BLANTERWISDOM101

Cerbung: 11 Januari

Friday, January 11, 2019

Hari ini adalah hari dimana aku akan mengubah jalan hidupku dan merelakan semua yang aku anggap menyianyiakan waktu di hidupku.

"Nirra, kamu harus yakin sama apa yang udah kamu putuskan, mulai hari ini," aku berbicara pada diriku sendiri, di cermin.

Pagi ini aku telah bersiap, berpakaian rapi seperti biasanya. Dan yang pasti, sudah menyiapkan hati juga. Bersiap dari segala macam komentar yang orang berikan, terutama Arjuna.

"Nirra! Masya Allah, jadi juga kamu berhijab. Aku kira kamu itu bercandaan aja. Cantik deh kamu," kata Dewi, salah satu teman sekantorku.

Sontak orang - orang satu kantor kaget saat melihatku, padahal aku hanya sekedar behijab, bukan main sulap.

"Wi, Nirra belum dateng ya?" tanya Juna.

"Loh, aku kira kalian dateng bareng. Eh, tuh dia yang diomongin udah dateng, panjang umur deh. Pergi dulu aahh..." kata Dewi yang kemudian pergi meninggalkan aku dan Juna.

Aku terdiam sedikit tersenyum, begitupun Juna, namun Ia tampak tak berekspresi.

"Kenapa kamu nekat Nirra? Aku kan udah bilang kalau..." aku lalu melanjutkan omongannya.

"... Kamu nggak pernah setuju aku berhijab?? Aku cuma ikuti kata hati aku, dan aku udah siap. Aku udah nurutin kamu 2 tahun ini Jun. Dan kita udah bahas ini berkali - kali. Maaf, sekarang aku bener - bener harus bertindak sesuai hati aku. Please! Ngertiin aku," tegasku.

"Ok. Berarti kamu juga siap nerima resikonya. Kamu ingatkan yang kita bahas kemarin malam?" ujar Juna yang hendak memberhentikanku dari pekerjaan ini.

Dengan jelas pula aku berkata dihadapannya, "Ya, aku akan segera membereskan barang - barangku. Permisi," aku pun langsung melakukannya.

Juna yang terduduk di meja kerjaku juga langsung berdiri, kemudian masih memperhatikanku, "Nirra, maafin aku. Aku nggak bermaksud ngelakuin semua ini. Nirra, please dengerin aku!" aku tak menghiraukannya, dan terus memberekan barang - barang di meja kerjaku.

Juna adalah atasanku dikantor. Sejak 3 tahun lalu kami menjalin hubungan. Dan 2 tahun terakhir aku sempat meminta ijin padanya ingin berhijab. Namun Ia menolaknya. Entah karena apa, Ia tak pernah memberitahukan alasannya. Ia hanya sempat mengancam, bahwa akan memecatku dari kantornya. Lucu ya, dari situ aku tahu, bahwa Ia tidak tulus mencintaiku.

Baca juga Cerpen: Kesialan yang Menyenangkan

Mungkin itu adalah hari terburuk dalam hidupku. Tapi aku tidak ingin menyalahkan siapapun. Yang jelas, aku bangga bisa mempertahankan hijabku. Semoga seterusnya seperti ini.

Esoknya, selesai sholat subuh, aku menghampiri mama dikamarnya, sedang melipat mukenahnya, "Ma, tawaran mama tempo hari masih berlaku nggak?" tanyaku.

Mama menyerngitkan dahinya, "Tawaran yang mana sayang?"

"Umm... Jadi... Mulai besok aku udah nggak kerja lagi ma. Aku mau nerima tawaran mama beberapa bulan lalu buat bantuin mama di WO," jelasku memberanikan diri.

Dan aku mulai bercerita pada mama. Tentang yang terjadi di kantor hari ini. Aku memang sudah terbiasa mencurahkan isi hatiku pada mama. Karena mama bisa memberi solusi dan yang terpenting bisa menenangkanku disaat hatiku sedang kacau.

Mama adalah seorang single parent. Papa menceraikan Mama sekitar 5 tahun lalu, karena wanita lain. Papa benar - benar bukan panutanku. Sekarang ini aku dan Mama hanya tinggal berdua, karena memang aku adalah anak tunggal. 3 tahun terakhir Mama memiliki usaha WO. Dan sudah setahun ini aku berkecimpung didalamnya. Alhamdulillah, usaha ini berjalan lancar.

Di umurku yang sudah cukup matang ini, membuat mama sedikit khawatir dengan percintaanku. Sejak putus dari Juna, aku belum berani lagi mencoba dekat dengan lelaki lain. Biarlah, aku ingin berlama - lama dulu dengan mama. Menikmati kebersamaan ini.

"Ma, nanti jadi ketemu klien jam 10?" tanyaku pada mama.

"Oiya, mama lupa bilang ya sama kamu. Mama mau kerumah tante Mira. Dia minta dianterin ke butik langganan mama. Katanya ada sedikit masalah sama gaun pengantin Dewi," jelas mama.

"Oh, yang kekecilan itu ya ma? Haha... Iya iya, aku udah baca juga tuh status Dewi di WA. Yaudah ma, biar aku sendiri aja ya yang temui klien," kataku memberi saran.

"Ok. Tolong ya sayang. You're the best," kata mama lalu menciumku.

Jam 10 teng, aku telah sampai di sebuah kafe untuk menemui klien.


"Hallo, iya saya sudah di tempat mbak. Meja 10. Ok," bertemulah aku dengan calon pengantin wanita bernama Jane.

"Sorry ya agak telat. Isi bensin dulu tadi. Umm... Nila ya?"

"Nirra," sambungku.

"Eh sorry sorry, saya memang suka sedikit lupa sama nama orang, haha... Jadi, bisa kita mulai ya. Eh, iya panggil Jane aja, biar keliatan mudanya," kata Jane mengakui.

Aku memang merasa Jane terlihat lebih tua dariku makanya aku panggil mbak, mungkin umurnya sekitar 35 tahun.

Akupun mulai menjelaskan konsep apa saja yang tersedia. Memberikannya katalog berisi gambar - gambar dari konsep tersebut. Dan Jane mulai menentukan tanggal pernikahannya.

"Calon suaminya kok nggak di ajak? Harusnyakan ikut, jadi bisa barengan milih," aku mencoba bertanya.

"Dia lagi sibuk. Tadi juga udah aku ajak kok. Mungkin lain waktu dia baru bisa ikut," jelas Jane.

Setelah selesai mencatat dan berbicara tentang konsep yang di pilih Jane, kamipun segera beranjak pergi.

"Thank's so much Nila, bye..." dengan terburu - buru, Jane langsung meninggalkanku.

"Memangnya namaku susah di ingat ya?" gumamku pelan.




B E R S A M B U N G ...
Share This :
avatar

kira² siapa ya calon pengantin prianya? apa jgn² junaaaa.. 😁😁😁

11 January, 2019 21:05
avatar

Penasaran sama sambungannya.. hahaha.. 😁

12 January, 2019 09:04
avatar

Adek: Aww.. siapa yaa (p)

12 January, 2019 09:13
avatar

Stay tune mba Evva :-d

12 January, 2019 09:15
avatar

Wah, ceritanya menarik dan mengalir. Layak untuk ditunggu cerita selanjutnya.

Tebakanku, calon penganti prianya adalah mantannya Nirra, yaitu Arjuna.

He he.. cuman nebak.

12 January, 2019 21:38
Silahkan beri penilaian, kritik dan saran yang membangun. Mohon tidak menyertakan link aktif atau komentar spam. Terima kasih :)