Cat

17 September 2019

Cerbung: Driver Ojek Online & Penumpang Misterius Part 2


- Driver Ojek Online & Penumpang Misterius 2 - "Banyaknya ya pengalaman dari para penumpang. Banyak karakter yang aku temui. Aku jadi banyak belajar dari mereka. Bahwa don't judge a book by it's cover itu memang nyata," sambungnya lagi.

Dan aku bertanya lagi, "Misalnya kayak gimana tuh Za?"

"Aku pernah dapat penumpang yang tatoan, pakai rompi kulit, ya kayak preman gitu. Dari mulai naik motor sampai ke tujuan, ada mungkin lebih dari 20 kali dia maki~maki orang yang di telponnya itu. Tapi aku salut pas kita sampai, dia langsung minta maaf ke aku kalau tadi dengar semua percakapannya di telpon. Dan akhirnya dia ngasih tips ke aku," ceritanya.

Aku manggut~manggut senyum, "Berarti tuh orang masih tau sopan santun ya. Terus~terus yang buat kamu mantap untuk ngojek apa sih Za? Nggak takut tuh nanti kalau.. yaa amit amit sih.. ada apa~apa dijalan? Soalnya banyak juga kan cerita horor gitu," tanyaku penasaran.

"Oh ya, ada. Ini cerita sebelum aku ngojek sih. Jadi sekitar 2 tahun lalu, aku lihat seseorang yang lagi berdiri di depan rumahnya mungkin, ternyata dia ini lagi nungguin ojek online mobil. Nah dari situ aku perhatiin si penumpang ini. Kok rasanya ada yang aneh ya. Perasaanku jadi nggak enak Wit. Kebetulan aku pas lagi di rumah customer yang rencana mau ambil mobil. Karena penasaran, aku langsung ambil motor dan ngikutin mereka, tanpa mikir customerku itu tadi. Tapi ternyata aku kehilangan jejaknya, di tambah lagi motor aku bannya kempes. Yaa, jadinya usaha pengejarannya juga berhenti," cerita Eza, yang lalu menyeruput jus jeruknya.

Aku terdiam sejenak, "Lah, udah gitu aja? Letak horornya dimana coba?" tanyaku lagi dan lagi.

"Eits, masih ada lanjutannya nih. Aku haus jadi minum dulu, hehe.." ah dasar nih orang, "Nah karena aku ini orangnya gampang banget penasaran, jadi aku putuskan untuk pindah haluan dari sales ke ngojek."

Aku masih terdiam heran, "Karena gitu aja? Jadi kamu langsung ngelamar jadi driver gitu? Trus coba cari tau si drivernya atau penumpangnya itu?" aku malah penasaran.

"Iya. Besoknya aku langsung resign dan ngelamar jadi driver. Syukurnya aku langsung diterima. Aku nggak tau ya Wit, rasa~rasanya aku masih penasaran sama apa yang aku lihat waktu itu. Ada yang harus aku pecahkan, makanya aku bela~in buat ngejar mereka," ujarnya lagi.

"Terus, akhirnya kamu nemuin mereka?"

Eza manggut, "Justru aku langsung ketemu sama penumpang misterius itu. Rasanya lega sih, akhirnya bisa ketemu sama dia. Setelah nungguin orderannya selama kurang lebih 4 tahun," sambungnya.

"Bentar deh, kok aku malah bingung ya. Memang penumpangnya kenapa sih Za? Kakinya nggak napak ya? Atau matanya merah? Kamu sempat lihat punggungnya bolong nggak?" celetukku.

Eza menggeleng tertawa kecil, "Justru sebaliknya Wit. Dari ujung rambut sampai ujung sepatunya, terlihat rapi dan wangi banget. Rupanya juga cantik."

"Duh Za, jadi sebenernya penumpang itu jadi~jadian atau gimana sih Za?" aku makin sewot.

"Kamu tahu Wit. Penumpang itu adalah kamu. Sosok yang selalu aku tungguin di depan rumahnya selama 2 tahun, nungguin orderannya. Dan itulah hal utama yang membuatku pindah haluan kerja. Cerita ini lebih serem dari sundel bolong Wit," ujarnya.

Sontak aku super bingung dan speachless, "Haha.. Serius kamu Za? Kamu itu ya aneh. Orang udah serius banget dengerin, aku kira kamu tuh ngelihat hantu. Lagian masa ngejar aku sampai segitunya sih," responku yang benar~benar tak menyangka bahwa segigih itu dia berbuat.

"Jujur, dari zaman ngampus dulu, aku sering perhatiin kamu dari kejauhan. Dan nggak berani dekat sama kamu akhirnya cuma sekedar sapa menyapa aja. Karena aku ngerasa nggak pantas dekatin kamu yang waktu itu adalah cewek populer di kampus," jelasnya serius.

Aku tertawa, "Ya ampun Zaa.. Aku nggak sepopuler itu kali. Aku juga mau jujur nih sama kamu. Jadi, sekitar kurang lebih 1 bulan lalu, aku datang ke pesta penikahan sahabat aku Putri, yang ternyata nikah sama Robby teman kamu dulu," ceritaku lalu di potong olehnya.

"Lah, Kok Robby nggak ngundang aku ya. Wah dasar tuh anak, lupa sama temen," kesal Eza.

"Eh, dia bukannya lupa, tapi kamunya tuh yang susah di hubungi setahun terakhir, gitu lho.." jelasku singkat, "Duh, sampai mana tadi ceritanya, kamu sih motong aja," Eza meminta maaf sambil tertawa kecil, ".. Jadii, Robby itu cerita banyak tentang kamu yang diam~diam naksir aku dulu, hehe.."

"Yah Robby, bikin malu aja. Oh iya, akunya yang ganti nomor, hehe.." ujarnya sambil nyengir~nyengir.

"Dasar kamu Za. Eh tapi Za, kamu tahu nggak, dari cerita Robby itu aku jadi ngerasa simpatik gitu sama kamu," lagi Eza nyengir malu sambil garuk~garuk kepala, ".. Dan ini juga lebih horor dari cerita kamu tadi. Kalau selama 1 bulan kemarin aku sengaja beralih dari aplikasi hijau yang satu ke aplikasi hijau yang lain. Dan yang lucunya lagi, aku berharap kalau drivernya itu kamu. Hah.." ceritaku sedikit panjang.

Aku dan Eza sama~sama terdiam dan berpikir hal yang sama.

"Jadi selama ini kita satu rasa. Tapi belum bisa satu jiwa ya Wit," celetuk Eza.

Aku tertawa, "Jadi judulnya itu driver ojek online dan penumpang misterius ya, haha.."

"Btw, kita sekarang pacaran nih Wit?" tanya Eza.
"Wah, ini pertanyaan horor nih, haha.." jawab candaku.
"Serius dong Wiit.." kesalnya.
"Umm.. Tapi kamu jemput aku tanpa aplikasi ya, haha.." pintaku.
"Tapi kamu kasih point cinta ke aku ya," ujarnya.
"Asiap.."

Dan akhirnya si driver ojol dan penumpang misteriusnya ini bersatu dalam jiwa.


~ S E L E S A I ~

No comments:

Post a Comment

Silahkan beri penilaian, masukan dan saran yang membangun. Mohon tidak menyertakan link aktif atau komentar spam. Terima kasih :)