BLANTERWISDOM101

Cerbung: 11 Januari (Part III)

Monday, January 14, 2019

"Aku bakal nunggu waktu itu Rra, aku bakal nunggu," 2 kali Ia mengulang perkataannya, seperti ingin meyakinkanku.

Tatapan yang kulihat, sama persis seperti pertama kali Juna menyatakan perasaannya padaku. Apakah Ia memang benar - benar tulus??

Aku dan Juna telah sampai dirumahku.

"Nirra, makasih banyak untuk malam ini. Makasih udah bolehin aku menjelaskan kejadian setahun lalu dan aku harap kamu bisa ngasih aku kesempatan sekali lagi untuk..." sejenak Ia menghela napas panjang, seperti berat melanjutkan kalimatnya, lalu tersenyum, "... Udah malam Rra. Salam buat Mama kamu ya."

"Makasih juga Jun. Aku masuk dulu. Assalamu'alaikum," setelah menjawab salamku, aku lalu keluar dari mobil dan berjalan masuk tanpa berbalik melihatnya pergi.

Hari berganti. Jane mendadak menghubungiku, memintaku menemuinya dikediamannya. Dan aku pun segera mendatanginya.

"Hallo Nila... Nggak susahkan cari alamatnya? Ayo masuk - masuk. Duh, maaf ya mendadak nyuruh kamu kesini. Duduk dulu ya, saya bikinin minum," baru datang saja aku sudah disambut heboh olehnya.

Baca juga Cerpen: Skenario Manis untuk Radis

Aku mengeluarkan katalog dan buku catatan, alat perangku ketika bertemu klien.

"Silahkan diminum. Jadi gini lho Nil, kemarin saya sudah ngobrol sama calon suami, dan udah kasih tau dia tentang konsep yang saya pilih, tapi ternyata dia tuh kurang setuju. Masih bisa diubahkan?" ujar Jane.

"Masih bisa kok, kan masih 3 bulan lagi sebelum hari H. Jadi, mau diubah konsep gimana Jane?" jelas dan tanyaku kembali.

"Calon suami saya itu pengen acaranya di pantai, dekorasinya serba putih, trus pakai bunga - bunga putih gitu, dresscode-nya juga putih. Menurut kamu gimana Nil? Bagus nggak?" Jane coba bertanya padaku.

Aku berpikir sejenak, konsep seperti itu pernah aku rencanakan bersama Juna, "Halloo... Nilaa..." aku terjebak dalam pikiran dan lalu tersadar karena suara Jane, "Ah, sorry Jane, bagus kok bagus, itu konsep yang jarang banget dipikirin orang," sambil mencatat permintaannya itu.

"Ok. Btw Nila, kamu udah berapa lama berhijab?" tiba - tiba Jane menanyakan hal itu.

"Umm... Belum lama kok. Memangnya kenapa?" aku masih terus mencatat.

"Nggak apa - apa sih. Seneng aja lihatnya, cantik. Tapi kamu udah punya pacarkan?" aku berhenti mencatat dan mencoba mengalihkan pembicaraan.

Baca juga Cerpen: Tingkah Aneh Alika

"Thank you. Udah deh nggak usah bahas yang lain - lain Jane," aku tertawa kecil,  "Ok. Ini saya sudah catat semuanya ya. Untuk vendornya juga kami akan urus. Oiya Jane, saya bisa minta kirimin nama - nama yang akan di tulis di undangan ya dan contoh souvenirnya kira - kira besok saya bawain," ujarku yang segera akan mengakhiri pertemuan ini.

"Jangan besok deh Nil, soalnya 1 minggu ini saya bakalan sibuk banget," Jane berucap.

"Ok. Kabarin aja ya Jane. Yaudah, saya pamit dulu ya," dan kemudian aku berlalu.

Besok lusa adalah hari pernikahan Dewi, teman sekantor dulu. Dan itu berarti akan menjadi hari yang sangat sibuk untukku dan tim. Semoga saja acaranya berjalan dengan lancar, harapku.

Disela - sela persiapan acara besok, Dewi memintaku menemaninya ke salon. Ritual wajib bagi calon pengantin wanita terutama, sebelum menghadapi hari bersejarah dalam hidupnya.

"Ya ampun Nirraa... Kok aku udah deg - degan aja ya, padahal masih besok acaranya," ungkapnya.

"Haha... Wajarlah Wi, semua klienku juga ngerasain hal yang sama kok. Bahkan ada yang 1 bulan sebelumnya dia udah gerogi parah, sampai - sampai nggak doyan makan, akhirnya sakit maag, dan masuk rumah sakit, tapi syukurlah semuanya berjalan lancar di hari H," kataku sedikit bercerita.

Baca juga Cerpen: Luki Luph Luna

"Kebalikan dari aku dong ya, aku malah doyan makan, haha... Eh Nirr, tuh mantan pak bos gimana? Denger - denger, katanya lagi deketin kamu lagi ya? Waah, ada yang clbk nih kayaknya," celetuk Dewi cekikikan.

"Memang ya gosip cepat menyebar, banyak paparazzi sepertinya," ucapku melebih - lebihkan.

Dewi pun tertawa, "Sok artis lu! Eh, dia cinta mati lho sama kamu Nirr. Namanya juga manusia Nirr, pasti pernah khilaf, kasihlah dia kesempatan," ujar Dewi berceramah.

Aku menghela napas dan bersandar ke kursi dan berpura - pura membaca majalah, "Hah... Nggak taulah Wi. Akunya sih masih biasa - biasa aja," ungkapku datar.

"Kalimat 'masih biasa - biasa aja' adalah kalimat yang berarti 'akan ada peluang untuk kembali dikemudian hari', bener nggak Nirr?" sambil menaikturunkan alis matanya, dia kembali meledekku.

"Udah deh Wii... Mending kita bahas nikahan kamu besok," ucapku mencoba mengalihkan.

"Dasar kamu tuh yaa..." Dewi tertawa dan melempar ke arahku handuk bekas mengeringkan rambutnya.

Dalam hatiku, apakah mungkin aku mampu memberinya kesempatan?


B E R S A M B U N G ...
Share This :
avatar

Wah, suka bikin cerita ya? Keren! Semoga semakin banyak yang baca dan terus menulis! 😉

19 January, 2019 07:40
avatar

Suka bikin cerita tapi sering stuck juga, haha.. makasih semangatnya mba Indi (k)
Sukses juga yaa...

19 January, 2019 11:16
Silahkan beri penilaian, kritik dan saran yang membangun. Mohon tidak menyertakan link aktif atau komentar spam. Terima kasih :)