Cerbung: Ketika Kamu Menyadarkanku - Part II


Masih pada inget episode sebelumnya?? littlegirlemoticon

Di episode sebelumnya, Rara tiba-tiba datang untuk mencari Gilang. Namun saat itu, Gilang sedang tidak berada ditempat, karena membeli makan siang untuk mereka berempat. Lalu Rara bersedia untuk menunggu Gilang datang.

littlegirlemoticon Ok deh. Gak usah berbasa-basi lagi. 
Langsung aja kita baca kelanjutan ceritanya ya..
Yukk maree.. littlegirlemoticon



Tak berapa lama, aku pun datang.

“Lang, ada yang nyariin kamu nih”, ujar Edo. Aku pun langsung melihat kearah gadis itu dan merasa tak asing dengannya. “Hai Lang, aku Rara”, sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman. Lalu ku sambut jabatan tangannya. “Ada perlu apa ya?”, tanyaku penasaran. “Boleh bicara sebentar?”, ajaknya. Aku mengangguk. “Kalian makan duluan aja ya. Aku tinggal sebentar”, pintaku pada keempat sohibku itu. “Ok. Lanjut Lang”, ujar Edo. Oding dan Doni hanya menangguk.

Aku dan Rara pun masuk ketaman dan mencari tempat duduk.

“Kamu pasti kaget dan bertanya-tanya kenapa aku nyari kamu. Ya kan Lang?”, tanyanya padaku. “Ya begitulah Ra. Memang ada apa ya? Masih soal dompetkah atau apa?”, tanyaku sangat penasaran. “Bukan soal dompet itu kok Lang. Tapi ini tentang adik kamu, Gita”, jelasnya. Aku sedikit kaget dengan pernyataannya itu. “Gita? Dari mana kamu kenal dia? Trus, kenapa dengan dia?”, tanyaku makin penasaran.

“Gita itu temen kuliah aku. Setelah kamu balikin dompet kemarin, besoknya aku datang kerumah Gita dan itu adalah yang pertama kalinya aku datang. Trus gak sengaja aku liat foto kamu dan keluarga kamu. Dan aku masih inget banget muka kamu Lang. Makanya aku penasaran dan aku tanya Gita. Dan dia sempat cerita panjang lebar tentang kamu”, jelasnya padaku.

Aku hanya terdiam.

“Lang, kenapa kamu gak balik kerumah aja? Gita cemas sama kamu loh Lang”, tanyanya padaku. Aku tertawa kecil. “Gak mungkin mereka mencemaskanku Ra. Dan aku juga gak pernah betah berada dirumah itu. Rasanya percuma juga aku berada dirumah itu Ra. Mereka juga tak memperdulikanku”, jawabku menjelaskan.

“Tapi Gita butuh kamu Lang. Dia butuh sesosok kakak yang bisa menjaganya, yang selalu ada untuknya. Lagian, kamu kan belum tau bagaimana sikap mereka terhadap kamu sekarang ini. Bisa aja kan mereka udah berubah dan mengharapkan kamu kembali Lang”, ujar Rara mencoba membujukku.

Aku berpikir sejenak. “Aku belum siap untuk pulang Ra. Dan aku belum mau berpikir sampai kesitu. Aku masih sedikit trauma dengan keadaan dirumah yang tidak pernah tenang”, jelasku lagi.

Wajah Rara sedikit kecewa, sepertinya dia belum berhasil untuk membujukku.

“Ya udah Lang. Aku kesini Cuma mau nyampein semua itu ke kamu, karena aku.. Ya udah lah gak penting. Aku balik ya Lang”, pamitnya. “Hati-hati ya Ra. Makasih banyak”, ujarku. Rara lalu menolehku dan mengangguk. Aku sempat heran dengan sikapnya itu. Tapi tak begitu ku pikirkan.

“Ngapain Rara nyari kamu Lang?”, tanya Edo padaku.”Dia itu teman kuliahnya Gita Do”, jawabku. “Gita? Gita adik kamu Lang? Trus apa yang kalian bicarain?”, tanyanya lagi. “Dia sempat membujukku untuk kembali kerumah. Tapi aku bilang aku belum siap untuk pulang”, jelasku. “Terus Raranya gimana?”, sambungnya lagi. “Aku sempat melihat kekecewaan dari wajahnya Do. Tapi entahlah, mungkin hanya perasaanku saja. Aku balik duluan ya. Sorry gak bisa lanjutin ngamennya hari ini”, jelasku lalu pamit, karena kepalaku terasa sangat pusing waktu itu. “Iya Lang. Gak apa-apa. Kalau ada apa-apa hubungi aku ya”, ujar Edo yang begitu perhatian terhadapku, hal itu sudah ku anggap biasa, karena dia adalah teman terbaikku.

Aku jadi sangat memikirkan perkataan Rara tadi. “Apa mungkin ini waktunya untuk aku kembali kerumah? Apa mungkin kedua orang tuaku sudah berubah, tidak akan ada keributan lagi? Apa mungkin, mungkin dan mungkin? Kenapa harus ada kata mungkin?”, aku mengacak-acak rambutku sendiri, berharap pikiranku tentang semua itu hilang.

Malam ini aku tidak bisa tidur. Seperti ada yang tak beres. Perasaanku pun tak enak.

“Kak Gilang kenapa belum tidur?”, tanya Doni yang terbangun dari tidurnya. “Perasaan kakak lagi gak enak Don. Apa bakal ada kejadian buruk ya?”, jelasku yang sedikit merasa cemas. “Anggap aja Cuma perasaan kakak. Yaudah kak, aku tidur lagi ya”, ujarnya dan tak lama tertidur.

Aku mencoba memejamkan mata. Berusaha untuk tertidur walaupun sejam dua jam.

Malam berganti pagi, dan sampai sekarang perasaan tak enak itu masih saja ada.

Tanpa berpamitan dengan Edo, Oding dan Doni, aku bergegas pergi kepersimpangan lampu merah. Namun, bukan untuk mengamen, aku hanya terduduk dipagar taman.

Tak lama kemudian, Rara datang dengan terburu-buru.

“Lang, ayo kamu ikut aku”, ajak Rara. “Mau kemana Ra?”, tanyaku heran. “Udah cepat naik Lang”, ajaknya lagi. Aku pun langsung naik ke motornya.

Ternyata Rara membawaku kerumah sakit.

“Ngapain kita kesini Ra? Siapa yang sakit?”, tanyaku semakin penasaran. “Nanti juga kamu bakal tau. Kamu ikutin aku aja ya”, sambil menarik tanganku, kami pun  berjalan menelusuri lorong  rumah sakit itu.

Setibanya didepan sebuah ruang pasien.

“Kamu bakal bisa jawab semua pertanyaan kamu tadi, kalau kamu liat siapa yang sedang terbaring ditempat tidur itu”, ujar Rara dengan serius.

Aku pun perlahan-lahan memasuki ruangan itu.

Aku sangat kaget ketika melihat seseorang yang terbaring dengan keadaan yang sangat memprihatinkan.

“Ya Tuhan. Apa yang terjadi dengan Gita? Apakah ini jawaban dari perasaan tak enak yang aku rasakan kemarin malam?”, batinku lirih.

“Kemarin malam Gita mengalami kecelakaan. Beginilah keadaannya sekarang, cukup parah. Dan belum ada tanda-tanda dia akan sadar. Sabar ya Lang”, jelas Rara sambil memegang pundakku.

Aku hanya terdiam melihat keadaan Gita yang seperti itu. Ingin rasanya menangis, tapi aku tahan, karena aku ingin terlihat tegar.

“Aku udah menghubungi orang tua kamu. Mungkin sebentar lagi mereka datang”, ujar Rara memberitahuku. Aku sedikit kaget dan langsung meninggalkan ruangan itu tanpa berpamitan pada Rara.

“Gilaang.. Kamu mau kemana?!”, teriak Rara padaku. Namun aku tak menghiraukannya.

“Maafkan aku Ra. Aku hanya belum siap untuk bertemu orang tuaku. Mungkin lusa aku akan kembali menjenguk Gita”, batinku.

Aku telah menceritakan semua kejadian ini kepada Edo, Oding dan Doni. Mereka semua menyuruhku untuk memberanikan diri bertemu kedua orang tuaku. Mereka juga sangat mendukungku, agar aku tetap semangat untuk menjalani hidup ini.

“Makasih ya teman. Aku gak akan pernah melupakan kalian”, dalam hatiku.

Esoknya, Rara menemuiku lagi. Sepertinya dia sangat ingin agar aku bisa kembali berkumpul lagi dengan keluargaku.

“Lang, sekarang ini yang terpenting adalah Gita. Kamu pikirkan saja dulu tentang Gita dan dengan keadaan dia yang sedang koma, paling tidak setiap saat kamu harus menyempatkan diri untuk menjenguknya. Masalah orang tua kamu, itu urusan belakangan”, pintanya padaku.

Aku terdiam sejenak. Memikirkan apa yang dikatakan Rara.

“Lang, kamu gak apa-apa kan?”, tanyanya padaku. “Oh, gak Ra. Aku gak kenapa-napa kok. Hanya sedikit merenungi perkataan kamu barusan. Ada benarnya juga. Thanks ya Ra”, jelasku dan tanpa sadar aku memegang tangan Rara. Rara terkejut dan menatapku, lalu mengangguk tersenyum.

Aku merasa ada yang berbeda saat aku menggenggam dan menatap matanya.

“Ah, paling cuma perasaanku saja. Mana mungkin aku yang seperti ini jatuh hati kepada seorang Rara, gadis baik hati dan penolong”, batinku dan berkhayal.

Sore itu, aku dan Rara menuju rumah sakit.

Aku melihat kedua orang tuaku sedang duduk didepan ruangan dimana Gita dirawat.

Lalu Rara menyuruhku mendatangi mereka.

Tadinya aku masih ragu. Namun, Rara menyemangatiku. Dan aku pun mendatangi mereka.

“Pa, ma..”, aku masih memanggil mereka, namun tiba-tiba mama memelukku. “Gilaang. Kamu kemana aja nak. Mama kangen kamu”, ujar mama. Papaku hanya mengelus pundakku. “Gilang juga kangen mama sama papa. Maafin Gilang ya ma, pa”, jawabku sambil menatap mereka berdua. “Kami yang seharusnya minta maaf sama kamu Lang. Karena kami selalu ribut dengan masalah yang seharusnya tidak perlu diributkan”, jelas papaku.

Syukurlah mereka mau memaafkanku. Kemudian, aku dan Rara saling pandang. Rara tersenyum padaku.

“Ya Tuhan. Terima kasih karena Engkau telah mengirimkan salah satu dari malaikatMu untuk menyadarkanku”, batinku.

Dan aku pun tersenyum pada Rara.

“Gimana keadaan Gita om?”, tanya Rara pada papaku. “Tadi keadaannya sempat kritis dan sekarang sedang diperiksa kembali oleh dokter. Mudah-mudahan saja ada perkembangan baik”, jelas papaku.

Tak lama, dokter pun keluar dari ruangan.

“Bagaimana keadaan Gita dok?”,tanyaku cemas. “Keadaannya sudah membaik. Tadi dia baru saja sadar dari komanya. Silahkan masuk untuk melihatnya”, jelas dokter dan menyuruh kami untuk masuk. “Terima kasih banyak dokter”, ujarku.

Kami semua masuk kedalam ruangan.

“Kak Gilang”, Gita memanggilku. “Iya Git. Maafin kakak ya. Kakak gak bisa jagain kamu”, ujarku padanya. “Kakak gak salah kok. Tapi aku mau kak Gilang balik lagi kerumah ya. Kita buat keluarga kita jadi utuh lagi. Mau ya kak”, pinta Gita padaku. Aku sempat melihat kearah Rara, mama juga papa. “Iya Gita. Kakak pasti balik kerumah dan kumpul bersama kamu, mama juga papa. Dan kakak janji gak akan kabur dari rumah lagi. Kakak bakal jagain adik kakak tersayang inii”, jelasku dan sangat yakin dengan apa yang aku ucapkan itu. Gita tersenyum.

Rara, mama dan papa pun tersenyum melihatku.

Esoknya, Rara menemaniku untuk menemui Edo, Oding juga Doni, aku ingin mengucapkan selamat tinggal pada mereka.

“Edo, Oding dan Doni. Aku udah putuskan bakal balik kerumah, berkumpul bersama keluargaku. Makasih banyak ya buat kebersamaan kita selama ini. Aku bakal merindukan kalian”, ujarku pada mereka dengan sedikit berat hati sebenarnya untuk meninggalkan mereka bertiga, tetapi ini lah kehidupanku yang sebenarnya.

“Syukurlah Lang kalau kamu sudah bisa ambil keputusan. Kita bertiga senang bisa kenal kamu Lang”, sambung Edo dan kelak dia lah yang akan memimpin genk kami itu. “Iya kak Gilang. Sering-sering mampir ya, bawain kita makanan, hehe”, ujar Oding yang iyakan juga oleh Doni. Aku dan Rara hanya tertawa.

Kemudian aku memegang kedua tangan Rara dan kali ini aku sadar.

“Ra, makasih banyak ya. Berkat kamu aku jadi sadar dan bisa kembali lagi ke keluargaku. “Iya Lang. Aku lakuin ini semua karena aku peduli sama kamu”, jawab Rara. “Dan aku berterima kasih juga sama dompet kamu ya. Karena dialah kita jadi bisa ketemu”, candaku. Rara pun tersenyum.

“Ra, kamu mau ya jadi pacar aku. Mau ya Ra. Please..”, pintaku dengan sangat pada Rara. “Eh, kamu kok maksa gitu. Iya iya, aku mau terima kamu Lang. Gak usah maksa gitu juga aku bakal nerima kamu”, jawabnya dengan balik bercanda.

Ketiga teman baikku juga ikut tersenyum-senyum melihat aku dan Rara.

Quote by me: “Hidup adalah perjalanan. Setiap detiknya adalah pelajaran yang harus dinikmati dengan sebaik-baiknya. Berbuat salah itu wajar. Dan akan ada saatnya kebaikan datang bersama kebahagiaan yang tiada terkira”.

8 comments :

  1. menarik, mengharukan, komplit

    really nice story

    ReplyDelete
  2. Ceritanya pengalaman hidup yang sangat menarik, dalam ceritanya banyak pelajaran yang bisa kita ambil untuk hidup kita semua, semoga bermanfaat.

    Follower 8, saya tunggu comment dan follow balinya di blog saya

    ReplyDelete
  3. ukeh dah nih...
    ampek terharu...
    :')
    asyik asyik..
    buat novel ja..
    laku pasti..
    ^_^

    ReplyDelete
  4. your post is nice.. :)
    keep share yaa, ^^
    di tunggu postingan-postingan yang lainnya..

    jangan lupa juga kunjungi website dunia bola kami..
    terima kasih.. :)

    ReplyDelete
  5. Anomin: hihii.. novelnya gak dulu deh.. belum sanggup :D
    terima kasih sarannya..

    ReplyDelete

Silahkan beri penilaian, kritik dan saran yang membangun. Mohon tidak menyertakan link aktif atau komentar spam. Terima kasih :)

My Instagram

Made with by OddThemes | Distributed by Gooyaabi Templates