Cerpen: Perempuan Tanpa Suara

by - September 23, 2019


 - Cerpen: Perempuan Tanpa Suara - Santai sejenak duduk di bangku taman, di bawah pohon, sebelum pulang ke rumahnya. Itulah yang biasanya dilakukan Andri setiap sore. Suasana taman yang tak terlalu ramai, membuat pikiran tenang.

Sampai suatu ketika, Ia bertemu dengan seorang perempuan bercadar yang juga duduk dibangku taman sisi lain. Sedang membaca buku. 

"Subhanallah.. Ada bidadari didalam taman seperti ini. Tapi tumben aku melihatnya," batin Andri sambil memperhatikannya dari kejauhan. Saat perempuan itu menutup bukunya, kemudian melihat sekitar, Andri berpura-pura memainkan handphonenya. Dan sesekali melirik ke arah perempuan itu.

Tepat pukul 6 sore, perempuan itu mulai beranjak dari taman. Andri yang masih memperhatikannya, mengikutinya diam-diam. Sampai ke parkir motor, perempuan itu menaiki motor maticnya, kemudian berlalu.

"Semoga besok Ia datang kesini lagi," harap Andri.

Besoknya sore jam yang sama, perempuan itu datang bersama dengan seorang lelaki paruh baya. "Mungkin itu Ayahnya," pikir Andri.

Terlihat mereka berdua sangat-sangat dekat. Andri yakin bahwa itu adalah Ayahnya.

Besok sorenya, Andri terlambat datang ke taman. Dengan cepat Ia berlari dari parkiran menuju ke dalam taman. Matanya berkeliling mencari sosok perempuan tersebut. Namun Ia tak menemukannya. "Ah, gara-gara macet sih, aku jadi telat kan," kesalnya.

Beruntung, perempuan itu ternyata seperti baru juga sampai di taman. "Ya Allah, Engkau Maha Baik," batin Andri sembari tersenyum.

Dari kejauhan Andri melihat perempuan itu seperti sedang menangis, karena gerakan pundaknya juga beberapa kali Ia mengusap matanya.

"Dia kenapa ya? Apa aku harus menghampirinya?" batin Andri bingung.

Akhirnya Andri putuskan untuk menghampirinya, "Assalamu'alaikum, maaf, kenapa kamu  menangis?" tanya Andri.

Sontak kehadiran Andri membuatnya terkejut, dan Ia hanya menggeleng pelan.
"Saya Andri," seru Andri mengenalkan diri.

Lalu perempuan itu mengeluarkan sebuah buku kecil dan menulis. Tentu saja apa yang dilakukannya itu membuat Andri mengernyitkan dahinya. Kemudian diberikannyalah buku kecil tadi kepada Andri.
Tertulis, "Saya Nissa. Maaf saya ini bisu. Terima kasih untuk datang dan bertanya. Tapi saya nggak apa-apa kok."

"Alhamdulillah.. Maaf, saya nggak tahu kalau kamu.. Umm.. Kamu kenapa sendirian aja? Boleh saya temani?" seru Andri.

"Saya memang biasa sendiri. Kadang juga datang bersama Ayah saya," jawabnya tentu saja melalui tulisan.

Andri lalu tersenyum.

"Saya harus segera pulang. Terima kasih Andri," tulisnya lagi.

"Jalan bareng sampai ke parkir ya, saya juga mau pulang," seru Andri.

Mereka pun berjalan menuju parkiran dan lalu berpisah sesuai tujuan masing-masing.

Andri terus terngiang mata indah Nissa, "Mohon ampunanMu Ya Allah, hamba sungguh kagum kepada ciptaanMu yang satu ini," ucapnya pelan sambil terus melaju menuju rumahnya.

Hari Ahad ini Andri datang dengan sepedanya. Terduduk di tempat biasa. Menanti Nissa. Tapi sudah hampir 1 jam Ia menunggu, Nissa tak kunjung datang. "Mungkin Ia sedang sibuk, atau.. Aku tak mau berpikir lain," batinnya. Dengan sedikit rasa kecewa, Andri bergegas pulang.

Hari demi hari berlalu. Total sudah 3 hari Nissa tidak menghiasi taman itu. Namun, di hari ke-4, Andri melihat Ayah dan  keponakan Nissa sedang duduk di bangku yang biasa di tempati Nissa. Karena rasa penasaran yang teramat sangat, dengan berani, Andri coba menghampiri mereka.

"Assalamu'alaikum," salam Andri.
"Wa'alaikumsalam," mereka menjawab.
"Permisi Pak, Saya Andri, saya teman Nissa. Bapak Ayahnya Nissa kan?" jelas dan tanya Andri, sekedar memastikan.
"Oo, Andri ya. Iya saya Ayahnya Nissa. Beberapa hari lalu Nissa sempat cerita tentang kamu. Katanya kamu sering memperhatikan dia ya dari kejauhan?" ujar Ayah Nissa.

Aku merasa tidak enak hati, "Ee, mohon maaf sebelumnya Pak. Sebenarnya memang betul saya selalu memperhatikan bahkan menunggu kehadiran putri Bapak. Jujur nggak ada maksud lain Pak, saya hanya kagum sama putri Bapak," jelas Andri mencoba mengklarifikasi.
"Andri, saya tahu bagaimana sifat anak saya, dan dia juga pasti tahu bagaimana cara dia mengenal orang-orang di sekelilingnya."

Andri dengan serius mendengarkan cerita Ayah Nissa.

"Kamu mungkin hanya tau Nissa dari luarnya saja. Kalau boleh saya cerita, Nissa itu tuna wicara sejak kecil, dan ibunya meninggal sesaat setelah melahirkannya ke dunia. Setelah Nissa sekolah, banyak teman-temannya yang mengejek karena dia tuna wicara. Sampai beranjak remaja, dia sempat berpikir bahwa semua ini salah ibunya, yang menyebabkan dia tidak bisa bicara. Dari situ lah kehidupan Nissa sempat kacau. Bahkan bisa di bilang sangat durhaka," mata beliau mulai berkaca-kaca.

"Saat itu dia tidak mau lagi melanjutkan sekolah, dan sempat pergi dari rumah selama 2 hari. Sampai pada akhirnya dia ditemukan tergeletak di pinggir jalan dengan pakaian yang tidak lagi utuh," beliau semakin sedih bercerita, "Setelah itu dia sempat di rawat di rumah sakit selama kurang lebih 3 bulan. Karena koma. Saat itu saya hanya bisa berdoa. Syukurlah, setelah 3 bulan koma, dia sadar. Dan tatapannya sangat sedih, air matanya tidak berhenti mengalir. Mencoba berisyarat, tapi keadaannya masih sangat lemah."

"Dan saat itu juga, dokter memberitahukan saya bahwa Nissa terinveksi HIV AIDS. Seketika saya menahan tangis, saya mencoba tegar, begitu juga dengan Nissa."

"Setelah kembali ke rumah, dia langsung bersujud menciumi kaki saya. Dari situ saya sadar, bahwa saya yang salah, tidak bisa dengan baik mendidik anak. Sampai pada akhirnya, Nissa memutuskan untuk berhijab dan bercadar. Maaf ya Andri, saya bercerita sepanjang ini," ucap beliau.

"Nggak apa-apa Pak. Maaf Pak, sekarang Nissa sehat-sehat saja kan Pak?" tanyaku sangat penasaran.

"Nak Andri, 3 hari lalu Nissa anak saya telah berpulang ke sisi Allah. Maaf kalau anak saya ada salah ya, mohon doanya untuk ketenangan Nissa," jawab beliau.

Sontak Andri terdiam sejenak. Matanya mulai berkaca-kaca, "Innalillahi wainna illaihi roji'un. Saya turut berduka ya Pak, semoga almh Nissa husnul khotimah," sambung Andri.

"Nak Andri, sebelum pergi, Nissa menitipkan surat ini untuk kamu. Baiklah, saya pamit dulu," sambil menepuk pelan pundak Andri, Ayah Nissa kemudian berlalu.

Rasa sesak menahan tangis tak bisa Andri hindari. Sambil membaca surat yang dititipkan untuknya itu.

Ku disini duduk terdiam
Merenung dengan tenang
Sesekali tersenyum melihat sekitar
Sampai mataku menangkap kehadirannya

Mungkin hanya perasaanku saja
Sebuah harapan belaka
Sampai akhirnya ku mendengar suara
Sebuah salam kau ucapkan tuk menyapa

Jelas tergiang dalam ingatan
Kata demi kata kau ucapkan
Tulisan demi tulisan aku jabarkan
Dan dengan sabar kau mendengarkan

Anggap saja suara hati ini yang menyampaikan
Semua rasa yang terpendam
Akankah terjalin suatu hubungan?
Jangan! Aku tak ingin melanjutkan

Terima kasih untuk telah perduli
Kepada perempuan tak bersuara ini
Walau hanya dalam satu hari
Kau telah mengisi hati

Kini..
Hanya ada kau dan kenangan
Tak ada lagi yang kau perhatikan dalam indahnya taman
Mohon maafkan jika ada kesalahan
Ku mohon doakan aku dalam ketenangan

Nissa

You May Also Like

0 Comments

Silahkan beri penilaian, masukan dan saran yang membangun. Mohon tidak menyertakan link aktif atau komentar spam. Terima kasih :)




Supported by
 Bayu Pradana



close