BLANTERWISDOM101

Cerbung: 11 Januari (Part V)

Sunday, February 17, 2019

Sampai ketemu besok. Assalamu'alaikum," pamitnya.

"Wa'alaikumsalam," aku berlalu dan masuk kedalam rumah, setelahnya Juna pun melaju meninggalkan kediamanku.

Terselip dalam hati dan pikiran, kenapa tidak mungkin kalau aku pantas memberinya kesempatan...

"Lho, mama kok belum tidur?" terlihat mama masih terduduk di ruang tamu sambil membaca buku.

"Ya mama nungguin kamu pulang. Jadi kamu di anter Juna kan?" tanya mama.

"Loh, kok mama tau?" tanyaku heran.

Mama tersenyum lalu menutup bukunya dan menghampiriku yang masih berdiri di depan pintu, "Mama udah pengen gendong cucu," sambungnya.

"Ih, mama nggak nyambung deh. Ayo lah ma kita tidur. Aku capek banget nih," ujarku menghindar dan lalu berjalan lemas menuju ke kamar.

Baca juga Cerpen: Bunga Lily Putih

Besoknya selesai sholat subuh, aku sudah berberes dan memasak.

"Duuhh, calon istri idaman nih anak mama. Pagi - pagi semuanya udah beres, rapi dan terhidang. Kamu lagi jatuh cinta ya?" ledek mama yang berjalan menuju meja makan.

"Mama ini lagi lagi nggak nyambung deh. Namanya juga anak perempuan maa, wajar dong kalau ngerjain ini semua," jawabku serius.

"Lagi jatuh cinta juga nggak apa - apa kok sayang, mama nggak ngelarang. Udah boleh dimakan nih?" ujar mama.

Aku tersenyum malu dan mengangguk.

Waktu sudah menunjukkan jam 10 pagi. Dan sudah 5 menit aku terduduk di meja rias di kamarku, memandang ke arah cermin sesosok single available yang mungkin akan menanggalkan predikat itu beberapa saat kedepan. Lalu aku mulai bersolek.

"Nirra... Kamu ngapain?" tanya mama dan menghampiriku.

"Eh, mama. Umm... Ni lagi siap - siap ma, mau pergi sama Juna. Nggak apa - apa kan ma?" jawabku.

Mama tersenyum, "Kok kamu malah tanya mama. Yang jalanin kan kamu. Jadi yang tau juga pasti kamu. Satu lagi, rasa yang pernah ada di hati kamu mungkin pernah sakit, tapi kalau kamu merasakan itu semua dengan cara yang positif, mama yakin sesuatu yang baik akan datang dengan segera," ungkap mama.

Aku tersenyum, "Makasih ma. Kalau gitu aku ganti baju dulu ya ma," ucapku dan mama pun segera keluar kamar.

Aku memilih outer berwarna abu sedikit gelap dengan inner kaos warna putih dengan bawahan skirt warna abu sedikit muda, tidak lupa kupakai legging hitam serta kaos kaki jempol warna kulit dan memadukan semuanya hijab dengan warna hitam. Ribet? No! This is perfect!

Juna datang tepat waktu, seperti yang ku tau, Ia tak pernah terlambat sedetikpun.

"Subhanallah," aku mendengar pelan ucapan Juna.

"Ayo," dan akupun lalu mengajaknya masuk ke mobil.

"Kamu nyadar nggak, kalau malam ini outfit kita berwarna sama?" ucapnya membuka obrolan.

Dan memang aku tak menyadarinya, "Ah, iya. Padahal kita nggak janjian ya," lanjutku menanggapi.

Obrolan demi obrolan berlanjut, sampai akhirnya kami sampai di sebuah restoran pinggir pantai.

"Bagus banget tempatnya Jun," aku terpana melihat keindahan pantai dan lalu terduduk di seuah kursi yang telah tersusun rapi.

Baca juga Cerpen: Teman lama

"Alhamdulillah kalau kamu suka, aku sengaja siapin ini semua khusus untuk kamu," sambung Juna.

Pipiku yang mengenakan blush on tipis ini mendadak semakin memerah karena kejutan dari Juna.

Hidangan demi hidangan pun datang, dan dengan santai kami melahapnya, dihiasi obrolan serta canda. Selepas menyantap semua hidangan, suasana kian terasa hangat, aku rasa.

"Gimana Rra, menunya enak nggak?" tanya Juna.

"Sempurna! Apalagi didukung sama tempat yang super sempurna ini. Kenapa nggak dari dulu sih kamu ngajak aku ke tempat ini?" aku berucap seolah kami masih memiliki suatu ikatan, salah ngomong deh akunya.

"Kita sambil jalan yuk," ajak Juna, akupun mengiyakannya.

"Selama di luar negri... aku banyak belajar, belajar tentang arti dari kehidupan, dari situlah aku sadar kalau nggak ada manusia yang sempurna kecuali sang pecipta alam, dan karena itu juga aku jadi paham tentang agama, ya walau nggak banyak, tapi setidaknya aku mengerti kenapa waktu itu kamu benar - benar yakin untuk berhijab," cerita Juna.

Aku melihat dalam raut wajah Juna yang sedang melihat langit malam itu.

"Entah kenapa waktu itu aku benar - benar yakin, kayak ada sesuatu dalam hati yang mendorong aku untuk berubah, berubah jadi seseorang yang ingin lebih baik, terutama dari hal penampilan. Dan inilah aku, inilah Nirra yang sekarang," aku balik menjelaskan.

"Aku ngerti kok Rra, aku juga berpikir hal yang sama. Aku mau jadi seseorang yang jauh lebih baik, terutama untuk menjadikan kamu istriku," ungkap Juna yang sotak saja mengagetkanku.

Kami yang kala itu sedang berdiri menghadap ke laut, tiba - tiba Juna berlutut ke arahku dan mengambil sebuah kotak kecil dalam sakunya, lalu membukanya dan terlihat sebuah cincin.

Lagi aku melihat keseriusan dalam hangat tatapannya. Dipikiranku sekarang hanyalah saat ini Juna adalah salah satu orang yang bertujuan sama denganku, yaitu berhijrah. Dalam hatiku seperti ada keyakinan yang tulus untuk menerimanya kembali. Seketika air mataku menetes, aku terharu.

Aku mengangguk dengan pasti sambil tersenyum sumringah, disambut oleh Juna yang rautnya terlihat ikut bahagia sambil memasangkan cincin itu di jari manisku.

"Semoga ini adalah awal untuk kita memulai hidup dengan tujuan yang sama ya, sayang," harap Juna.

Lagi - lagi aku mengangguk dengan mata yang masih basah karena air mata.

Tak lama setelah kejadian indah itu, kami pun pulang, dan rasanya aku tak sabar menceritakan semua ini pada mama.



B E R S A M B U N G ...
Share This :
Kyndaerim

Seorang Ibu biasa yg suka berkhayal dan main sama anak. Wajib follow, haha! Jangan bosan baca ceritanya yaa.. Supported by Bayu Pradana

Silahkan beri penilaian, kritik dan saran yang membangun. Mohon tidak menyertakan link aktif atau komentar spam. Terima kasih :)