BLANTERWISDOM101

Cerbung: Cinta Kar'na Lupa

Wednesday, October 17, 2012

Pagi ini, sinar matahari telah mengintip dari balik gorden jendela kamarku. Tapi aku masih nyaman dipelukan selimut tebalku. Sampai tiba-tiba terdengar suara dering ponselku yang sengaja ku buat volume level 5. Sontak aku pun terbangun dan lalu melihat kearah jam.

“Eh, hallo hallo, Py, ntar aku telpon balik ya. Sorry Py buru-buru”, Poppy belum sempat berbicara, namun telpon sudah ku tutup.

“Mati akuu.. Telat banget inii.. Semoga aja Dipo gak marah sama aku”, cepat-cepat aku menuju ke kamar mandi.

Aku benar-benar lupa, bukan lupa sih, tapi kesiangan, kalau pagi ini aku punya janji car free day-an bareng Dipo, seorang teman yang baru ku kenal dua hari yang lalu di lapangan Babebo.

Tak lama setelah aku bersiap, sekitar 10 menitan, aku langsung mengambil sepedaku lalu menuju ke tempat aku dan Dipo pertama kali bertemu.

Sesampainya disana, aku bersepeda sambil clingak clinguk mencari keberadaan Dipo.

“Duuhh.. Begini banyaknya manusia, gimana aku bisa ketemu Dipo”, batinku dengan rupa yang kebingungan.

Aku pun berkeliling, hampir satu jam, tapi tak terlihat juga batang hidungnya.

“Jangan-jangan dia udah balik. Aduuh, bodohnya aku gak bangun lebih awal”, sambil kuberantakan rambut keritingku, namun tiba-tiba seseorang datang dengan napas terengah-engah.

Aku pun kaget, “Dipo?! Kamu.. Kamu kenapa?“.

“Sorry Zee, aku telat, maksudku kesiangan. Sorry banget ya Zee. Kamu udah nyampe dari tadi ya?”, tanyanya masih dengan napas setengah-setengah.

“Gak apa-apa kok Dip. Aku juga baru nyampe, hehe”, jawabku polos namun dia tak mempertanyakan, syukurlah.

“Cari sarapan yuk. Aku biasa makan bubur ayam disimpang jalan itu”, ujarnya sambil mengajakku ke tempat itu.

***

“.. Bukan aku yang mencarimu, bukan kamu yang mencari aku, cinta yang mempertemukan, dua hati yang berbeda ini..”, ponselku berdering tertulis dilayar, Poppy.

“Astaga! Poppy!”, ujarku.

“Hallo Py, Py sorry banget ya tadi pagi aku buru-buru, jadi gak sempet..”, belum lagi aku menyelesaikan kalimatku, namun Poppy memotongnya.

“Eit eit eit.. Jangan diterusin, aku lagi gak mau bahas masalah itu. Dan udah aku lupain, okey”, serunya.

“Hehe. Trus kamu nelpon mau ngapain dong?”, tanyaku.

“Aku mau mastiin, kamu udah sampe mana niih ??”, ujarnya bertanya.

“Sampe mana? Maksud kamu?”, aku berpikir sejenak.

Sambil ku menepuk jidatku, “Astaga! 10 menit lagi aku nyampe. Tungguin aku ya Py. See yaa”, lagi-lagi aku keburu.

“Hallo Zee, Zee.. Ya Tuhaan, sukanya itu anak keburu-buru, padahal kan aku juga belum apa-apa, haha”, seru Poppy.

***

Sebaiknya sampai, aku langsung menghubungi Poppy, “Py, kamu dimana? Kok aku gak nglihat kamu ya. Aku udah sampe nih, ditempat biasa”.

“Aku dibelakang kamu”, ujar Poppy dan aku pun menoleh.

“Loh, kok?”.

“Iyaa, aku juga baru nyampe. Lagian kamu sih buru-buru banget tadi. Padahal aku cuma mau mastiin kalo kamu udah dijalan apa belum, eh kamunya malah nyerocos terus”, seru Poppy dengan wajah datarnya.

“Lah, gitu toh, haha. Ayok deh kita pesen makan dan minumnya, udah laper banget nih akunya”, ujarku sambil menarik tangan mungil Poppy.

“Ah, kapan sih kamu gak pernah gak lapernya”, ledek Poppy.

***

“Btw Zee, gimana sama kenalan kamu itu? Gimana ceritanya sih? Kok bisa? Trus dia cakep gak? Tinggi gak? Kulitnya putih gak Zee?”, tanya Poppy, beruntun.

“Eehh, kamu itu nanya apa kereta api sih, panjang bener”, kataku sambil melirik mentah-mentah kearah Poppy.

“Habisnya aku penasaran banget sih. Lagian kamu lupa terus mau certain ke aku”, ujarnya sedikit mengeluh.

“Hehe.. Kamu kayak gak tau aku aja Py. Ingatan aku kan memang sangat-sangat amazing sekali. Jadi sorry deh kalau aku selalu lupa cerita ke kamu ya Py”, jelasku.

“Yaudah, cepat certaiiin”.

“Iyaa iyaa.. Jadi gini..”.

(dua hari yang lalu)

Pagi ini, tumben-tumbenan sekali aku bisa bangun pagi dan langsung berniat untuk ber-car free day-an. Sesampainya di lapangan, dan aku langsung bersepeda mengelilingi lapangan. Sekitar lima kali, aku pun beristirahat sejenak. Ku parkirkan sepedaku dan terduduk di rumput yang tak jauh dari parkiran sepedaku.

“Hallo Py. Pasti kamu baru bangun yaa?? Hehe”, ledekku pada Poppy.

“Hmm.. Siapa inii?”, tanyanya seakan nyawanya belum terkumpul akibat baru bangun dari tidur.

“Yaelaah Pyy.. Lihat deh layar handphone kamu tuh”, ujarku memberi saran.

“Eh, tadi sih udah aku lihat. Tapi gak yakin aja kalau ini kamu Zee, makanya aku tanya lagi, hehe”, ledeknya balik.

“Aahh, sialan kamu. Lagi semangat-semangatnya sepedaan niih”, seruku sedikit mengomel.

“Memangnya mimpi apa kamu tadi malem Zee? Kok bisa bangun sepagi ini, rasanya tuh doorprize sekali, haha”, sambil tertawa Poppy meledekku lagi.

“Udah selesai ngeledeknya?”.

“Hehe.. Udah udah, udah puas”.

Lagi asyik aku dan Poppy mengobrol, tiba-tiba seorang lelaki membawa sepedaku.

“Eh, mas mas..!!”, teriakku memanggil lelaki itu.

“Hallo Py, ntar aku telpon lagi ya, ada yang mau bawa lari sepedaku!”, bergegas aku menutup telponku dan lalu mengejarnya.

***

“Heeii!! Tunggu!! Itu sepedaku mau dibawa kemana?! Heei!!”, aku berlari sambil berteriak menuju lelaki itu.

Tak berapa lama, dia pun menghentikan langkah sepedanya.

Aku juga berhenti dengan napas terengah-engah.

“Kenapa ya?”, Tanya lelaki itu, polos.

“Ini.. Ini yang kamu bawa.. Sepeda aku”, seruku, masih dengan napas yang berantakan.

“Sepeda ini? Sepeda kamu gitu? Kamunya salah kalii..”, ujar lelaki itu.

“Gak mungkin salah.. Jelas-jelas aku lihat kamu tadi bawa sepeda aku, ya inii”, jelasku, ngotot.

Lelaki itu tersenyum dan menarik tanganku, “Ayo deh, kamunya aku bonceng. Kita kembali ketempat yang tadi ya”, ujarnya.

Aku pun mengiyakannya.

( bersambung )


Share This :
Silahkan beri penilaian, kritik dan saran yang membangun. Mohon tidak menyertakan link aktif atau komentar spam. Terima kasih :)