BLANTERWISDOM101

Cerbung: 11 Januari (Part IV)

Saturday, January 19, 2019

"Dasar kamu tuh yaa..." Dewi tertawa dan melempar ke arahku handuk bekas mengeringkan rambutnya.

Dalam hatiku, apakah mungkin aku mampu memberinya kesempatan?

Hari ini, adalah hari bahagia untuk Dewi dan Aldo. 2 sejoli yang dipertemukan saat SMA ini melaksanakan ijab qabulnya di sebuah masjid agung.

Syukurlah, ijab qabul berjalan dengan lancar, yang ditutup dengan doa serta foto bersama. Kemudian, kedua mempelai, keluarga dan kerabat bersiap untuk berangkat menuju kerumah Dewi sebagai tempat dilaksanakannya resepsi pernikahan.

"Eit, tunggu - tunggu. Kamu nggak boleh ikut kita. Tuh, udah ada yang nungguin," Dewi berisyarat bahwa aku harus pergi bersama Juna.

Baca juga Cerbung: 11 Januari

"Eh, Wi! Kok... Aduh... Tahu gitu kan tadi aku bawa mobil ajaaa..." aku terjebak, mencoba cari tumpangan lain juga tidak ada.

"Bareng aku aja, yuk!" Juna mengagetkanku dari belakang, dan berjalan menuju mobilnya.

Tentu saja aku mengiyakan.

"Akhirnya ya Dewi sama Aldo nikah juga. Awet banget mereka," ujar Juna memulai obrolan.

"Hu'um. Seneng ya lihat mereka udah sah gini, haha..." aku mencoba bersikap biasa.

Juna melirikku, "Nirra, kamu masih punya cita - cita menikah di pantai dengan nuansa putih?" tenang Nirra, itu hanya pertanyaan spontannya, mungkin.

"Umm... Mugkin masih," jawabku ragu.

Kami pun sampai, "Aku duluan ya, makasih Juna," aku bergegas bertugas memantau tim.

Sesi demi sesi terlewati. Sampai ditengah acara, Setelah Dewi dan Aldo berduet beberapa lagu, "Mohon perhatiaan... Selamat malam semua, terima kasih atas kehadirannya. Temen kantor, temen sekolah, semuanyaa.. Makasiih... Di malam ini, nggak adil rasanya kalau hanya saya dan suami yang merasakan kebahagiaan. Untuk itu, saya memanggil pak bos yang terhormat, untuk naik ke atas panggung, menyanyikan sebuah lagu. Dipersilahkan kepada bapak Arjuna Hadijaya. Tepuk tangan dong..." ucap Dewi sesuka hatinya, dan disambut pula oleh tepuk tangan dari hadirin.

Aku yang kala itu sedang menikmati acara dan tidak terlalu sibuk, spontan terkejut dengan kejadian di atas panggung. Ya ampun Dewii... Apa yang dia lakukan??

Juna lalu mendatangi band pengiring dan berbisik pada pemain gitar, kemudian sedikit bercuap - cuap, " Selamat malam, lagu ini saya persembahkan untuk seseorang yang masih sangat saya cintai."

Dari kejauhan, aku melihat tatapannya menuju kearahku, dan Ia pun mulai bernyanyi, lagu Virzha, tentang rindu. Jujur, aku menyukai lagu itu, liriknya dalam, dan Juna menyanyikannya dengan sangat bagus, karena aku tau suaranya memang bagus, hati ini seperti sedikit bergetar. Tenang Nirra... Jangan salting, batinku.

Aku telalu serius menikmati suara Juna, tiba - tiba Dewi mengejutkanku dari belakang, "Ciyee... Ada yang terbius suara pak bos niih," ledeknya.

"Kamu itu ya Wi, kurang kerjaan deh," protesku.

"Tapi aku terima kok kalau kamu mau berterima kasih sama aku," lanjutnya sambil cengar cengir.

Baca juga Cerbung: 11 Januari (Part II)

Usai menyanyikan lagu itu, Juna lalu mendatangiku, "Nirra, besok ada waktu? Aku mau mengajak kamu ke suatu tempat," pintanya.

Mungkin baru kali ini aku langsung menanggapi omongannya, "Besok jam 11 pagi, aku tunggu," dengan sedikit anggukan dan senyum, aku berlalu meninggalkannya, aku harus melanjutkan tugasku dan karena sebentar lagi acara selesai.

Malam semakin larut. Karena telah banyak tamu yang meninggalkan resepsi, sesi foto suka - suka pun berlangsung di pelaminan. Bersama tim dan, "Juna sini deh, ayo foto lagi," namun setelah Juna menuju pelaminan, tim WO sengaja bubar karena isyarat Dewi.

"Naah... The next bride niih, Aamiinin dong Nirr, doa bagus lho ini..." lagi - lagi Dewi sukses meledekku.

"Mohon doanya ya semuaaa..." sambung Juna yang lalu melirikku tersenyum.

Serentak semua tim meng-aamiin-kan permintaan Juna. Aku tersenyum heran kepada semua tim WO.

"Tuh Nirr, udah di kode sama pak bos," aku mencoba mengelak sebelum di ledek bertubi - tubi.

"Haha... Ada - ada aja deh. Udah ah fotonya, aku bubarin tim dulu," aku pun kemudian berlalu.

Seperti biasa, sebelum tim WO bubar, aku menyampaikan ucapan terima kasih atas kerja sama mereka selama beberapa hari sebelum acara sampai saat hari H. dan kemudian melepas kepergian mereka kerumah masing - masing.

"Wi, Do, aku balik ya," aku pun hendak berpamitan kepada kedua mempelai beserta keluarga mereka.

"Eh Nirr, udah malem lho, anak gadis nggak boleh pulang sendirian. Aku udah bilang sama Juna kalau kamu minta dianterin pulang sama dia," sontak aku terkejut, bisa - bisanya Dewi berinisiatif sedemikian rupa.

"Bener - bener deh kamu ya Wi. Terus mobilku gimana? Aduuh, kamu ini," disatu sisi aku merasa kesal, tapi disisi lain aku seperti merasa sudah saatnya memberi kesempatan kepada Juna, entahlah.

"Duh, gampaaang, besok kamu ambil lah kesini," kemudian Dewi mengkode alis bahwa Juna menuju kearah kami.

"Nirra, ayo kita pulang, ntar mama kamu nungguin," ajak Juna.

"Oh, iya. Wi, Do, balik dulu ya. Selamat menempuh hidup baru, semoga bahagia selalu..." pamitku kepada mereka berdua juga keluarganya.

"Aamiin, semoga cepat nyusul kamu ya, ingat umur, haha..." jika aku dan Juna tak segera menghilang dari pandangan mereka, entahlah apa lagi yang dicelotehkan Dewi.

"Alhamdulillah, hahh... akhirnya pulang jugaaa... Nggak apa - apa kan Jun aku bareng kamu pulangnya?" ucapku membuka obrolan.

"Ya nggak apa lah Rra. Lagian udah malem, biar mama kamu juga nggak khawatir,"  sambung Juna.

Aku tersenyum, dan mencoba bersandar nyaman sampai akhirnya aku ketiduran, faktor kelelahan.

Baca juga Cerbung: 11 Januari (Part III)

Selang setengah jam, mungkin, "Rra, kita udah sampai. Buruan masuk terus istirahat ya," Juna membangunkanku pelan.

Aku pun terbangun tak terkejut, "Ya ampun, aku ketiduran ya? Maaf ya Jun," ucapku setengah sadar.

"Nggak apa - apa Rra, gih masuk, aku langsung balik ya, salam mama kamu," kata Juna santun.

"Makasih banyak ya Jun, hati - hati di jalan," ucapku lagi.

"Sampai ketemu besok. Assalamu'alaikum," pamitnya.

"Wa'alaikumsalam," aku berlalu dan masuk kedalam rumah, setelahnya Juna pun melaju meninggalkan kediamanku.

Terselip dalam hati dan pikiran, kenapa tidak mungkin kalau aku pantas memberinya kesempatan...


B E R S A M B U N G ...
Share This :
Kyndaerim

Seorang Ibu biasa yg suka berkhayal dan main sama anak. Wajib follow, haha! Jangan bosan baca ceritanya yaa.. Supported by Bayu Pradana

avatar

Ijin baca dari part 1 ya hehe

25 January, 2019 15:23
avatar
Kyndaerim

Wah, dengan senang hati, tapi next nya masih stuck, haha..

26 January, 2019 22:38
Silahkan beri penilaian, kritik dan saran yang membangun. Mohon tidak menyertakan link aktif atau komentar spam. Terima kasih :)