Cerpen: Malam Minggu

by - November 17, 2018


Setiap pagi Jhoni selalu rajin membersihkan motor maticnya hingga mulus kinclong. Sampai-sampai semut bisa kepeleset.

Dengan santai dan bersenandung Ia mengerjakan kegiatannya di pagi itu.

"Wah wah wah... Nggak bosen tuh motor di cuci terus Jhon? Rajin banget," kata Pak Aji, pemilik rumah kontrakan yang ditempati Jhoni sekarang.

Jhoni tertawa kecil, "Biar enak dipandang Pak," sambungnya.

"Eh Jhon, jangan lupa ya besok waktunya bayar kontrakan," kata Pak Aji lagi, mencoba mengingatkan.

"Siap bosku..." sahut Jhoni.

***

Malam ini Jhoni berencana pergi ke distro langganannya. Ia ingin membeli beberapa helai pakaian juga sebuah topi.

Sesampainya di distro, Jhoni bertemu seorang teman lama, lebih tepatnya teman lama yang pernah mengisi hati Jhoni.

"Jhoni," sapanya.

Jhoni bersikap seolah santai, "Hi Din," sapanya balik.
"Kamu apa kabarnya?" tanya Dinda.

"Aku baik," setidaknya aku bisa menjawab dengan cukup baik didepanmu, batinnya bergumam.

Mereka terdiam sejenak dan seorang pria bertubuh tambun dan berwajah jerawatan keluar dari distro.

"Sayang, ayo kita cari makan," ujar pria itu.

Dinda mengangguk, "Jhon, aku duluan ya. Take care," dan berlalu memasuki mobil sedan bercat hijau menyala.

"Thanks," jawab Jhoni singkat.

Jhoni langsung berbalik badan, "Oalah Din, masih cakepan aku jauh kali. Mulai rabun kali tuh cewek," ucap pelan Jhoni sembari memasuki distro.

***

Sesampainya dirumah, Jhoni membongkar barang belajaannya. Membuka labelnya satu persatu dan melipatnya kembali. Sementara topinya tak mungkin Ia lipat, namun Ia menggantungnya bersama topi-topi lain.

Jreng... Jreng... Jreng... Jhoni mencoba bermain dengan gitar yang Ia miliki sejak jaman SMA dulu. Suaranya memang tak terlalu bagus, tapi Ia bisa memainkan hampir semua lagu. Maklum saja, dulu Jhoni adalah gitaris band yang show dari kafe ke kafe.

Sekedar mengisi waktu luang setelah pulang kerja, Jhoni selalu bergenjreng ria. Sehingga tak jarang pula Pak Aji menghampirinya untuk menyanyikan lagu-lagu jaman old. Dan lagu andalan Pak Aji adalah kolam susu.

"Jhon Jhon, kolam susu Jhon," kata Pak Aji yang tiba-tiba datang sehingga membuat Jhoni terkedjoet.

Usai menyanyikan 3 lagu dan itu lagu jadul semua, Pak Aji tiba-tiba menanyakan Jhoni perihal malam minggu.

"Jhon, kamu ini sebetulnya sudah punya pacar atau belum sih? Kok saya lihat setiap malam minggu pasti kamu nongkrong disini sambil gitaran," tanya Pak Aji serius.

"Kalau pacar sih belum punya pak, tapi kalau yang lagi deket ada, deket banget malah," jawab Jhoni tak kalah serius.

"Naah... Kapan-kapan ajak dia main kesini, kenalin sama saya. Biar saya nilai dia. Gini-gini saya dulu playboy lho, jadi ya tau lah tipe-tipe wanita, cukup lihat dari fisiknya saja saya bisa tau," jelas Pak Aji kepedean.

Jhoni hanya nyengir menghargai, "Malam minggu besok saya jalan bareng dia kok pak," lanjut Jhoni.

"Nah itu baru namanya pria sejati. Selalu menyenangkan wanitanya, bener toh? Bener dong, hahaha..." ujar Pak Aji sembari menepuk keras pundak Jhoni dan kemudian berlalu.

"Dasar orang tua kegatelan," gumam Jhoni kesal.

***
Sepulang dari kantor, Jhoni terlihat lelah. Dan akan lebih lelah lagi karena ulah Pak Aji yang kepo soal wanita yang sedang dekat dengannya.

"Jhon, manaa... Katanya mau diajak kesini. Saya sudah nungguin dari tadi lho. Aah.. Kamu ini gimana sih Jhoon Jhon," ucap pria paruhbaya itu.

Jhoni hanya menjawab, "Iya paakk," dan berlalu masuk kedalam rumah.

***
Malamnya tepat pukul 7, Jhoni sudah terlihat rapi, wangi dan super tampan. Namun lagi-lagi Pak Aji memergokinya saat hendak menutup pintu.

"Lah, Jhon, mana toh? Kok sudah mau berangkat kamu ini," lagi-lagi Pak Aji kepo.

Sambil mengunci pintu, "Masa nggak lihat sih pak. Itu lho dia ada didepan, pake baju putih, udah dari tadi nungguin saya," jawab Jhoni, kali ini Ia sedang memakai sepatu.

Baca juga cerpen : Give Away

Pak Aji celingak 6555 penasaran, sampai mengernyitkan dahinya mencari sosok yang dimaksud Jhoni. Namun tak ada seorangpun di halaman depan maupun sekitaran pintu gerbang.

"Pak, saya berangkat dulu ya. Ohya Pak, nama gebetan saya Beaty, kulitnya putih mulus, bersih, kinclong dan wangiii..." ungkap Jhoni sambil menepuk pelan pundak Pak Aji, pamit dan lalu bergegas melaju.

Tanpa ekspresi, Pak Aji masih menoleh kiri kanan. Bulu kuduknya mulai serentak berdiri. Lalu lari terbirit-birit masuk kedalam rumah dan cepat-cepat mengunci pintu.

Sementara di jalan, Jhoni tertawa habis-habisan. Padahal yang dia maksudkan Beaty adalah motor kesayangannya, Honda Beat warna putih.

You May Also Like

0 Comments

Silahkan beri penilaian, masukan dan saran yang membangun. Mohon tidak menyertakan link aktif atau komentar spam. Terima kasih :)




Supported by
 Bayu Pradana



close