Cerbung: Sayang Kamu Selamanya ( Part II )

by - May 28, 2012


“Kamu inget gak hari ini hari apa?”, tanya Via dengan tatapan mata tajamnya.

“Ya ingetlah Vi. Hari ini kan hari Jumat. Masa kayak begituan aja aku gak inget”, jawabku polos.

“Aduuh.. Bukan ituu. Maksud aku, kamu tau gak kenapa hari ini aku ngajak kamu ketemuan disini?”, tanyanya lagi.

“Kalau menurut aku sih karna hari ini hari Jumat, jadinya kamu ngajakin..”, belum lagi tuntas aku berbicara, tapi sudah dipotong oleh Via.


“Iiih.. Becanda mulu kamu cung. Males ah”, serunya sambil membuang arah matanya kearah lain.

“Hehe.. Gitu aja ngambek. Ini hari kan 5 tahunan kita sahabatan Vi. Kebangetan deh kalau akunya gak inget”, jelasku yang lalu mencubit pipi Via.

“Naah.. Gitu dong. Kan akunya jadi seneng, hehe”, wajah manyunnya pun seketika berubah menjadi senyuman yang super manis. “Tapi, kalau tahun ini kita gak tukeran kado, gak apa-apa kan Nu?”, lanjutnya.

“Ya gak apa-apa Vi. Yang terpenting dari hanya sebuah kado itu adalah aku masih bisa barengan terus sama kamu”, ujarku dan lalu mengenggam tangan mungilnya.

Dan lalu terlihat jelas senyum manisnya, “Tapi, aku mau kamu janji sama aku Nu”, ujarnya serius.

“Apapun itu, akan aku lakuin buat kamu Viaa”, kataku yang juga serius.

Via lagi-lagi tersenyum dan melanjutkan perkataannya, “Besok, lusa, atau kapanpun itu, kalau aku gak bisa bareng kamu lagi, kamu janji ya gak bakal sedih atau..”, jelasnya. Namun, aku lalu memotong omongannya.

“Kamu itu lagi ngantuk ya Vi? Omongannya jadi ngawur gitu”, ujarku yang sangat tak ingin sedikitpun memikirkan tentang apa-apa bahkan hal buruk sekalipun.

“Ranu.. Aku serius”. “Via.. Aku juga serius”.

“…”, hening.

“Sepertinya ada yang ia sembunyikan dariku. Aah, dia tak mungkin seperti itu”, batinku.

“Kita pulang ya. Kamu itu pasti udah ngantuk, kecapean”, ajakku yang lalu menarik tangan Via.

“Nu.. Aku belum selesai ngomong loh”.

“Udah ayo”, ajakku paksa dan berharap tak akan pernah mendengar lagi apa yang ia katakan tadi.

***

Ditengah perjalanan pegangan tangan Via semakin erat memeluk tubuhku. Aku lalu memegang tangannya yang terasa sangat dingin.

“Kamu gak apa-apa Vi? Tangan kamu dingin banget”, teriakku.

“…”, Via tak menjawabku.

Sampailah kami didepan rumah Via.

“Udah sampai ya cung”.

“Kamu gak apa-apa kan Vi?”, kataku sambil memegang kedua pipinya yang masih terasa dingin.

“Eeeh.. Aku gak kenapa-napa kok. Aku tuh tadi ketiduran. Makanya aku peluk kamu kenceng biar gak jatoh, hehe”, jelas Via yang melegakan perasaan cemasku.

Spontan, aku pun mencubit pipinya.

Dan Om Gusti lalu membuka pintu.

“Om. Ini anaknya udah saya anter pulang dengan selamat, hehe”.

“Iya iya. Ayo Via masuk. Kamu langsung pulang ya Nu. Hati-hati dijalan”, ujar Om Gusti dengan suara ngebass-nya.

“Iya Om. Assalamu’alaikum”. “Wa’alaikumsalam”, jawab serentak Via dan Om Gusti.

***

Belum sempat ku memarkirkan motor matic-ku didepan kosan, ponsel-ku kemudian bergetar.

“Om Gusti. Ada apa Om?”.

“Nak Ranu. Tolong balik kerumah Om ya. Via baru saja tak sadarkan diri”.

“Astaghfirullah, iya Om, saya segera kesana”, jawabku dan lalu bergegas menuju rumah Via.

Perasaanku cemas tak karuan. Berharap, bahkan sangat berharap tak terjadi apa-apa pada Via.

Melihat keadaan Via yang semakin memburuk, bahkan wajahnya sangat pucat, aku dan Om Gusti langsung membawa Via kerumah sakit.

***

“Via sakit apa Om?”, tanyaku benar-benar ingin tahu.

“Sebenarnya Via sudah lama mengidap leukimia, tapi ia sengaja tidak ingin kamu mengetahuinya. Maafin Om ya nak Ranu”, jelas Om Gusti.

“Ya Tuhan. Ternyata benar yang aku rasakan. Memang ada sesuatu yang Via sembunyikan dariku”, batinku.

Aku benar-benar kaget setengah mati, namun aku tetap tenang dihadapan Om Gusti.

“Iya Om, saya ngerti kenapa Via gak mau cerita tentang penyakitnya ini. semoga saja dia kuat ya Om”.

Om Gusti pun mengajakku untuk duduk tepat diruangan dimana Via dirawat.

“Via itu persis seperti mamanya. Sangat kuat ketika menghadapi penyakit yang sama dengan Via. Tapi ternyata Tuhan berkata lain, mama Via lalu pergi untuk selamanya. Dan sejak saat itu Via jadi sering murung, karna hari-harinya terasa sepi tanpa kehadiran mamanya. Tapi 5 tahun terakhir ini keceriaannya kembali setelah kehadiran kamu Ranu. Om merasa sangat berterima kasih sama kamu”, cerita Om Gusti padaku, dan membuat dadaku sangat-sangat terasa sesak.

“Iya Om. Saya juga sangat bersyukur bisa mengenal sosok Via dan juga Om”.

***

“Mancung..”.

Terdengar panggilan lirih namaku.

“Syukurlah, kamu sudah sadar sayang”, kataku sambil membelai lembut rambutnya.

Dan dalam genggaman tanganku aku tengah merasakan gerakan tangan Via.

“Lama banget kamu tidurnya, aku jadi gak punya temen ngobrol kan”, candaku dan berhasil membuat Via tersenyum untuk pertama kalinya setelah terbangun dari tidur panjangnya.

“Nu.. Makasih banyak ya, karna sampai detik ini kamu masih setia nemenin aku, selalu ada disamping aku”, ucapnya dengan air mata yang meluncur cepat sambil menatapku dalam.

“Aku kan tau kamunya itu penakut, makanya aku terus nemenin kamu disini”, ujarku dengan masih dibumbui bercandaan agar ia tetap tersenyum.

Dan benar, lagi-lagi ia tersenyum, bahkan sangat manis.

“Nu.. Kamu inget gak sama janji yang pernah aku ucapin waktu 5 tahunan persahabatan kita? Kamu kan belum jawab Nu”, tanya Via dengan tatapannya yang masih terasa dalam menatapku.

“…”, aku terdiam.

Disamping Via, Om Gusti juga tengah meneteskan air matanya. Namun, sepertinya beliau juga sudah mengikhlaskan kepergian putri semata wayangnya itu.

“Nu..”. “Iya Vi. Aku inget, inget banget malah. Tapi aku..”, tangkas Via memotong omonganku, “Aku mohon Nu, berjanjilah”, kata Via yang sedikit membentakku.

Dadaku makin terasa sesak, “Ya Tuhan.. Jika Engkau lebih sayang Via, jagalah dia. Aku tak ingin melihat dia merasakan hal yang lebih sakit dari perpisahan ini dan aku, ikhlas”, dalam hatiku berdoa dan mataku yang sedari tadi berkaca-kaca akhirnya mulai meluncurkan air mata.

“Iya Vi, aku janji gak bakal sedih. Aku..”, namun mesin pendeteksi jantungnya sudah membentuk garis lurus.

Aku lemas dan melanjutkan ucapanku, “Aku sayang kamu selamanya Via. Selamat jalan. Semoga kamu diterima dan tenang disisi-Nya”.

*end*

You May Also Like

7 Comments

  1. nice story neng..
    teringat sesuatu 6 tahun yang lalu,, :D

    ReplyDelete
  2. hehe..
    maaf telah mengingatkan :)

    makasih akang..

    ReplyDelete
  3. Suatu hari nanti semoga waktu benar-benar akan mengajarkan kita memahami bagaimana cara yang tepat untuk menggenapkan hari
    Dengan menepi di ujung ruang, mengartikan aksara diam-diam, menulis tentang senja dan hujan
    Menenun mimpi yang dikira mereka naif, lagi semu
    Jika tiba saatnya nanti, aku tak akan menyesal meski berada di antara kejatuhanku
    Aku bisa tersenyum ke arahmu
    Sahabatku...

    ReplyDelete
  4. waw..
    puisi yg bagus bit. iya, ntr disampein ke ranu, hoho. terimakasih ubit.

    letak diblog gih.

    ReplyDelete
  5. Puisi untuk mas Bay donk, buatin ��

    ReplyDelete

Silahkan beri penilaian, masukan dan saran yang membangun. Mohon tidak menyertakan link aktif atau komentar spam. Terima kasih :)




Supported by
 Bayu Pradana



close