bukannya Lia ya?" seru Ghea.

"Lia siapa?"

"Lia istrinya Harris. Kamu tahukan orangnya? Aku kan pernah kasih tahu fotonya ke kamu Kay. Eh, iya itu beneran dia deh," Ghea benar-benar melihat jelas Lia sedang bersama lelaki lain.

"Aduh Ghe, jangan cari masalah deh, pura-pura nggak tau ajaa!" kata Kayla sembari menarik tangan Ghea untuk segera pergi dari kafe itu.

Ghea pun tak bisa berbuat apa-apa.

"Kay, kamu lihat kan tadi, mereka mesra banget. Ini nggak bisa dibiarin Kay, aku harus kasih tahu Harris," seru Ghea bersikeras.

"Ghe, please! Anggap aja kamu nggak lihat kejadian tadi, aku nggak mau kamu kenapa-napa," kata Kayla yang sangat cemas dengan keadaan Ghea.

Ghea lalu menangis, "Harris nggak pantas digituin Kay, dia nggak pantas dijahatin."

Kayla juga merasa sedih melihat Ghea sepanik itu, "Oke oke, kita akan cari cara untuk bisa ketemu sama Harris. Aku akan bantu kamu," ujar Kayla memberi saran.

Ghea menatap mata Kayla penuh harapan, "Serius Kay? Thank you Kay.. Thank you.." seru Ghea lalu menghapus deras air matanya.

Tak perlu menunggu waktu lama. Kayla kebetulan saja memiliki teman yang pernah bekerja di perusahaan yang sama dengan Harris.

Setelah bercerita panjang lebar, Kayla terdiam, seakan tak percaya mendengarnya. Kayla pun sudah tak sabar ingin menyampaikan hal tersebut kepada Ghea. Walau sesungguhnya, ia tak sanggup.

"Ghe, aku tahu alamat tinggal Harris sekarang. Dia udah nggak tinggal disini lagi sama istri dan anaknya. Dia.." Kayla terdiam sejenak, "Mendingan kita langsung aja cari Harris ya," ajak Kayla.

Ghea semakin penasaran, dan dia tak ingin berpikir terlalu jauh.

"Kay, makasih ya, kamu udah mau bantu aku. Aku jadi ingat, waktu aku mau operasi kanker payudara, kamu dengan jeri payahmu menggendong aku sampai ke mobil. Aku sadar aku memang berat, tapi nggak setimpal sama usaha kamu buat bantuin aku. Dari mulai bawa aku ke rumah sakit, sampai pasca detik ini, kamu benar-benar selalu ada ketika aku butuh untuk ditenangkan," ungkap Ghea tentang kejadian dua tahun lalu.

Kayla tersenyum, "Kamu itu memang orangnya keras kepala, tapi aku tahu gimana caranya buat kembali melenturkan kepala kamu yang keras itu."

"Yee.. Memangnya kepalaku ini terbuat dari karet apa," protes Ghea.

Dua jam berlalu. Ghea dan Kayla pun sampai di persemayaman Harris.

Ghea terlihat heran melihat sekitar. Banyak pepohonan rindang yang menjulang tinggi, serasa asri.

Kayla mengangguk seolah mengajak masuk.

Dalam hati dan pikiran Ghea seakan memunculkan banyak tanya dan sedikit ketakutan.

Ada seorang perempuan yang menyambut kedatangan mereka, seorang suster lebih tepatnya.

Dan setelah mengetahui keberadaan Harris. Sesuatu yang lama hilang terasa samar, seolah kembali terlihat jelas.

"Ghea?" ucap Harris.

"Haii.. Kamu.. Sehat?" seru Ghea.

"Kita duduk disana aja ya," ajak Harris.

"Umm.. Ghe, Rris, aku tinggal kalian berdua ya," kata Kayla, mencoba memberi waktu kepada Ghea dan Harris.

"Rris, ada banyaaaak sekali yang mau aku ceritain sama kamu. Sebelumnya maaf, kamu kenapa bisa ada di tempat adem dan asri ini, sekalipun ini rumah sakit," tanya Ghea.

Harris tersenyum, "Ada banyak hal yang terjadi setelah perjodohan itu Gi. Aku nggak apa-apakan manggil kamu Gi lagi?"

"My pleasure," Ghea tersenyum amat manis.

"Rumah sakit ini adalah warisan dari ayahku. Jauh sebelum aku menikah, ayah sudah berjanji akan memberikan seluruh asset yang dimiliki rumah sakit ini untukku. Sebagai seorang dokter spesialis jiwa, aku lalu menyetujuinya. Dan ini adalah tahun pertamaku berada disini, tepat juga setelah setahun menikah. Tapi, 6 bulan terakhir, Lia terlihat sangat terpaksa menerima kenyataan ini. 6 bulan yang lalu, aku mengalami kecelakaan, dan kakiku harus diamputasi dan lalu aku harus memakai kaki palsu ini," ceritanya, Ghea mulai terlihat sedih.

"Lalu, anak kamu?"

"Dika.. Dia meninggal saat usianya 3 bulan, sistem pernapasannya terganggu. Aku benar-benar disalahkan oleh Lia, karena kepergian Dika. Tapi, aku tetap bersikap sebagaimana mestinya seorang suami. Tapi, percuma, aku tetap tidak dihargai. Lalu, Lia pergi begitu saja. Tadinya dia juga nggak terima kalau aku hanya dapat warisan rumah sakit tua ini. Surat cerainya baru datang tadi pagi," Harris tampak tegar, bahkan ia bisa sedikit tertawa atas apa yang telah menimpanya.

"Aku nggak tahu harus ngapain kalau aku ada diposisi kamu. Kamu benar-benar kuat menghadapi semua ini Rris. Kamu nggak banyak berubah. Mungkin, ini jawaban dari semua mimpi-mimpiku tentang kamu Rris," ungkap Ghea.

Di tengah-tengah obrolan Ghea dan Harris. Terdengar keributan dihalaman rumah sakit.

"Lia? Gi, itu Lia, pasti dia bakal ngamuk lagi," seru Harris.

Ghea pun bingung, "Ngamuk?"

"Iya, sudah 3 kali ini dia datang dengan marah-marah tanpa ada alasan yang jelas."

"Eh, Harris! Mana surat cerainya? Sudah kamu tandatangani? Aku mau kita segera berpisah! Aku nggak mau lagi lihat muka kamu!"

"Tenang Lia, tenang. Aku bakal segera tandatangani surat itu," dengan tenang Harris menghadapi mantan istrinya itu.

"Oke. Sekarang kita sudah resmi bercerai! Aku sudah bebas. Dan kamu, jangan coba-coba cari aku lagi. Ngerti kamu!" amarah Lia semakin menjadi, dan lalu dia beranjak pergi.

Hela napas panjang dihembuskan Harris, seolah ketenangan merasuki jiwanya.

"Kamu nggak apa-apa?" tanya Ghea perlahan.

"Aku belum pernah merasakan hembusan udara sesegar ini. Rasanya tempat ini sangat-sangat semakin nyaman," ungkap dalam Harris.

"Syukurlah kalau kamu rasa begitu."

Dari kejauhan, Kayla memberi kode untuk segera pulang.

"Umm.. Rris, aku pamit dulu ya. Kalau ada waktu senggang, aku pasti main ke sini lagi," ucap Ghea.

Harris mengangguk tersenyum, "Makasih banyak ya Gi udah mau jenguk aku di tempat terpencil ini. Hati-hati dijalan ya.."

Ghea mengangguk, melambaikan tangannya.

Diperjalanan, Kayla membuka percakapan.

"Ya ampun Ghee.. Aku tuh takut banget lho pas si Lia marah-marah sampai teriak-teriak gitu. Urat sarafnya lagi putus kali ya," celetuk Kayla.

"Huss! Kamu ini ngaco deh. Tapi aku senang bisa ketemu Harris lagi, ngelihat dia tersenyum dan tenang menghadapi kisah hidupnya yang nggak gampang."

"Jadi, kamu sama dia gimana?"

"Gimana apanya?"

"Yaa.. Kelanjutannya.."

"Belumlah Kay. Yang jelas, aku mau kasih waktu dulu ke Harris. Yaa.. Setidaknya sampai dia benar-benar siap untuk membuka lagi hatinya," jelas Ghea.

"Aku baru lihat seorang Ghea yang kuat dan nggak pernah menyerah ini," lirik Kayla.

Ghea tertawa, "Teruuss.. Biasanya aku lemah gitu.. Kamu ih, kayak baru kenal aku aja, haha.."

Seminggu berlalu. Kayla dan Ghea sudah jarang bertemu.

"Kay, kamu sibuk nggak? Temani aku beli alat dapur yuk," ajak Ghea.

"Sorry Ghe, kayaknya aku bakal sibuk banget deh sampai 2 bulan ke depan," jawab Kayla.

"Ooh.. lagi banyak wedding ya? Hehe.. Yaudah deh, take care ya Kay. Jangan telat makan. Miss you," 

Sudah sekitar 2 bulan ini, setiap di penghujung pekan, Ghea selalu mengunjungi rumah sakit tempat Harris bekerja.

"Rris, akhir-akhir ini, kok Kay kelihatan beda ya? Perasaan selama ini, dia tuh nggak pernah sesibuk ini. Alasannya sih, lagi banyak kerjaan. Masa iya sih setiap hari ada yang wedding.." ungkap sedikit curahatan hati Ghea.

"Positif thinking aja Gi. Kali aja memang lagi banyak yang pengen nikah, hehe.." seru Harris dengan gurauannya.

Tapi, tiba-tiba Kayla mengirim pesan Whatsapp via voice note pada Ghea, dengan nada bicara panik, sedikit berbisik, sambil menangis, seperti ketakutan, "Ghe, tolong Ghe, aku butuh bantuan kamu sekarang. Aku lagi ada dirumah.. Aku takut Ghe.." setelah itu terputus.

Sontak Ghea sangat terkejut dan bertanya-tanya, ada apa dengan Kayla, sahabatnya itu. Ghae mencoba menghubungi ponsel Kayla, namun tidak aktif. Mencoba menelpon ke nomor telepon rumah Kayla juga nihil.

Seketika itu Ghea panik, dan buru-buru pamit pada Harris, "Rris, aku harus balik sekarang. Kayaknya Kay lagi dalam bahaya. Aku harus tolong dia."

"Gi! Aku ikut," ujar Harris, Ghea mengangguk tersenyum.

Diperjalanan, Ghea bercerita tentang keadaan yang pernah menimpa Kayla.

"Kay itu anak tunggal, papa dan mamanya bercerai sejak umurnya 7 tahun. Kay ikut bersama mamanya. Waktu itu, setiap hari Kay lihat papa dan mamanya bertengkar, bahkan dengan kekerasan. Dan beberapa kali, Kay sempat diteror oleh papanya sendiri. Aku juga nggak tahu apa sebabnya. Nah, barusan tadi, Kay kirim voice note ke aku dengan nada panik. Aku udah takut aja kalau papanya balik lagi dan mencoba neror lagi. Padahal udah beberapa tahun ini, papa Kay masuk rumah sakit jiwa, dan mama Kay mulai sakit-sakitan, sampai akhirnya meninggal sekitar 2 tahun lalu. Makanya aku udah anggap Kay kayak kakak aku sendiri," Ghea bercerita tentang masa lalu Kay, dengan berderai air mata.

Harris menepuk mengelus pundak Ghea, dan Ghea pun sedikit tertenangkan.

Sampailah mereka dirumah Kay. Ghea mencoba menghubungi Kay sedari tadi, namun ponsel Kay tidak aktif.

"Kay! Kayla!" Ghea melihat pintu rumah Kay terbuka, dan yang lebih mengejutkan lagi, beberapa kursi dan meja terlihat berantakan, tergeletak tak semestinya.

Ghea terlihat sangat panik. Dia mencoba mencari ke setiap sudut rumah, namun tak melihat keberadaan Kayla. Sambil masih menangis tersedu, Ghea mencoba menghubungi lagi ponsel Kayla.

"Halo! Kay! Kay kamu dimana??!! Halo, Kay! Kay jawab aku!" kepanikan Ghea belum juga reda, sampai ia terduduk dilantai dekat kasur dikamar Kayla, sambil menangis.

"Gheaa!!" terdengar suara Kayla memanggil.

Dan sebuah keterkejutan lain pun terjadi.

"Happy birthday to you, happy birthday to you.. Happy birthday, happy birthday, happy birthday Ghea.." Kayla bersama Harris berhasil membuat Ghea panik sepanik paniknya.

Hal itu membuat Ghea semakin menangis namun berbalut senyuman.

"Kalian kok jahat banget siih.. Huuu.." Kayla datang dan memeluk erat Ghea.

"Sorry.. Tapi aku hebatkaann.. Hehe.. Eh, eh, ada yang mau ngomong nih sama kamu. Umm.. Waktu dan tempat dipersilahkan," seru Kayla.

Harris lalu menghampiri Ghea, "Sebenarnya semua ini rencanaku Gi, aku pengen sesuatu yang berbeda. Tapi maaf kalau berlebihan. Selamat ulang tahun. Aku harap, kamu semakin bahagia dan selalu dalam lindungan Allah, selain itu, aku berharap, kamu.. Mau jadi istriku," sambil mengeluarkan sekotak merah manis berisi cincin.

Ghea menutup mulutnya, tanda ia terkejut untuk kedua kalinya.

"Aku.. Umm.. Aku nggak akan bisa nolak ini. Aku mau, mau jadi istri kamu," jawab Ghea dengan bahagianya.

Kayla yang melihatnya pun merasa terharu.

"Akhirnya, sahabatku tercinta punya pasangan lagi. Aku titip Ghea ya Rris, jaga dia baik-baik," pesan Kayla pada Harris.

"Aku nggak akan pernah sia-siain perempuan istimewa ini," seru Harris dengan menatap lembut mata Ghea.

Ghea pun tersenyum hangat.

"Aduh duh.. Perut aku sakit nih, yang lagi ultah sama yang ngelamar, kasih traktiran dooong.." celetuk Kayla sembari melirik ke arah Harris dan Ghea.

"Hhuu.. Dasar kamu," seru Ghea.

~ s e l e s a i ~


Post a Comment

0 Comments