Cat

19 March 2012

Cerpen: Gara-Gara Anak Jalanan


Pagi itu, aku terburu berangkat ke kampus. Dengan keadaan mobilku yang kotor, belum sempat kumandikan, tapi aku tetap pergi, karena ada beberapa urusan yang harus segera ku selesaikan. Ini tentang hidup dan matiku. Ya, tugas akhir. Seharusnya tahun kemarin aku sudah harus lulus kuliah, tapi hanya karena sesuatu hal yang baru kusadari bahwa semua itu tak benar-benar penting. Ini lah yang namanya menyesal diakhir, pikirku.



Aku biasa dipanggil Ubay, padahal nama sebenar ku itu Bayu. Tapi entah dari mana panggilan itu datang. Aku ini anak tunggal yang terlahir dari keluarga pekerja keras, terlalu keras malah. Kedua orang tuaku selalu sibuk dengan bisnis-bisnisnya, sehingga aku pun tak terurus. Tapi ya sudahlah, itu dunia mereka, bukan aku. Mungkin hal itu juga yang membuat sifatku seperti ini, keras kepala dan cuek.

Karena takut terlambat, aku pun melaju dengan kencang. Sekiranya diperempatan jalan, tiba-tiba aku mengerem mendadak, “Astaga”, aku menabrak seorang anak berumur belasan tahun yang hendak menyeberang. Tak lama, seorang gadis dengan motornya pun berhenti mencoba menyelamatkan anak itu, “Eh.. Turun kamu!”, bentak gadis itu. Aku pun turun dan membantunya menaikan anak itu kedalam mobil lalu mengantarkannya kerumah sakit.

Sesampainya dirumah sakit, gadis itu memarahiku habis-habisan, “Kamu itu gak punya mata atau gimana sih?! Masa ada anak yang mau nyeberang kamu tabrak aja. Untung aja dia masih bisa diselamatkan”, ujarnya kesal. “Memangnya kamu siapanya anak itu? Aku aja yang nabrak biasa-biasa aja”, ujarku. “Kamu tuh ya”, sambung gadis itu dengan ekspresi wajah kesalnya.

Dokter pun keluar dari ruangan. "Gimana dokter?", tanya sang gadis. Dokter pun menjawab, “Syukurlah anak itu tidak begitu parah lukanya. Setidaknya lusa baru bisa pulang”. “Terima kasih dok”, Ubay dan gadis itu pun menjawab serentak.

Aku pun beranjak pergi, “Kalo gitu aku pergi dulu ya. Lagian semuanya kan udah beres dan administrasinya pun sudah aku bayar”, ujarku. “Yaudah. Jangan ngebut-ngebut lagi!”, pesan gadis itu.

Sesampainya dikampus, aku pun langsung menemui pembimbingku. Namun sayang seribu sayang, beliau tak ada diruangannya. Tanpa ekspresi, aku pun bergegas pergi.

“Ubay!”, sapa Boni, seorang teman baikku, karena kami itu begitu dekat, sampai-sampai dia pun juga ikut-ikutan belum menyelesaikan kulaihnya. “Memang kami ini sangat-sangat kompak”, pikirku bangga.

“Ada apa Bon?”, tanyaku. “Kamu dicari Lila tuh dari tadi”, ujarnya. “Astaga. Ada dimana dia?”. “Tadi sih aku liat dia diparkiran”. “Yaudah, makasih ya Bon”, aku pun bergegas menuju parkiran.

Aku pun bertemu dengan Lila, dengan ekspresi wajah yang marah kepadaku. Dengan napas yang terengah-engah, “Sorry sorry. Tadi aku habis nabrak..”. Namun, Lila langsung memotong omonganku. “Duuh.. Udah udah udah, aku gak mau denger penjelasan kamu lagi. Aku mau kita putus!”, jawabnya kesal. “Putus? Yaudah”, ujarku santai. “Loh, kamu kok biasa aja gitu? Baay.. Bayuu..”, tanya Lila heran dan memanggil-manggilku berharap memohon kepadanya mungkin. Dengan perasaan tak menyesal sedikitpun, aku pun tak menghiraukannya.

Lila itu pacarku, yang sekarang mantan. Sejak 2 minggu lalu kami berpacaran. Aku rasa dia lah yang paling lama bertahan dibandingkan pacar-pacarku sebelumnya. Yaa, bertahan karena materi dan selalu berpikir dangkal. Ini kali kelimanya dia memutuskanku hanya karena hal kecil, tapi selalu dia juga yang meminta ku kembali padanya. “Dasar wanita aneh”, pikirku.

Sebenarnya aku hanya butuh perhatian. Namun, terkadang aku susah, sangat-sangat susah untuk membalas perhatian mereka. Mungkin karna sifatku yang terlalu cuek atau memang aku butuh seseorang yang memang tulus sayang padaku bukan karena uangku. Yaa, semoga saja kelak ada seorang wanita yang bisa menyadarkanku dari semua ketidakpastian hidupku ini, pikirku sadar.

Tugas akhirku ini berkaitan dengan photografi dan aku mengambil konsep tentang bagaimana kerasnya kehidupan anak-anak jalanan. Semoga kali ini aku bisa serius dan fokus, agar kuliahku juga bisa segera selesai, harapku.

“Bon, udah dapet belom anak jalanan yang mau kita tanyain?”, tanyaku pada Boni. “Belom ada Bay. Susah dapetinnya”, ujar Boni dengan wajah berbohongnya. “Emang dasar males aja kamu Bon”, tuduhku.

Aku sempat berpikir tentang anak yang kutabrak kemarin. Dari gaya-gayanya sepertinya dia itu anak jalanan. Mungkin saja dia bisa membantuku.

Sampailah dilokasi tempat ku menabrak anak itu. Namun, bukannya bertemu dengan anak itu, melainkan gadis yang bersamaku kemarin. “Kamu? Ngapain kamu disini? Nabrak orang lagi?”, tanyanya dan menebak-nebak. Aku meliriknya, “Sembarangan kamu. Aku kesini mau mencari anak yang ku tabrak kemarin”, tanyaku balik. “Oh, tunggu aja. Bentar lagi juga dia dateng”, ujarnya. “Dari mana kamu bisa tau? Apa kamu ada urusan juga sama anak itu?”, tanyaku penasaran. “Iya. Sebenarnya ini untuk tugas akhirku, tapi aku tak mau hanya sampai disini saja. Aku mau ngumpulin para anak-anak jalanan untuk bisa nerusin sekolah mereka tanpa harus memikirkan masalah biaya. Yaa dari pada mereka ngelakuin hal-hal yang gak jelas”, jelasnya. “Aku sedikit tersinggung memang. Namun kuabaikan. Masih ada ya gadis tulus seperti dia di dunia ini”, batinku.

“Eh.. Kamu sendiri kenapa nyari dia?”, tanyanya mengagetkanku. “Aku juga mau minta bantuannya untuk bahan tugas akhirku. Aku mau mencari objek sekaligus bertanya-tanya tentang kehidupan mereka selama menjadi anak jalanan. Berarti tujuan kita sama dong. Kalo gitu kita bareng aja ya. Aku juga gak begitu tau daerah sini”, jelasku sedikit memberi alasan. Gadis itu melirikku, melihat ku dari bawah sampai atas, seakan curiga, mungkin karena penampilanku yang sedikit urakan. “Tenang aja. Aku ini anak baik-baik kok. Cuma penampilan aja memang agak selengek-an”, ujarku seakan tau yang dia pikirkan. Gadis itu lalu tersenyum.

Tak lama kemudian, anak itu pun datang dengan seorang temannya.

“Naik mobil aku aja ya”, ajakku. “Boleh deh”, gadis itu pun langsung mengajak anak-anak tadi masuk kemobil.

Boni yang sedari tadi berada didalam mobil pun bertanya, “Eh, siapa mereka Bay?”, herannya. “Ini lah anak itu Bon. Dan gadis ini juga bisa bantuin kita buat TA kita ntar”. “Hai..”, sapa Boni. Gadis itu hanya tersenyum.

Sampailah kami ditempat pemukiman anak-anak jalanan. Memprihatinkan memang, miris dan sangat tak terurus.

“Hei! Kenapa bengong gitu? Baru pertama kali liat tempat yang kayak begini ya?”, ledek gadis itu. “Iya, masih ada ya tempat kayak gini dikota besar ini”, jawabku. “Ya beginilah kehidupan mereka. Ekspresiku pertama kali juga kayak kamu kok”, sambung gadis itu.

“Oh iya. Udah dari tadi ngobrol, tapi kita belum kenalan ya. Aku Bayu, panggil aja Ubay, ini temenku Boni”, aku pun menyodorkan tanganku. Namun, Boni terlalu lama menyalami gadis itu. “Eh Bon. Tangan kamu tuh. Lama banget nempelnya”. “Eh, sorry sorry”, Boni pun cengar-cengir. Sambil senyum-senyum, gadis itu menjawab, “Aku Sandra”.

Sebelum melakukan kegiatan, kami pun membersihkan tempat itu. Kemudian, Sandra mengajar anak-anak disana layaknya seorang guru disekolah. Sementara aku dan Boni mengambil beberapa objek disekitar pemukiman itu.

Dua jam sudah kami berada dipemukiman itu.

“Makasih ya udah bantuin aku sama anak-anak tadi”, ucap Sandra. “Iya San, sama-sama. Kami juga makasih karena kamu udah mau bantuin aku dan Boni”, ujarku berterima kasih balik. “Sandra, bareng kami aja, biar dianterin pulang sama Ubay”, samber Boni. Aku pun mengangguk seakan mengajaknya. “Aku bareng sampe depan kampusku aja deh. Tadi ban motorku bocor, makanya aku titipin sama penjaga kampus dan minta tolong menyuruhnya memperbaikinya. Gak jauh kok”, jelas Sandra. Kami pun berjalan menuju mobilku diparkirkan.

Sesampainya dikampus Sandra dan sebelum dia turun dari mobilku, “Sandra, boleh aku tau nomor handphone kamu?”, tanyaku. Boni senyum-senyum dan melirikku. “Boleh”, jawab Sandra. Langsung ku misscall nomor Sandra, “Itu nomorku”. “Makasih ya Ubay, Boni”, Sandra pun berlalu.

“Bay, kenapa kamu senyum-senyum gitu.. Kamu naksir ya sama Sandra? Nahlo, ngaku”, tebak Boni. “Entahlah Bon. Sepertinya iya”, jawabku sambil tersenyum. “Tuh kan. Dari tadi aku juga udah bisa baca gerak gerik kamu Bay. Tapi si Lila gimana?”, sambung Boni dan tertawa terbahak. “Lila kan udah mutusin aku Bon. Udah ah. Males cerita dia”, ujarku kesal. “Aku bilang juga apa. Si Lila itu Cuma mau morotin kamu aja”, sambung Boni.

“Bay, kita makan dulu deh. Laper banget akunya”, ajak Boni. “Ah, dasar kamu Bon, makan mulu pikirannya. Mana badan udah segede sapi gitu masih sering laper juga”, ejekku. “Ngeledek kamu Bay. Masih manusiawi kan yang namanya laper”, jawabnya membela diri. Aku hanya tertawa dan membelokkan setirku ke tempat makan dipinggir jalan.

Aku merasa lelah, makanya sesampainya dirumah, aku langsung merebahkan badanku diatas tempat tidur.

Tak lama kemudian, aku pun melihat hasil jepretanku tadi. Namun tanpa sadar, ternyata aku lebih banyak memotret Sandra pada saat mengajar. Aku pun kaget, “Apa-apaan ini. Kenapa yang kuambil gambar Sandra semua. Wah.. Kacau”, dalam hatiku. “Tapi kalo diliat-liat sih, cantik juga ini anak ya, baik banget lagi. Jadi gak nyesel deh ngambil fotonya segini banyak”, pikirku, dan senyum-senyum sendiri.

Esok paginya sampai dikampus, tiba-tiba Lila mendatangiku. “Bayu, maafin aku ya kemarin marah-marah sama kamu”, ujarnya. Namun, ku tak menghiraukannya.

Sesaat kemudian, ponselku berbunyi, “Halo, Ubay. Bisa tolong kamu dateng kepemukiman? Aku butuh bantuan kamu. Ada salah satu anak jatuh dari rumah pohon”. Sandra menelponku dengan tergesa-gesa. “Iya iya, aku segera kesana”, jawabku sedikit panik dan langsung menuju kepemukiman.

“Untungnya anak itu masih bisa tertolong ya San”, ujarku. “Iya Bay, ini kan berkat kamu juga, karena udah mau bantu bawa dia kerumah sakit”, sambung Sandra. Aku pun tersenyum, “Ya gak apa-apa San. Kamu kan juga udah bantu aku kemarin”, jawabku.

Tak lama kemudian teman-teman dari anak itu pun datang. Namun diujung lorong, aku melihat Lila berjalan menuju kearahku, dengan wajahnya yang terlihat kesal, seakan-akan segera mendaratkan pukulan keras kewajahku, khayalku dan sebenarnya tak akan mungkin terjadi.

“Jadi karena wanita ini kamu jadi sering lupa jemput aku”, ujar Lila dengan melirik habis Sandra. Sandra bingung dengan obrolan aku dan Lila. “Kita kan udah gak ada hubungan apa-apa lagi La. Lagian kamu kan yang mutusin aku kemarin”, jelasku, dan berharap Sandra tak berpikir aneh-aneh tentangku. “Iya. Tapi aku nyesel udah mutusin kamu Bay. Maafin aku ya Bay. Aku mohon”, jelasnya memohon dan memegang tanganku. Aku mengabaikannya dan menarik tangan Sandra, “Ayo San. Kita pergi aja dari sini”, ajakku. Lila terdiam, namun wajahnya tetap terlihat kesal.

“Sorry ya San, tadi ada kekacauan sedikit. Dia itu bukan siapa-siapa kok. Orang yang gak penting”, jelasku pada Sandra. “Gak apa-apa Bay. Tapi, apa kamu yakin dia itu beneran udah gak penting lagi buat kamu?”, tanyanya dan membuat ku berpikir apa maksud dari pertanyaannya itu. “Beneran San. Sekarang yang terpenting dihidup aku itu ya kamu”, “jawabku dan bukan sekedar ngegombal. Sandra tersenyum, “Ada-ada aja kamu Bay”. Aku juga tersenyum.

Sehabis menjemput Ali dari rumah sakit, aku, Sandra juga Boni, langsung mengantarnya ke pemukiman anak-anak jalanan, karena keadaannya yang sudahnmembaik. Sekaligus aku, Sandra dan Boni ingin menanyakan beberapa pertanyaan kepada salah seorang anak, tentang tugas akhir kami.

Ternyata banyak jawaban juga pernyataan-pernyataan dari mereka yang bahkan tak mungkin menjadikan mereka seperti sekarang ini. Predikat anak jalanan itu bahkan tak pantas untuk mereka sandang. Tapi, ini semua karena keadaan yang mau tak mau harus mereka jalankan.

Misalnya Ali. Umurnya baru menginjak 12 tahun, bisa dibilang dulunya dia berasal dari keluarga yang berada. Namun, semenjak kedua orang tuanya berpisah, dia ikut bersama ayahnya. Saat dia berumur 9 tahun, dia lalu dititipkan ke panti asuhan dengan alasan ayahnya tak sanggup lagi membiayai sekolahnya. Dia lalu melarikan diri dari panti tersebut, dikarenakan keadaan di panti yang cukup keras. Barulah itu dia bertemu dengan teman-teman yang senasib dengannya. Lalu mereka membuat permukiman ini sampai sekarang, tanpa ada pengawasan dari siapapun. Ada sekitar 15 orang dan mereka berumur sekitar 8 sampai 15 tahun.

Dengan keadaan serba berkecukupan, seperti layaknya anak kost. Namun, mereka tak pernah melakukan hal-hal yang tidak terpuji, seperti mencuri atau hal lain yang negatif. Mereka menggantungkan nasib mereka hanya sebagai pengamen, baik ditraffict light atau ditempat-tempat makan dipinggir jalan. Yang paling terpenting dan merupakan sebuah nilai plus untuk mereka adalah selalu mengutamakan kebersamaan.

Satu harian sudah kami berada dipemukiman itu.

“Cukup sedih mendengar cerita si Ali tadi ya Bay, Bon”, ujar Sandra. Boni mengangguk. “Iya San. Sangat tak disangka-sangka ya jawaban dari Ali”, sambungku. “Yaudah yuk kita pulang. Besok kita balik lagi kesini”, ujarku. “Memangnya ada apa Bay?”, tanya Sandra penasaran. Boni pun ikut-ikutan penasaran. “Udaah, pokoknya dateng aja besok siang”, aku pun tersenyum. Sandra dan Boni pun saling pandang dengan ekspresi heran dan kemudian mengiyakan.

“Halo, Bon.. Besok temenin aku kepemukiman ya. aku mau bikin kejutan untuk Sandra dan sekaligus ingin meyatakan perasaanku padanya”, ceritaku pada Boni. “Wah wah, ada yang lagi kasmaran ternyata. Lagian tumben nih kamu mau bela-belain bikin beginian untuk seorang cewek. Tapi ok lah, aku pasti bantuin kamu Bay. Aku bakalan kompakin anak-anak ya”, ledek Boni sekaligus memberi saran. “Ngeledek aja kamu Bon. Tapi kamu memang temenku yang terbaik deh Bon”, ujarku. “Tapi, jangan lupa bawa makanan ya Bay”, pintanya. “Aah, dasar kamu Bon. Tapi, ok lah. Untuk kali ini aja aku mau nurutin kamu”, ujarku bercanda.

Saat semuanya sudah tersusun rapi.

Sandra pun datang. “Loh.. Kok sepi. Pada kemana ya semua?”, tanya Sandra heran.

Aku pun memberi kode kepada semua untuk menyalakan lampu hias disekitar pemukiman.

Sandra terkejut ketika melihat kami semua keluar dari tempat persembunyian.

Tiba saatnya aku pun keluar lalu menghampiri Sandra.

Kupegang kedua tangan Sandra. “Maaf kalo ini bikin kamu kaget. Aku kompakin Boni dan anak-anak untuk membuat semua ini”, jelasku. “Iya. Aku kaget banget. Trus untuk apa semua ini Bay?”, tanyanya seakan tak bisa menebak perasaanku. “Pertama aku kenal kamu, rasanya hari-hari aku jadi beda. Apalagi setelah melihat ketulusan kamu yang ingin mengajar untuk anak-anak disini. Dari situ aku sadar dan ingin berbuat lebih banyak hal baik selagi aku bisa. Makasih ya San”, ku genggam erat tangan Sandra. “Iya Bay. Tapi itu semua kan karena kemauan kamu sendiri”, sambungnya.

“Sandra.. Kamu mau jadi pacar aku?”, langsung ku nyatakan perasaanku. Sandra terdiam seakan berpikir. “Maaf Bay. Aku gak bisa”, jawab Sandra. Aku sedikit kecewa mendengar jawabannya. “Kamu udah punya pacar ya?”, tanyaku. Sandra pun terdiam lagi, “Maksud aku. Aku gak bisa nolak kamu Ubay”, sambung Sandra lagi dengan tersenyum tersipu. Seketika rasa kecewaku pun berubah menjadi kebahagiaan.

“Tapii, ada syaratnya”, sambungnya lagi. “Aku pasti mau ikutin persyaratan kamu itu San”, jawabku semangat. “Kamu mau bantuin aku ngajarin dan ngurus tempat ini”, ujarnya. Aku pun mengangguk dan tersenyum.

Kemudian disambut sorakan dari Boni dan juga anak-anak, “Hore.. Makan-makan ya Bay”, ajak Boni. Aku dan Sandra pun tertawa dan akhirnya kami berpelukan.

7 comments:

Silahkan beri penilaian, masukan dan saran yang membangun. Mohon tidak menyertakan link aktif atau komentar spam. Terima kasih :)