Cerbung: Cinta Kar'na Lupa Part II

by - April 01, 2013


“Naah, coba dilihat dulu bener-bener. Yang ini bukan sepedanya?”, kata lelaki itu sambil tersenyum.
“Eh, iya bener. Bukan yang ini sepedaku. Aduuh, mati aku, mempermalukan diri sendiri”, batinku dengan wajah yang memerah kuning hijau.

Aku pun melihatnya dengan wajahku yang menahan malu dan berusaha bersikap biasa apalagi nyolot.

“Lagian kamu sih, siapa suruh parkir deket sepeda aku, huhh”, aku sedikit membentaknya.
Namun lelaki itu hanya tersenyum. Aku tau apa yang ada dalam hatinya, “Ini perempuan aneh banget, udah tau dia yang salah, malah nyolot gak jelas gitu”, lengkaplah sudah penderitaanku.

Tak lama setelahnya, aku pun bergegas pergi dari lapangan itu, agar rasa maluku tidak berlanjut dan dengan hati yang berdegup sangat sangat kencang.

“Aaahh.. Kenapa aku ceroboh begini ya.. Makanya Zee, jangan nuduh sembarangan sebelum kamu tau yang sebenernya kalau dia itu bukan mau maling sepeda kamuuu.. Iiiihhh..”, kesalku pada diri sendiri.

***
 “Ya ampun Zee.. Kalau aku jadi kamu, mungkin aku udah kabur sekabur-kaburnya. Tapi aku salut sama kamu, kamu masih bisa nyalahin dia kayak begitu, haha”, ujar Poppy sambil tertawa.

Ah, kamu itu bisa aja. Aku mencoba mengimprovisasikan keadaan aja, hehe”, akupun tertawa kecil.

“Tapi aku jadi pengen tau deh gimana cakepnya cowok itu. Gimana kalau besok kita sepedaan bareng ya Zee, siapa tau kita ketemu dia lagi disana, ya Zee ya??”, Poppy memaksaku.

“Kenapa kamu jadi penasaran gitu sih. Eh, dia itu biasa aja tau. Gak cakep-cakep banget kok, tapi karna kemarin itu angelnya lagi bagus aja, jadinya dia terlihat cakep”.

“Haha, kamu itu bohong banget deh. Udah kelihatan tau”, ledek Poppy padaku.

“Hmm.. Yaudah, besok kamu kerumah aku ya, jam 5 pagi, jangan telat, oke”, ajakku.

“Yakin kamu jam 5 pagi? Yakin yaa.. Beneran ya, jam 5 pagi”, ujar Poppy sedikit meledekku.

“Iyaa iya.. Yaudah, pulang ayo”, ajakku.
***
Suara ponselku berbunyi sangat kencang. Ternyata itu adalah suara alarm yang aku pasang tadi malam, tepat pukul 5 pagi. Dan sudah yang ketiga kalinya aku mematikan alarm itu.
Aku terbangun dari tidur nyenyakku, serasa putri tidur yang terbangun karna ciuman seorang pangeran tampan, tetapi setelah aku membuka mata, terlihat sesosok sedikit mengerikan dengan dengan baju serba putih, “Aaaa.. Mama toloong! Ada hantu!”, teriakku ketakutan.

“Eeehh.. Ini aku Poppy, kamu lebay banget ih”, canda Poppy sambil melemparkan segelintir boneka yang tergeletak dikamarku.
Nafasku terengah-engah, seperti berlari dikejar anjing.

“Poppyyy, kamu itu ya, kurang kerjaan banget. Lagian ngapain sih kamu tiba-tiba ada dikamarku aja”, ujarku sambil mengumpulkan nafas tersisa.

Poppy menunjukkan jam tangannya kepadaku, “Lihat nih!”.

“Apaan? Kamu beli jam tangan baru? Eh, bagus Py. Kamu beli dimana?”, aku benar-benar tak tau apa-apa.
Aku heran melihat wajah datar Poppy.

“Kamu itu gak malu apa sama matahari yang udah nungguin kita dari tadi”, ucapnya, dan aku pun makin bingung dibuatnya.

Aku mengingat-ingat, “Astagaa!! Oke oke, aku mandi dulu ya Py. Sorry, hehe”, aku bergegas.
***
“Naah..  Disini nih aku ketemu sama cowok itu”, ujarku.
Poppy mengangguk-angguk, “Oow..”.

“Naah, itu tuh dia”, tunjukku memberitahu Poppy.

“Mana mana.. Yang bawa sepeda pink itu?”, lanjut Poppy.

“Eeh.. Bukaan.. Tapi yang sepeda biru ituu..”, jawabku.

“Loh, dia itu kan..”. “Siapa Py? Kamu kenal dia?”, tanyaku penasaran.

“Eh, gak gak, gak kok Zee, hehe”.

Aku melirik Poppy dan mencubitnya, “Aah, kamu ini”.
***
Tak lama kemudian, dengan mengendarai sepeda, kamipun berpapasan, namun tak ada sapaan, hanya senyuman yang aku dan dia lemparkan.

Poppy heran melihat kami, “Kenapa kamu gak nyapa dia sih? Dianya juga begitu, cuek banget”.

Tiba-tiba Poppy langsung berbalik arah, mengejar lelaki itu.

“Eh eh Py, kamu mau kemana.. Py..”, dia semakin jauh dan aku tak tau apa yang akan dilakukannya, aku terhenti tak mengejar Poppy.
***
Aku masih menunggu Poppy sambil memakan makanan yang aku beli tadi.
Tak lama, Poppy pun datang dan langsung berkata, “Kamu pelototin tuh layar handphone kamu sampai ntar malem, hehe”.

“Hahh.. Kamu itu ngomong apa sih Py, dateng-dateng ngomongnya ngelantur gitu. Trus tadi itu kamu ngapain ngejar dia segala.. Kurang kerjaan banget deh”, ujarku sewot.

“We’ll see aja. Ntar pasti jadi kerjaan kamu, hihi”, aku semakin tak mengerti apa yang dimaksud  Poppy.
***
Aku terduduk manis dikamarku, sedang membaca buku. Tiba-tiba, handphone ku berdering, namun aku tak mengenal nomornya.

“Halo.. Zee”, suara seorang lelaki diujung telpon memanggil namaku dan sepertinya aku mengenal suara itu.

“Iya Don, ada apa? Jangan bilang kalo kamu mau curhat tentang pacar kamu lagi, dengan cerita dan masalah yang sama. Donii.. Aku tuh udah bosen ngasih petuah-petuah sama kamu tentang dia, tapi tetep aja kamunya itu gak mau denger apa yang aku bilang”, namun aku kaget ketika lelaki diujung telpon berteriak memanggilku.

“Zee.. Aku ini bukan Donii..”, ujarnya tak terima.

“Hah?! Jadi ini siapa dong?”, tanyaku.

“Aku ini cowok yang kamu kira mau maling sepeda kamu waktu dilapangan itu”, jelasnya dan aku terperanga sejenak, seakan tak percaya, ingin kubanting handphoneku itu diatas kasur.

“Ya Tuhan, jangan-jangan ini kerjaannya Poppy”, batinku.

“Haloo..”. “Eh, iya iya. Sorry, tadi aku kira kamu temen aku, hehe”, malunya aku.

“Gak apa-apa kok. Ternyata kamu itu orangnya panikan ya. Aku jadi inget waktu disangka mau maling sepeda kamu, lucu aja”, ceritanya.

“Udah deh jangan inget-inget itu lagi, malu tau”, ujarku sambil memukul-mukul guling yang ada didepanku, sanking malunya.

Dan obrolan pun mulai panjang.

“Zee.. tolong bantuin mama sebentar..”, teriak mamaku dari lantai bawah.

“Iya maa.. Dip, tunggu sebentar ya, aku dipanggil mama tuh”. “Oke”, jawab Dipo.

Aku kembali kekamar 10 menit kemudian dan matapun mulai terasa berat, tanpa mengingat apapun, aku langsung tertidur.

(bersambung)

You May Also Like

1 Comments

Silahkan beri penilaian, masukan dan saran yang membangun. Mohon tidak menyertakan link aktif atau komentar spam. Terima kasih :)




Supported by
 Bayu Pradana



Pageviews

close